Media Asuransi, JAKARTA – Hari Raya Idulfitri merupakan perayaan besar umat Islam yang menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadan. Namun, Idulfitri tidak sekadar dimaknai sebagai hari kemenangan setelah menahan lapar dan dahaga selama satu bulan penuh.
Lebih dari itu, Idulfitri menjadi momentum spiritual untuk kembali kepada fitrah, yakni kondisi suci dan bersih sebagaimana manusia dilahirkan. Selama Ramadan, umat Islam menjalankan berbagai ibadah, baik yang bersifat wajib maupun sunah.
Selain menahan diri dari makan dan minum, puasa juga melatih pengendalian diri dari perilaku buruk, memperbanyak amal kebaikan, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Proses ini menjadi sarana pembinaan karakter dan penyucian jiwa.
Melansir laman Bank Mega Syariah, Jumat, 20 Maret 2026, secara bahasa, istilah Idulfitri berasal dari bahasa Arab. Mengutip penjelasan dari Radio Republik Indonesia, kata “id” berarti perayaan atau hari raya. Sementara itu, “fitri” berasal dari kata “fithrah” yang bermakna suci, bersih, atau murni.
Ada pula pendapat yang menyebut kata “id” berasal dari akar kata “ya’uudu” yang berarti kembali. Dengan demikian, Idulfitri dapat diartikan sebagai hari raya untuk kembali kepada kesucian.
|Baca juga: Lebih Aman dan Praktis, Ini 6 Manfaat Punya Rekening Tabungan
|Baca juga: Deadline Mepet? Ini Solusi Pengiriman Dokumen Luar Negeri Super Cepat!
|Baca juga: 3 Strategi Utama Membangun Jaminan Finansial Keluarga Bareng Pasangan
Makna tersebut menegaskan bahwa Idulfitri bukan hanya penanda berakhirnya puasa, melainkan juga simbol harapan agar dosa-dosa diampuni dan setiap Muslim memperoleh kesempatan untuk memulai lembaran baru dalam kehidupannya.
Penjelasan mengenai dimensi pengampunan dalam Idulfitri juga disampaikan oleh Nahdlatul Ulama melalui laman resminya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika umat Nabi Muhammad SAW berpuasa di bulan Ramadan dan melaksanakan salat Idulfitri, Allah SWT memberikan ampunan kepada mereka.
Disebutkan pula setiap hamba yang telah beribadah akan memperoleh balasan atas amalnya, dan keburukan mereka digantikan dengan kebaikan. Pesan tersebut memperlihatkan Idulfitri memiliki makna teologis yang kuat sebagai hari pengampunan dan pembaruan diri.
Oleh karena itu, perayaan Idulfitri tidak semestinya berhenti pada tradisi tahunan seperti silaturahmi dan saling memaafkan, tetapi juga menjadi refleksi untuk mempertahankan nilai-nilai kebaikan yang telah dibangun selama Ramadan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
