Media Asuransi, JAKARTA – Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Saka dalam kalender Saka yang digunakan umat Hindu sebagai acuan penanggalan. Lebih dari sekadar pergantian tahun, Nyepi dimaknai sebagai hari penyucian diri manusia dan alam semesta.
Momentum ini menjadi sarana refleksi untuk membersihkan diri dari kesalahan masa lalu dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru. Di Bali, Nyepi dijalankan melalui rangkaian upacara adat yang sarat makna. Setiap tahapan memiliki filosofi tersendiri yang menggambarkan proses penyucian secara lahir dan batin.
Melansir laman Kesrasetda Bulelengkab, Rabu, 18 Maret 2026, tahapan pertama adalah upacara Melasti yang dilaksanakan beberapa hari sebelum Nyepi. Dalam ritual ini, pratima atau simbol-simbol suci di pura dibawa ke laut atau sungai untuk disucikan.
Air laut diyakini sebagai sumber tirta amerta atau air kehidupan. Melasti melambangkan pembersihan diri dari segala kotoran dan energi negatif dengan memohon kesucian kepada Tuhan. Selanjutnya digelar upacara Tawur atau Mecaru yang bertujuan menyeimbangkan hubungan manusia dengan alam dan kekuatan Bhuta Kala.
|Baca juga: 9 Tips Mengatur Keuangan Keluarga di Awal 2026 agar Lebih Aman dan Terkendali
|Baca juga: Ternyata Ini Manfaat Punya Asuransi
|Baca juga: Lebih Aman dan Praktis, Ini 6 Manfaat Punya Rekening Tabungan
Upacara ini dilaksanakan pada Tilem Sasih Kesange, sehari sebelum Nyepi. Mecaru dilakukan di tingkat rumah tangga hingga desa sebagai simbol menetralisir unsur-unsur negatif agar tercipta keharmonisan.
Setelah Mecaru, masyarakat melaksanakan Pengerupukan. Ritual ini bermakna mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar. Tradisi ini biasanya ditandai dengan menaburkan nasi tawur, menyalakan obor, membunyikan alat-alat yang menimbulkan suara, hingga arak-arakan ogoh-ogoh di sejumlah wilayah.
Pengerupukan ini menjadi simbol pembersihan terakhir sebelum memasuki hari hening.
Puncak perayaan adalah Hari Raya Nyepi. Pada hari itu, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian yang meliputi amati geni (tidak menyalakan api atau lampu), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Seluruh aktivitas dihentikan selama 24 jam. Suasana Bali pun menjadi sunyi. Keheningan ini dimanfaatkan untuk meditasi, evaluasi diri, dan memperdalam spiritualitas.
Tahap akhir adalah Ngembak Geni yang dilaksanakan sehari setelah Nyepi. Momen ini dimaknai sebagai waktu untuk saling memaafkan, mempererat hubungan, serta membuka lembaran baru dengan hati yang bersih. Tradisi saling mengunjungi keluarga dan kerabat menjadi simbol rekonsiliasi dan keharmonisan sosial.
Secara keseluruhan, Nyepi mengajarkan pentingnya pengendalian diri, keseimbangan antara manusia dan alam, serta toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Keheningan yang tercipta tidak hanya menjadi ruang refleksi spiritual, tetapi juga mengingatkan akan nilai kebersamaan dan harmoni dalam menjalani tahun yang baru.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
