1
1

10 Penyebab Umum Karyawan Ajukan Resign, Para Bos Wajib Baca!

Ilustrasi. | Foto: Freepik

Media Asuransi, JAKARTATurnover karyawan adalah salah satu tantangan terbesar dalam manajemen SDM. Setiap kali karyawan resign, perusahaan tidak hanya kehilangan seorang individu, tetapi juga pengetahuan, produktivitas, waktu, biaya rekrutmen, dan stabilitas tim.

Bahkan menurut berbagai studi HR global, biaya penggantian satu karyawan dapat mencapai 30-200 persen dari total gaji tahunannya, tergantung level posisi. Karena itu, sangat penting bagi HR dan manajemen untuk benar-benar memahami mengapa karyawan memutuskan resign.

Dengan mengetahui penyebabnya secara mendalam, perusahaan dapat mengambil langkah preventif, memperbaiki manajemen, meningkatkan retensi, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.

Melansir Jobseeker, Kamis, 2 April 2026, berikut adalah 10 penyebab karyawan resign paling umum di perusahaan Indonesia:

1. Gaji tidak kompetitif & minim benefit

Gaji adalah salah satu faktor paling sensitif dalam hubungan perusahaan dan karyawan. Ketika karyawan merasa bahwa kompensasi yang diterima tidak sebanding dengan beban kerja, tingkat kesulitan pekerjaan, atau standar gaji di industri, mereka mulai mencari peluang lain.

|Baca juga: Ini 6 Langkah Efektif Lunasi Utang Kartu Kredit Anti Molor

|Baca juga: Cara Menghitung Dana Pensiun agar Kebutuhan Hidup di Masa Tua Tetap Terpenuhi

Masalahnya bukan hanya jumlah gaji, tetapi juga kurangnya struktur yang adil dan transparan. Misalnya, perusahaan tidak memiliki salary band, penyesuaian gaji jarang diberikan, atau hanya diberikan berdasarkan negosiasi, bukan pada hasil kinerja terukur. Karyawan yang merasa gajinya stagnan akan merasa kontribusinya tidak dihargai.

Selain itu, benefit juga kini menjadi pertimbangan besar. Karyawan berharap mendapatkan, BPJS Kesehatan & Ketenagakerjaan, tunjangan transportasi, tunjangan makan, bonus kinerja yang realistis, asuransi kesehatan untuk keluarga, dan fasilitas kerja yang mendukung Ketika benefit tidak memadai, karyawan merasa perusahaan tidak peduli dengan kesejahteraan mereka.

2. Tidak ada pengembangan karier atau jalur promosi

Salah satu alasan resign terbesar adalah ketika karyawan merasa masa depan mereka buntu. Mereka tidak melihat peluang untuk naik jabatan, belajar pengalaman baru, atau mendapatkan lebih banyak tanggung jawab. Bahkan karyawan yang menyukai pekerjaannya pun dapat memilih resign jika mereka merasa kariernya tidak berkembang.

Beberapa masalah umum seperti, tidak ada career path yang jelas, promosi hanya berdasarkan kedekatan dengan pimpinan, pelatihan atau sertifikasi tidak pernah disediakan, karyawan berprestasi tetap berada pada posisi yang sama bertahun-tahun, perusahaan selalu merekrut pimpinan dari luar, bukan internal

|Baca juga: Biaya Asuransi Melonjak saat Pemilik Kapal Wajib Dapat Izin dari Iran untuk Melintasi Hormuz

|Baca juga: OJK Catat Pembiayaan Program Prioritas Pemerintah Capai Rp177,38 Triliun hingga Januari 2026

Karyawan generasi sekarang (Milenial dan Gen Z) sangat mendambakan peningkatan kemampuan dan jenjang karier. Tanpa itu, mereka merasa perusahaan tidak memberi nilai tambah untuk masa depan.

3. Lingkungan kerja tidak kondusif atau toxic culture

Lingkungan kerja toxic adalah penyebab resign paling cepat dan paling fatal. Tidak peduli seberapa besar gaji yang ditawarkan, karyawan akan meninggalkan perusahaan jika lingkungan kerjanya membuat stres secara mental maupun fisik.

Karakteristik lingkungan toxic meliputi atasan atau rekan kerja sering marah tanpa alasan, budaya gosip dan politik kantor, tidak ada kolaborasi antartim, tidak ada budaya saling menghargai, jam kerja panjang tetapi tidak ada kompensasi, dan beban kerja tidak merata.

