1
1

Dari Beban Kerja hingga Lingkungan, Ini Penyebab Karyawan Memilih Resign

Media Asuransi, JAKARTA – Pergerakan karyawan keluar dari perusahaan menjadi hal yang tidak bisa dihindari dalam dunia kerja. Salah satu bentuknya adalah pengunduran diri atau resign, yang merupakan hak setiap pekerja dan telah diatur dalam ketentuan perundang-undangan.

Berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 162 Ayat 3, karyawan dapat mengajukan pengunduran diri dengan memenuhi sejumlah persyaratan sebagai berikut:

  1. Mengajukan permohonan pengunduran diri secara tertulis selambat-lambatnya 30 hari sebelum tanggal mulai pengunduran diri.
  2. Tidak terikat dalam ikatan dinas.
  3. Tetap melaksanakan kewajibannya sampai tanggal mulai pengunduran diri.

Meski secara aturan telah jelas, namun keputusan untuk resign umumnya dipengaruhi oleh beragam faktor. Alasan tersebut tidak hanya datang dari satu sisi, melainkan bisa berasal dari berbagai kondisi yang saling berkaitan. Dari internal perusahaan, lingkungan kerja yang tidak nyaman kerap menjadi pemicu utama.

Sementara dari sisi individu, persoalan pribadi seperti masalah keluarga juga dapat mendorong seseorang untuk mengundurkan diri. Selain itu, faktor eksternal seperti adanya tawaran pekerjaan yang lebih baik atau peluang lain di luar perusahaan turut berkontribusi.

Berbagai latar belakang tersebut menunjukkan bahwa keputusan resign biasanya melalui proses pertimbangan yang tidak sederhana. Melansir laman Mekari Talenta, Minggu, 12 April 2026, berikut sejumlah faktor yang mendorong karyawan melakukan pengunduran diri:

Beban kerja terlalu berat

Penyebab utama seseorang karyawan memilih resign dari pekerjaan mereka umumnya adalah beban kerja yang terlalu besar. Kondisi ini sering terjadi di era kompetitif seperti sekarang, baik di perusahaan besar maupun dalam startup.

Meskipun karyawan Anda sangat menyukai bekerja atau workaholic, namun karyawan itu juga merupakan seorang manusia yang butuh istirahat dalam pekerjaan. Karena biasanya, karyawan yang giat bekerja, akan membuat atasan memberikan pekerjaan secara berlebihan tanpa mengetahui kemampuan karyawan tersebut.

Akan menjadi masalah ketika penambahan beban kerja ini dilakukan terus menerus. Karyawan akan merasakan lebih kelelahan dari biasanya. Jika hal ini terjadi terus menerus, karyawan tersebut tidak akan kuat baik secara mental dan fisik dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Meskipun, awalnya karyawan tersebut melakukan pekerjaan itu dengan sangat baik, namun hasil pekerjaan yang dilakukannya dalam kondisi yang lebih berat akan membuat kualitas hasil pekerjaannya menurun. Hal ini kemudian membuat karyawan tersebut memilih untuk mengundurkan diri.

Visi perusahaan tidak jelas

Alasan ini biasanya terjadi pada karyawan yang memiliki kepedulian pada pengembangan dirinya. Apabila perusahaan tidak memiliki visi yang jelas maka karyawan tersebut seperti melakukan sesuatu tanpa mempunyai tujuan.

Kondisi lingkungan kerja membosankan juga bisa menjadi penyebab karyawan resign

Karyawan bisa memutuskan untuk resign karena mereka merasa kurang tertantang dengan pekerjaan mereka saat ini. Bisa jadi pekerjaannya saat ini baik, kompensasinya baik, relasi kerja juga baik, tetapi memutuskan resign.

Banyak juga mereka yang sebenarnya memiliki keinginan untuk mendapat tantangan dan suasana kerja yang baru. Seorang karyawan yang profesional, baik di perusahaan besar maupun startup, tentu tidak ingin terjebak dalam kondisi yang stagnan selama bertahun-tahun.

Ada beberapa kondisi membosankan yang bisa terjadi. Seperti, seseorang melakukan rutinitas pekerjaan yang sama berulang-ulang tanpa merasakan perubahan. Hal ini merupakan penyebab utama seorang karyawan merasa jenuh yang bisa berujung resign.

Perusahaan tidak apresiatif

Seorang karyawan tentu ingin pekerjaannya mendapatkan perhatian dari perusahaan. Jika pekerjaan itu dilakukan dengan baik maka sepatutnya memang karyawan tersebut diberikan apresiasi. Minimnya apresiasi bisa membuat karyawan merasa pekerjaannya jika dilakukan dengan tidak baik pun tidak akan menjadi masalah.

Penghargaan bisa menjadi motivasi untuk terus melakukan yang terbaik saat bekerja. Pemberian apresiasi tak harus berupa kenaikan gaji atau insentif. Bisa dengan memberikan fasilitas terbaik di kantor, seperti laptop, sarana hiburan, dan lain-lain.

Apresiasi tidak harus selalu pada karyawan dengan pencapaian terbaik. Pemberian apresiasi pada keberhasilan sekecil apa pun, tentunya akan menambah semangat kerja bagi karyawan tersebut, dan kemudian dapat membuat hasil pekerjaannya akan lebih baik ke depannya.

Berbagai penyebab karyawan resign di atas bisa saja dihindari dengan koordinasi dan pemahaman menyeluruh pada karyawan perusahaan. Bagian personalia atau tim HR memiliki peran penting untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan cara mengelola data karyawan secara cermat dan akurat.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Ingin Beli Asuransi untuk Orang Lain? Coba Cek Dulu Informasi Berikut!
Next Post Sinergi Perbankan dan Asuransi Dinilai Jadi Kunci Perluasan Bisnis

Member Login

or