1
1

Konflik Timur Tengah dan Pelemahan Rupiah Berpotensi Tekan Daya Beli Masyarakat

Ilustrasi. | Foto: Freepik

Media Asuransi, JAKARTA – Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia ditambah pelemahan nilai tukar rupiah dapat berpotensi memicu kenaikan harga barang di dalam negeri.

Sehingga akhirnya, lanjutnya, dapat menekan daya beli masyarakat. Ia menjelaskan dampak konflik geopolitik terhadap harga barang di Indonesia terjadi melalui jalur distribusi dan logistik internasional.

|Baca juga: Rupiah Melemah, CELIOS Peringatkan IHSG Bisa Crash dan Industri Asuransi Terdampak

|Baca juga: AAUI Sebut Konflik Timur Tengah Belum Memengaruhi Bisnis Industri Asuransi Umum

Menurutnya, banyak barang yang dikonsumsi di dalam negeri yang masih bergantung pada impor, baik dalam bentuk barang jadi maupun bahan baku dan bahan penolong industri.

“Jadi ini pengaruhnya terkait dengan harga pengapalan sebenarnya. Karena ini kan banyak juga barang-barang yang diimpor, baik itu barang jadi, bahan baku, dan bahan penolong,” kata Huda, Selasa, 10 Maret 2026.

Ia menjelaskan ketika konflik mendorong kenaikan harga minyak dunia, biaya operasional kapal pengangkut barang (vessel) juga akan meningkat karena bahan bakar menjadi lebih mahal. Selain itu, premi asuransi pengiriman juga cenderung naik karena meningkatnya risiko geopolitik di jalur perdagangan internasional.

Situasi tersebut semakin kompleks ketika jalur pelayaran strategis, seperti Selat Hormuz, mengalami gangguan akibat konflik. Kapal pengangkut barang terkadang harus mengambil rute lebih jauh untuk menghindari wilayah berisiko, yang pada akhirnya meningkatkan biaya logistik.

|Baca juga: Rupiah Ambruk, Ekonom CELIOS Sebut Asuransi Mikro Bisa Jadi Penopang Daya Beli

|Baca juga: Allianz Indonesia Bagikan Tips Kelola THR untuk Dana Pendidikan Anak Sejak Dini

“Ketika terjadi kenaikan harga minyak, sudah pasti harga BBM untuk vessel juga akan naik, kemudian asuransi juga akan naik. Nah ketika Selat Hormuz itu ditahan maka ada beberapa (kapal) yang harus muter dan sebagainya, sehingga biayanya juga akan naik. Maka ini yang menyebabkan harganya meningkat,” jelasnya.

Kenaikan biaya distribusi tersebut pada akhirnya akan memengaruhi harga barang yang diterima produsen di dalam negeri. Dampaknya semakin besar ketika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dirinya menuturkan pelemahan rupiah biasanya dipicu oleh berbagai faktor, termasuk arus keluar modal atau capital outflow dari pasar domestik. Ketika nilai tukar melemah, biaya impor barang menjadi lebih mahal bagi pelaku usaha di dalam negeri.

“Jadi kalau misalkan rupiah itu melemah, pas pelayaran itu meningkat sudah pasti harga yang diterima oleh produsen dalam negeri juga akan meningkat. Nah ini yang disebut sebagai imported inflation,” kata Nailul.

Fenomena imported inflation adalah inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor atau biaya yang terkait dengan perdagangan internasional. Imported inflation dapat berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, mengingat banyak komoditas konsumsi di Indonesia yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Sebagai contoh, ia menyinggung produk pangan seperti tempe yang menggunakan kedelai impor sebagai bahan baku utama. Meski kedelai tidak berasal dari Timur Tengah, biaya pengirimannya tetap dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dan biaya logistik global.

Dengan meningkatnya harga barang dan tekanan inflasi yang lebih tinggi, daya beli masyarakat berpotensi menurun. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

“Nah itu yang menyebabkan harga dalam negeri juga meningkat, inflasi naik, daya beli juga menurun,” tutup Nailul.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Amar Bank (AMAR) Dorong Pemberdayaan UMKM Menuju Babak Baru Ekonomi Digital Indonesia
Next Post Ekonom CELIOS Ungkap Penyebab Fitch Turunkan Outlook Bank BUMN

Member Login

or