1
1

Lanskap Perdagangan Digital Kian Terfragmentasi, Ternyata Ini Penyebabnya!

Ilustrasi. | Foto: Freepik

Media Asuransi, JAKARTA – Chief Operating Officer SIRCLO Danang Cahyono menyatakan meningkatnya ekspektasi konsumen, beragamnya kanal belanja, serta percepatan adopsi omnichannel kerap membuat lanskap perdagangan digital semakin terfragmentasi.

“Namun, hal ini sejatinya membuka ruang bagi para pelaku usaha untuk memahami perilaku konsumen secara lebih mendalam dan merumuskan strategi yang lebih adaptif,” kata Danang, dikutip dari keterangan resminya, di Jakarta, Senin, 22 Desember 2025.

Melalui SIRCLO Insights Webinar, tambahnya, SIRCLO bermaksud menghadirkan perspektif yang harapannya dapat membantu para pelaku usaha membangun fondasi pertumbuhan yang terintegrasi dan efisien yang ditopang oleh teknologi guna menciptakan pertumbuhan jangka panjang.

Sepanjang 2025, sektor perdagangan Indonesia, khususnya e-commerce, masih menunjukkan pertumbuhan yang bergerak stabil. Bank Indonesia mencatatkan pada kuartal III/2025 transaksi e-commerce mencapai Rp134,67 triliun atau tumbuh 20,5 persen secara tahunan (YoY).

|Baca juga: Bank Neo Commerce (BBYB) Cetak Laba Rp517,2 Miliar di Oktober 2025

|Baca juga: RUPSLB Bank Mandiri (BMRI) Angkat Zulkifli Zaini Jadi Komisaris Utama

Hal ini mencerminkan penetrasi teknologi digital yang semakin luas menempatkan kanal daring sebagai salah satu pilar penting dalam perekonomian nasional, baik dari sisi konsumsi domestik maupun pemberdayaan pelaku usaha.

Plt. Direktur Perdagangan melalui Sistem Elektronik dan Perdagangan Jasa, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia Bambang Wisnubroto menyebutkan dengan tren pertumbuhan e-commerce yang melaju cepat, perubahan preferensi belanja konsumen, dan persaingan harga yang ketat memunculkan tantangan bagi lanskap perdagangan.

“Hal tersebut menuntut strategi yang meneyimbangkan perdagangan konvensional dan perdagangan melalui sistem elektronik (e-commerce), misalkan, melalui strategi omnichannel,” tukasnya.

Di tingkat konsumen, perkembangan ekosistem digital tercermin dari semakin luasnya basis pengguna internet dan kanal belanja daring. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi pengguna internet di Indonesia telah mencapai 80,66 persen.

Kondisi ini selaras dengan data Jakpat yang menunjukkan 95 persen konsumen melakukan transaksi daring pada semester I/2025. Tingginya penetrasi perangkat digital tersebut membentuk basis konsumen yang besar dan semakin terdistribusi di berbagai kanal penjualan.

Head of Research Jakpat Aska Primadi menekankan fragmentasi saluran belanja pada 2025 dipengaruhi oleh sejumlah dinamika yang saling beririsan, mulai dari pertumbuhan social commerce yang mendorong pola belanja berbasis hiburan hingga meluasnya penetrasi internet yang mempercepat pertumbuhan konsumen di kota-kota tier dua dan tiga.

“Di saat yang sama, konsumen juga semakin rasional dan selektif, sehingga kombinasi tersebut menciptakan konsumen yang lebih aktif mencari informasi, membandingkan pilihan, dan memastikan nilai produk sebelum melakukan pembelian,” jelasnya.

Sejalan dengan pergeseran perilaku konsumen, fragmentasi kanal belanja pada 2025 turut menghadirkan kompleksitas baru dalam proses consumer journey. Konsumen kini berpindah lintas kanal dalam satu siklus belanja yang sama, sehingga menuntut pengalaman yang konsisten sejak tahap pencarian produk hingga usai transaksi.

Kondisi ini mendorong pelaku usaha untuk meninjau kembali bagaimana setiap titik interaksi dikelola agar tetap relevan dengan ekspektasi konsumen yang semakin beragam.

Menanggapi dinamika tersebut, Danang Cahyono menilai, dalam praktiknya, perjalanan konsumen di tengah kanal yang semakin terfragmentasi menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha. Sepanjang 2025, SIRCLO melihat merek semakin aktif mengeksplorasi berbagai kanal untuk mempermudah konsumen dalam menemukan hingga memperoleh produk.

“Dalam kerangka ini, terdapat tiga komponen utama yang membentuk consumer journey, yaitu bagaimana membangun minat beli, memastikan proses transaksi berjalan lancar, serta menciptakan loyalitas usai transaksi. Ketika ketiganya dikelola terintegrasi, konsumen tetap dapat merasakan pengalaman yang konsisten, termasuk melakukan pembelian ulang,” tutupnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Cinema XXI Resmikan Bioskop Perdananya di Tuban
Next Post Kejar Penerimaan Negara, Pemerintah Genjot Pajak Orang Kaya dan Korporasi

Member Login

or