Media Asuransi, JAKARTA – Chief Executive Officer (CEO) Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro OBE menilai pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini masih terlihat stabil, namun dibayangi lonjakan ketidakpastian yang signifikan.
Dalam paparannya pada webinar bertema ‘Economic Outlook 2026‘ yang digelar OJK Institute, ia menyebutkan, kondisi tersebut sebagai ketenangan yang menyimpan risiko di bawah permukaan. Menurut Donny, proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global diperkirakan tetap berada di kisaran 3,3 persen.
Secara angka, kondisi makroekonomi tampak relatif terkendali. Namun, di balik stabilitas tersebut, terdapat risiko laten yang semakin besar akibat meningkatnya ketidakpastian global.
Ia menjelaskan berbagai faktor menjadi pemicu naiknya tingkat ketidakpastian, mulai dari meningkatnya tensi geopolitik, potensi koreksi pasar keuangan, hingga dinamika politik di Amerika Serikat (AS).
|Baca juga: Dewan Ekonomi Nasional Sebut Ketidakpastian Global Takkan Mereda, Bagaimana Nasib RI?
|Baca juga: Bos BRI: Penetapan Premi Asuransi Parametrik Harus Lebih Granular
|Baca juga: Tok! BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di Level 4,75% pada Februari 2026
“(Semua faktor itu) yang menyebabkan terjadinya satu persepsi bahwa ketidakpastian berada pada level tertinggi,” kata Donny, Kamis, 19 Februari 2026.
Indikator yang memperkuat pandangan tersebut adalah Bloomberg Global Economic Uncertainty Index yang tercatat mencapai level tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Kondisi ini, kata Donny, membuat arah pergerakan ekonomi global semakin sulit diprediksi.
Donny menceritakan pengalamannya saat menghadiri pertemuan World Economic Forum di Davos yang turut mempertegas gambaran tersebut.
Ia menilai, isu utama yang berkembang bukan lagi sekadar perang dagang atau isu geopolitik spesifik, melainkan adanya kecemasan kolektif di kalangan pelaku pasar, pembuat kebijakan, dan pemimpin bisnis global.
“Di sana ada semacam underlying subconscious fear atau anxiety bahwa tahun ini apa pun bisa terjadi. Jadi memang glass ceiling-nya sudah tidak ada lagi,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Donny menilai, pendekatan manajemen risiko perlu diperbarui. Jika sebelumnya pelaku pasar hanya mengantisipasi black swan event sebagai kejadian langka berdampak besar, kini spektrum risiko dinilai lebih luas dan kompleks.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
