1
1

Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah

Perdagangan mata uang asing. | Foto: OCBC NISP

Media Asuransi, JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada pekan pergantian tahun 2025 ke 2026, cukup stabil. Berdasar kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia (BI) menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah secara periodik.

Perkembangan Nilai Tukar 29 Desember 2025 – 2 Januari 2026

|Baca juga: Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah

Pada akhir hari Rabu, 31 Desember 2025

  1. Rupiah ditutup pada level (bid) Rp16.670 per dolar AS.
  2. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke 6,05 persen.
  3. DXY menguat ke level 98,32.
  4. Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke 4,167 persen.

DXY atau Indeks Dolar adalah indeks yang menunjukkan pergerakan dolar terhadap enam mata uang negara utama lainnya (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF).

UST atau US Treasury Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.

|Baca juga: OJK Pede Target Roadmap Penjaminan 2024–2028 Tercapai di 2028, Begini Penjelasannya!

Pada pagi hari Jumat, 2 Januari 2026

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp16.680 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun relatif stabil di 6,04 persen.

 

Aliran Modal Asing (Minggu V Desember 2025)

  1. Premi CDS Indonesia 5 tahun per 1 Januari 2026 sebesar 67,78 basis points (bps), turun dibanding dengan 26 Desember 2025 sebesar 69,95 bps.
  2. Berdasar data transaksi 29-31 Desember 2025, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp2,43 triliun, terdiri dari beli neto sebesar Rp1,23 triliun di pasar saham dan Rp1,66 triliun di pasar SBN, serta jual neto sebesar Rp0,46 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
  3. Selama tahun 2025, berdasar data setelmen sampai dengan 31 Desember 2025, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp17,00 triliun di pasar saham dan Rp110,11 triliun di SRBI, serta beli neto sebesar Rp2,01 triliun di pasar SBN.

“Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait, serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi yang dikutip Senin, 5 Januari 2026.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bos OJK Ungkap Penyebab Kontribusi Unitlink Mulai Turun dan Masuk Ekuilibrium Baru
Next Post RKAB 2026 Belum Terbit, Vale Indonesia (INCO) Hentikan Sementara Operasi Tambang

Member Login

or