Media Asuransi, JAKARTA – Aliran dana warga negara Indonesia untuk berobat ke luar negeri masih tinggi dan mencapai sekitar US$10 miliar atau lebih dari Rp162 triliun per tahun. Data Kementerian Kesehatan mencatat besarnya pengeluaran tersebut menjadi salah satu tantangan bagi sistem kesehatan nasional.
Sejumlah kalangan menilai keterbatasan teknologi dan infrastruktur medis di dalam negeri menjadi faktor pendorong pasien mencari layanan kesehatan ke negara lain, terutama untuk penanganan penyakit kronis dan kasus kompleks.
Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital dr. Agus Rizal A.H. Hamid mengatakan beberapa jenis penyakit yang kerap membuat pasien memilih berobat ke luar negeri antara lain penyakit jantung, gangguan saluran pencernaan, serta kanker yang porsinya sekitar 12 persen.
“Sebenarnya kita lihat sejumlah penyakit yang membuat orang ingin berobat di luar negeri adalah jantung, saluran pencernaan, dan kanker sekitar 12 persen. Alasannya sebenarnya karena biasanya teknologinya tidak ada di Indonesia,” kata Agus dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat, 20 Februari 2026.
|Baca juga: BI Ramal Inflasi Ramadan dan Idulfitri 2026 Tetap Terkendali
|Baca juga: Ramalan BI: Imlek hingga Lebaran Bikin Ekonomi RI di Kuartal I/2026 Tetap Tinggi
Ia menilai adopsi teknologi medis di Indonesia masih tertinggal dari sejumlah negara tetangga. Malaysia, misalnya, pada 2025 mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar US$10,6 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar US$23 juta dialokasikan untuk rumah sakit guna pengadaan peralatan medis canggih dan direncanakan meningkat dua kali lipat.
“Ada data mengenai jumlah robot medis di Malaysia itu naik dua kali lipat dalam waktu dua tahun. Dan sekarang Malaysia menjadi negara terbanyak yang memiliki robot di Asia Tenggara,” ujar Agus.
Di sisi lain, pengembangan teknologi bedah berbasis robot mulai diimplementasikan di dalam negeri. Pada 2024, tercatat pelaksanaan telesurgery pertama ketika dokter di Bali melakukan operasi terhadap pasien di RSCM Jakarta dengan dukungan jaringan 5G.
Sebagai bagian dari penguatan layanan berbasis teknologi, Summit Robotic & Endourology Institute (SURE) diresmikan dan berfokus pada layanan urologi dengan dukungan bedah robotik.
CEO Eka Hospital Group drg. Rina Setiawati menyebut penggunaan sistem bedah robotik Da Vinci XI di fasilitas tersebut merupakan bagian dari peningkatan standar layanan.
“Kehadiran robot bedah Da Vinci XI di Eka Hospital MT Haryono mencerminkan komitmen kami untuk menghadirkan teknologi terkini yang telah menjadi gold standard di banyak rumah sakit global. Kehadiran teknologi ini membuat masyarakat Indonesia dapat memperoleh layanan setara internasional di dalam negeri,” kata Rina.
Secara klinis, penggunaan sistem robotik tersebut diklaim memberikan presisi tinggi dengan sayatan minimal, menurunkan risiko komplikasi, serta mempercepat masa pemulihan pasien.
Selain Da Vinci XI untuk penanganan kanker prostat dan prosedur urologi kompleks, jaringan rumah sakit ini juga mengoperasikan robot navigasi untuk bedah tulang belakang serta sistem VELYS untuk operasi penggantian lutut. Penguatan fasilitas ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menekan arus pasien yang berobat ke luar negeri.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
