Media Asuransi, JAKARTA – Kepemimpinan yang buruk ada di sekitar kita dan ini kenyataan hidup yang cukup pahit. Pemimpin yang tidak baik atau tak kompeten biasanya lebih fokus pada kebutuhan personal dan bukan pada kebutuhan profesional yang ada di bawah mereka.
|Baca juga: Jajaran Direksi Bank J Trust Kompak Borong Saham BCIC
|Baca juga: Bos AAUI Pede Industri Asuransi Dapat ‘Berkah’ di Mudik Lebaran 2026
Mereka mengalami saat yang berat untuk mengembangkan karyawan karena kurangnya teknik manajemen yang baik untuk melakukannya. Padahal, pemimpin adalah seseorang yang akan Anda ikuti menuju tempat yang tidak ingin Anda kunjungi sendirian. Kepemimpinan adalah tentang tindakan bukan status.
Namun pertanyaannya adalah bagaimana kita tahu saat kita berkaitan dengan individu yang memiliki kekurangan ini. Seorang manajer yang buruk menghabiskan banyak waktunya untuk hal-hal yang dianggapnya membuat dia sibuk dan teratur.
|Baca juga: Kasus Jiwasraya hingga Wanaartha Disebut Kegagalan Sistemik Industri Asuransi
|Baca juga: Allianz Life Indonesia Upayakan Produk Asuransi Tetap Relevan dengan Kebutuhan Pasar
Melansir Pengusaha Muslim, Kamis, 2 April 2026, berikut 10 ciri-ciri pemimpin yang tidak kompeten:
- Mendelegasikan pekerjaan daripada menyeimbangkan beban kerja. Ini menyebabkan semua perhatian dialihkan dari mereka jika terjadi kegagalan. Mereka terlihat seperti mengatur orang tapi sesungguhnya mereka menciptakan ketidakseimbangan kerja dalam kelompok. Ini akan menyebabkan kelebihan waktu yang tidak diperlukan dan di bawah utilisasi yang lain. Manajer yang baik menyadari keterampilan yang dimiliki orang-orang di bawahnya dan harus mengalokasikan kerja saat mencoba untuk memperkaya keterampilan setiap orang agar menjadi lebih produktif.
- Mengurangi jawaban dengan memberikan jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’ daripada memberikan alasan penjelasan. Ini merupakan contoh krisis manajer yang tidak bisa berpikir lebih jauh daripada beberapa jam ke depan. Tipe ‘yes/no’ manajer ini hanya membuang waktu mereka untuk menemukan jawaban yang benar melalui pemikiran intelektual. Mereka sudah memikirkan krisis berikutnya.
- Tidak memisahkan kehidupan personal dengan kehidupan profesional. Mereka akan membawa masalah personal ke tempat kerja. Bekerja dengan tipe manajer seperti ini bisa jadi dramatis. Mereka tidak bisa memisahkan ketidakseimbangan emosional ketika mengatur orang-orangnya. Mereka kurang fokus dan tidak memberikan perhatian dan arahan yang Anda butuhkan untuk sukses.
- Mengelola krisis. Jika ada perusahaan yang mengalami krisis manajer maka Anda bisa mengucapkan selamat tinggal pada inovasi dan kemajuan. Pemikiran proaktif penting bagi kesuksesan perusahaan. Jika Anda tidak menemukan cara untuk menghentikan atau mengurangi jumlah krisis yang harus dikelola, maka kompetisi akan melewati Anda. Pemimpin harus berpikir di luar kotak dan membuat perubahan.
- Menciptakan lingkungan di mana kesalahan tidak bisa diterima. Bertanggungjawab atas keputusan yang salah adalah hal yang mereka takutkan. Membuat kesalahan hanya membantu Anda menjadi orang, manajer yang lebih baik dan sebagainya. Analoginya pemain basket yang tidak memiliki foul. Jika mereka tidak mengejar bola dan mengambil peluang dengan musuh mereka, maka mereka harus bekerja keras. Ambil peluang dan jangan takut.
- Merendahkan atau menegur karyawan dalam kelompok. Ini adalah tanda yang jelas dan bisa dilihat dari pemimpin yang buruk. Seorang pemimpin yang baik menjauhkan masalah karyawan dari kelompok menjadi bagian yang lebih pribadi.
- Tidak berdiri di balik bawahan saat mereka gagal. Jangan biarkan orang-orang Anda tanpa ketidakjelasan. Selalu berikan dukungan, benar, salah, atau tidak peduli. Jika seorang karyawan berusaha melakukan yang terbaik dalam sebuah situasi dan ternyata mereka gagal. Mereka harus dihargai atas upaya yang dilakukannya dan tidak dihukum atas kegagalannya.
- Mendorong bekerja dengan cerdas. Kerja keras ditentukan oleh waktu. Pekerja cerdas adalah mereka yang dihadirkan dan dipelihara. Pekerja cerdas memahami konsep manajemen waktu dan multi-tasking. Pekerja yang cerdas memiliki pemikiran yang metodologis dan biasanya sukses karena kemampuan mengelola proyek dan waktu. Pekerja keras membutuhkan waktu dua kali lebih banyak dalam melakukan pekerjaannya. Penting untuk menugaskan pekerjaan berdasarkan keterampilan dan kepribadian.
- Menilai orang dari jam kerja bukan kinerja. Manajer yang buruk akan mempromosikan karyawan yang bekerja dengan jam yang lama dan tidak memandang orang yang cerdas yang bekerja dengan waktu yang lebih sedikit, artinya memiliki manajemen pengaturan yang lebih baik.
- Bertindak dengan berbeda dihadapan para pemimpin mereka. Ini merupakan indikasi kepercayaan diri yang rendah. Mereka memiliki keraguan terhadap kemampuan memimpin mereka dan bertindak seperti anak kecil saat ditunjukkan otoritas. Orang yang percaya diri bertindak sama di orang sekelilingnya. Ingatlah, hormati mereka, tapi juga menghormati diri sendiri.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
