1
1

Visa Komitmen Sediakan Pembayaran Digital yang Aman untuk Dukung Ekonomi Indonesia

Country Manager Visa Indonesia Vira Widiyasari. | Foto: Visa Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Visa (NYSE: V) berkomitmen mendukung percepatan transformasi digital Indonesia. Hal itu dengan menghadirkan wawasan global dan praktik terbaik kepada para mitra di Indonesia.

Salah satu upaya untuk memperkuat kolaborasi lintas industri, Visa menyelenggarakan Industry Risk & Digital Forum yang mempertemukan pegiat dari perbankan, fintech, penyedia layanan pembayaran, serta regulator.

Forum ini menjadi platform strategis bagi komunitas jasa keuangan Indonesia untuk bertukar wawasan dan meningkatkan kesiapan kolektif seiring meluasnya penggunaan pembayaran digital melalui kartu, dompet digital, QR, hingga jaringan real‑time A2A. Ekonomi digital Indonesia kini memasuki era baru yang lebih luas dan lebih matang.

Dengan QRIS yang telah menjangkau puluhan juta merchant, BI-FAST yang memungkinkan transfer real-time berbiaya rendah, serta dompet digital yang semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, Indonesia bergerak cepat menuju standar kota digital kelas dunia.

|Baca juga: Bos OJK Yakin Kinerja Asuransi Kendaraan Tetap Ciamik di 2026

|Baca juga: Makin Tajir Melintir, Preskom BCA Jahja Setiaatmadja Borong 67.000 Saham BBCA!

Seiring dengan percepatan momentum ini, memastikan pembayaran digital yang terpercaya, aman, dan saling terhubung menjadi semakin penting, baik untuk melindungi konsumen, memberdayakan UMKM, maupun menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Kebutuhan ini menjadi semakin jelas ketika melihat bagaimana pertumbuhan pembayaran digital di Indonesia terus meningkat secara signifikan. Transaksi melalui kartu, dompet digital, QRIS, mobile banking, dan internet banking tumbuh 26 persen secara tahunan (YoY), mencapai Rp7.000 triliun.

Momentum yang lebih kuat terlihat pada pembayaran real-time A2A, yang melonjak 37 persen YoY menjadi Rp12 ribu triliun. Namun, ekspansi pesat ini juga menghadirkan tantangan baru.

Berdasarkan data dari Indonesia Anti-Scam Center (IASC) – OJK, lebih dari 400 ribu laporan penipuan daring tercatat sepanjang tahun lalu, dengan total kerugian mencapai Rp9,1 triliun. Tren ini menegaskan pentingnya keamanan yang tepercaya serta kolaborasi lintas industri seiring meluasnya adopsi pembayaran digital di seluruh Indonesia.

Wawasan global yang dipaparkan dalam forum menunjukkan kejahatan siber berevolusi dengan kecepatan dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jaringan kriminal kini beroperasi menggunakan infrastruktur sistematis berskala industri termasuk botnet, skrip otomatis, dan alat berbasis AI.

|Baca juga: Direktur Alam Sutera Realty Borong 2 Juta Lembar Saham ASRI

|Baca juga: OJK Pelototi Perusahaan Asuransi yang Belum Memenuhi Ketentuan Ekuitas Tahap I di 2026

Penyebutan istilah ‘AI Agent’ meningkat 477 persen, menandai pesatnya pertumbuhan taktik rekayasa sosial berbasis AI, ekstraksi data otomatis, dan kapabilitas serangan lainnya. Dalam hal ini, Visa berkomitmen memastikan kemajuan digital Indonesia dibangun di atas fondasi kepercayaan.

“Dengan membawa wawasan global dan kapabilitas keamanan canggih kepada para mitra lokal, kami membantu menghadirkan pengalaman yang lebih aman dan lebih seamless bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Country Manager Visa Indonesia Vira Widiyasari, dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis, 4 Februari 2026.

Indonesia adalah salah satu pasar pembayaran digital paling dinamis di Asia Pasifik. Dengan inovasi yang berkembang begitu cepat di seluruh ekosistem, semua pihak terkait harus tetap selangkah lebih maju dari ancaman yang semakin canggih, termasuk yang didorong oleh AI.

|Baca juga: OJK Tepis Isu Asuransi Wajib Wisatawan Asing Hanya Untungkan Joint Venture

|Baca juga: Bos OJK Pede Kinerja Industri Asuransi RI Cerah, tapi Syaratnya Ini!

“Ketika inovasi berjalan beriringan dengan keamanan yang kuat dan kolaborasi, ekonomi digital dapat tumbuh dengan kepercayaan yang berkelanjutan,” kata Head of Risk, Regional Southeast Asia, Visa Abdul Rahim yang juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pasar.

Head of Risk Visa Indonesia Nitia menyebutkan keamanan adalah fondasi utama pembayaran digital. Seiring pertumbuhan QRIS, dompet digital, dan pembayaran real‑time, masyarakat Indonesia perlu merasa yakin bahwa setiap transaksi terlindungi.

“Dengan menggabungkan intelijen global dan kemitraan lokal, kami membantu issuer, acquirer, dan fintech mendeteksi ancaman lebih awal dan mencegah penipuan sebelum berdampak pada konsumen dan pelaku usaha,” pungkas Nitia.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Rapat Direksi BEI Tunjuk Jeffrey Hendrik Jadi Pjs Dirut
Next Post OJK: Dinamika Ekonomi Dorong Industri Asuransi Hadirkan Produk Lebih Sederhana dan Fleksibel

Member Login

or