Lingkungan toxic membuat karyawan merasa tertekan setiap hari. Tekanan mental seperti ini tidak bisa dipertahankan dalam jangka panjang sehingga resign menjadi pilihan paling rasional.

4. Hubungan buruk dengan atasan

Ada pepatah HR yang sangat terkenal yakni ‘people don’t leave jobs, they leave managers‘. Gaya kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan dan produktivitas karyawan. Atasan yang tidak kompeten dalam memimpin dapat membuat karyawan merasa tidak dihargai, tidak didengar, atau tidak dipercaya.

Gaya manajemen yang memicu resign seperti micromanaging berlebihan, atasan tidak memberikan arahan kerja yang jelas, tidak pernah memberi feedback positif, mengambil kredit dari kerja tim, tidak adil dalam pembagian workload, dan tidak mau mendengarkan pendapat bawahan.

5. Beban kerja berlebihan & burnout

Burnout kini menjadi salah satu penyebab resign paling umum, terutama di era digital dengan tuntutan kerja sangat tinggi. Situasi yang memicu burnout seperti lembur terus menerus, jam kerja tidak jelas, target tidak realistis, kekurangan tenaga kerja tetapi tuntutan tetap tinggi, banyaknya pekerjaan administratif manual, dan tidak ada dukungan tools rekrutmen, CRM, atau sistem HR. Burnout bukan hanya membuat karyawan resign, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental dan fisik mereka.

6. Job description tidak jelas atau mismatch

Salah satu penyebab resign paling awal (3–6 bulan pertama) adalah ketika pekerjaan sebenarnya berbeda dengan apa yang dijelaskan pada saat proses rekrutmen. Kasus yang sering terjadi seperti staf admin ternyata merangkap HR, purchasing, dan finance.

|Baca juga: Bos AAUI Sebut Digitalisasi Bakal Topang Jalur Keagenan dan Bancassurance di 2026

|Baca juga: Pulihkan Harga Minyak, Program Asuransi AS untuk Kapal di Selat Hormuz Siap Meluncur

Selain itu, staff marketing ternyata harus handle customer service, posisi social media tetapi dikerjakan seperti content creator + designer + editor. Sehingga ketidakjelasan jobdesc membuat karyawan merasa dibohongi dan tidak memiliki arah yang jelas dalam bekerja.

7. Kurangnya work life balance

Tren HR saat ini ‘generasi modern tidak ingin hidup untuk bekerja’. Mereka menginginkan keseimbangan, terutama setelah pandemi mengubah cara berpikir tentang kesehatan mental dan waktu pribadi.

8. Perusahaan tidak stabil atau tidak punya arah jelas

Stabilitas perusahaan sangat memengaruhi keputusan bekerja jangka panjang. Ketidakjelasan arah perusahaan sering membuat karyawan merasa masa depannya tidak aman.

|Baca juga: Bidik Rp68,4 Miliar, Asuransi Digital Bersama (YOII) Siap Right Issue

|Baca juga: JMA Syariah Berpotensi Terlambat Sampaikan Laporan Keuangan Audit 2025, Ada Apa?

Tanda-tanda perusahaan tidak stabil yakni PHK besar-besaran, target berubah setiap minggu, perusahaan kehilangan banyak klien, struktur organisasi sering berubah, keuangan tidak transparan, dan performa bisnis turun.

9. Budaya perusahaan tidak sejalan dengan nilai pribadi

Setiap karyawan memiliki nilai hidup yang berbeda. Ketika nilai perusahaan bertentangan dengan prinsip pribadi, karyawan tidak akan bertahan lama. Contoh konflik nilai, yakni perusahaan terlalu agresif dalam bisnis, sementara karyawan ingin keseimbangan.

10. Tawaran lebih menarik dari perusahaan lain

Alasan paling klasik yakni perusahaan lain menawarkan lebih baik. Hal itu bisa berupa gaji lebih tinggi, jenjang karier lebih cepat, work-life balance lebih baik, budaya kerja lebih sehat, lokasi lebih dekat, dan benefit lebih lengkap.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Kembali Melemah di Sesi I
Next Post Sudah Paham tapi Jarang Dipakai, OJK Ungkap Anomali Keuangan Syariah di Indonesia

Member Login

or