Media Asuransi, JAKARTA – Setiap atasan pasti memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Namun, pernahkah kamu menemukan sifat bos yang toxic, sehingga menimbulkan perasaan jenuh, gelisah, dan mudah tertekan?
Ketika kamu merasakan hal seperti ini, bisa jadi bos kamu mengalami toxic leadership. Hal ini dapat menciptakan budaya kerja di kantor menjadi kaku dan menimbulkan efek negatif. Lantas apa itu toxic leadership? Toxic leadership adalah perilaku negatif pada pemimpin dalam mengawasi dan memimpin karyawan.
Pemimpin dengan toxic leadership memiliki sifat arogan, mengintimidasi, memanipulasi, dan micromanaging. Perilaku toxic leadership menunjukkan sisi gelap pemimpin, memiliki sifat otoriter dalam memimpin, kasar dalam mengawasi karyawan, memiliki sifat narsistik, dan cenderung tidak mau mendengarkan masukan dari karyawan.
Pertanyaan berikutnya adalah apa penyebab bos mengalami toxic leadership? Hal ini disebabkan adanya persepsi budaya laki-laki harus menjadi pemimpin, sehingga adanya stigma laki-laki tidak boleh lemah dan harus menjadi pemenang dalam berbagai aktivitas.
|Baca juga: 10 Kondisi yang Menunjukkan Leadership Anda Perlu Diperbaiki
|Baca juga: Kamu Wajib Baca, Ini 10 Tanda Pemimpin yang Tidak Kompeten!
Selain itu, laki-laki juga harus memiliki stamina yang kuat, sehingga dapat mempengaruhi status dan jabatan, selalu menjadi pekerja paling terdepan, dan adanya budaya kerja Dog-Eat-Dog Competition, yaitu saling menghancurkan satu sama lain dalam mencapai kesuksesan. Hal ini dapat menyebabkan stres dan konflik di lingkungan kerja.
Mengutip Social Connect, Minggu, 12 April 2026, pada kasus toxic leadership, terdapat beberapa efek negatif yang dapat memengaruhi karyawan, seperti berikut ini:
1. Mengalami gangguan emosional
Pengaruh dari toxic leadership adalah karyawan mengalami perasaan tertekan, mudah gelisah, marah, dan takut terhadap tugas yang diberikan oleh atasan. Hal ini disebabkan terjadinya kehilangan kepercayaan pada sesama karyawan, kurangnya komunikasi antara atasan dengan karyawan, sehingga terjadinya ketimpangan kerja antarkaryawan.
2. Meragukan diri sendiri
Toxic leadership pada atasan juga dapat memengaruhi tingkat kepercayaan diri karyawan. Karyawan cenderung menarik diri, sensitif, kurang percaya diri, kurang motivasi, serta muncul perasaan terisolasi yang pada akhirnya dapat mengakibatkan munculnya gangguan kecemasan dan depresi pada karyawan.
3. Mengalami gangguan kesehatan
Toxic leadership juga dapat memengaruhi kesehatan pada karyawan. Rasa tertekan di lingkungan kerja dapat mengakibatkan penurunan imun tubuh sehingga karyawan lebih mudah terserang penyakit. Selain itu, stres dan tertekan di lingkungan kerja dapat menyebabkan terjadinya penurunan berat badan secara drastis, gangguan pada sistem pencernaan, dan insomnia pada karyawan.
Tindakan dalam menghadapi bos dengan toxic leadership
Dari beberapa efek yang disebabkan oleh bos dengan toxic leadership, kita pasti akan berpikir bagaimana cara menghindari perilaku toxic tersebut. Tidak sedikit karyawan yang memutuskan untuk resign dari tempat kerja karena permasalahan ini.
|Baca juga: Ini 6 Langkah Efektif Lunasi Utang Kartu Kredit Anti Molor
|Baca juga: Cara Menghitung Dana Pensiun agar Kebutuhan Hidup di Masa Tua Tetap Terpenuhi
Namun, ada beberapa tips yang dapat digunakan dalam menghadapi bos yang mengalami toxic leadership, yakni:
1. Hindari sifat mudah marah, tidak sabar, dan frustrasi
Gunakan kata-kata bijaksana dalam menilai, tetap bijaksana, dan profesional pada saat kamu mengalami frustrasi. Selain itu, cari penilaian dari sudut pandang yang berbeda dengan cara memberikan ide atau hobi yang sama agar tetap terhubung dengan atasan kamu sehingga dapat mengetahui permasalahan secara objektif.
2. Atur jadwal untuk bertemu dengan atasan kamu
Atur jadwal pertemuan dengan atasan di luar jam kerja bertujuan untuk melakukan pendekatan dan mengetahui ekspektasi atasan terhadap dirimu. Tanyakan jenis kinerja apa yang diharapkan darimu.
|Baca juga: Berikut 9 Ciri-ciri Pemimpin Toxic yang Wajib Kamu Hindari!
|Baca juga: 10 Cara Investasi Emas untuk Pemula, Aman, dan Menguntungkan
Pastikan atasanmu memahami sudut pandang kamu, pentingnya kehidupan pribadi, dan harapanmu terkait tuntutan pekerjaan. Pendekatan ini dilakukan guna memastikan kamu tidak akan mengalami penurunan jabatan karena tidak bekerja lembur.
3. Jangkau lebih banyak rekan kerja
Pada umumnya, kolega lain juga mengalami masalah yang sama dengan atasan mereka. Buatlah sebuah support-group guna memberikan dukungan antarkaryawan. Lakukan pertemuan dengan support-group sebelum dan setelah bekerja untuk membicarakan masalah secara konstruktif.
Kemudian, atur jadwal untuk bertemu dengan atasanmu guna menyampaikan aspirasi dan meminta umpan balik dari atasan, sehingga dapat menghasilkan jalan keluar dalam mengurangi konflik dalam bekerja.
Selain itu, usahakan untuk menahan diri agar tidak mengatakan hal-hal yang kejam seperti fitnah dan menyebarkan gosip. Hal ini dapat membantu membangun kerja sama secara profesional dan memecahkan masalah dengan atasanmu agar mengembangkan iklim kerja tim.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
