Media Asuransi, JAKARTA – Tunjangan Hari Raya (THR) yang segera diterima para pekerja dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk kebutuhan konsumsi saat Lebaran, tetapi juga sebagai momentum untuk mulai berinvestasi.
Pemerintah mewajibkan perusahaan membayarkan THR paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan, termasuk Idulfitri. Salah satu instrumen yang dinilai cukup populer di kalangan masyarakat adalah emas.
Laporan World Gold Council mencatat dua dari tiga orang Indonesia atau sekitar 67 persen telah memiliki investasi emas dalam berbagai bentuk, baik fisik maupun digital. Adapun kebiasaan berinvestasi dapat dimulai dari nominal kecil, termasuk dengan memanfaatkan dana THR.
|Baca juga: AAUI: Konflik Timur Tengah akan Memengaruhi Underwriting hingga Penyesuaian Premi Asuransi
|Baca juga: Konflik Geopolitik Diperkirakan Picu Kelumpuhan Rantai Pasokan Global
“Kebiasaan berinvestasi bisa dimulai dengan nominal kecil dan dilakukan terus-menerus, dan momentum THR adalah saat yang tepat untuk memulainya. Salah satunya dengan berinvestasi melalui fitur DANA eMAS,” ujar Head of Investment and Insurance DANA Ivan Kusuma, dalam keterangan resminya, Jumat, 6 Maret 206.
“Aksesnya mudah dan aman, sehingga bikin tenang dan cocok bagi investor pemula. Harapannya, langkah ini dapat membantu lebih banyak orang dalam membangun kebiasaan dan masa depan finansial yang lebih sehat,” tambah Ivan.
Di tengah momentum pencairan THR tersebut, terdapat beberapa hal yang dapat diperhatikan masyarakat agar dana yang diterima bisa dikelola secara lebih bijak, khususnya jika ingin mulai berinvestasi emas.
Tentukan tujuan investasi = langkah awal kelola THR dengan bijak
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menentukan tujuan investasi sejak awal. Hal ini penting agar dana THR tidak diperlakukan sebagai uang tambahan yang langsung habis untuk konsumsi.
Salah satu cara sederhana yang dapat diterapkan adalah membagi dana THR ke dalam beberapa pos pengeluaran. Misalnya sekitar 40 persen untuk kebutuhan hari raya, 30 persen untuk tabungan atau dana darurat, 20 persen untuk investasi, dan 10 persen untuk kegiatan sosial seperti sedekah.
|Baca juga: Bank Neo Commerce (BBYB) Resmi Masuk Indeks Economic 30 BEI
|Baca juga: Pengamat Sebut Asuransi Maritim, Pesawat, hingga Perjalanan akan Terhantam Keras Perang AS-Israel vs Iran
Dari porsi investasi tersebut, masyarakat dapat menentukan tujuan yang ingin dicapai, misalnya, untuk dana darurat, biaya pendidikan, atau kebutuhan jangka panjang. Tujuan yang jelas juga membantu investor menjaga konsistensi sehingga investasi emas tidak mudah dicairkan untuk kebutuhan yang bersifat impulsif.
Mulai dari nominal kecil agar konsisten
Investasi emas tidak selalu membutuhkan modal besar. Bagi investor pemula, memulai dari nominal kecil justru dinilai lebih efektif untuk membangun kebiasaan berinvestasi secara bertahap. Selain itu, emas juga kerap dipilih sebagai instrumen investasi jangka panjang karena dinilai mampu menjaga nilai aset dari dampak inflasi.
Pahami jangka waktu dan pergerakan harga emas
Meski dikenal sebagai instrumen investasi yang relatif stabil dan tahan inflasi, harga emas tetap mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Karena itu, investor perlu memahami karakteristik investasi emas serta memantau pergerakan harganya secara berkala. Secara historis, harga emas dalam periode jangka panjang, khususnya lebih dari lima tahun, cenderung menunjukkan tren yang positif.
Pilih cara pembelian yang praktis dan aman
Selain memahami strategi investasi, faktor keamanan dalam bertransaksi juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Saat ini tersedia berbagai platform digital yang memungkinkan masyarakat membeli emas secara praktis.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
