Media Asuransi, JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada pekan terakhir Januari 2026, cukup stabil. Berdasar kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia (BI) menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah secara periodik.
Perkembangan Nilai Tukar 26 – 30 Januari 2026
Pada akhir hari Kamis, 29 Januari 2026
- Rupiah ditutup pada level (bid) Rp16.745 per dolar AS.
- Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun naik ke 6,35 persen.
- DXY melemah ke level 96,28.
- Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke 4,231 persen.
|Baca juga: OJK Canangkan 8 Rencana Aksi Percepatan Reformasi Pasar Modal Indonesia, Begini Rinciannya!
DXY atau Indeks Dolar adalah indeks yang menunjukkan pergerakan dolar terhadap enam mata uang negara utama lainnya (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF).
UST atau US Treasury Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.
|Baca juga: Bos BI: Cadangan Devisa Menguat dan Rupiah Tetap Terkendali di Tengah Tekanan Global
Pada pagi hari Jumat, 30 Januari 2026
- Rupiah dibuka pada level (bid) Rp16.770 per dolar AS.
- Yield SBN 10 tahun naik ke 6,36 persen.
|Baca juga: Friderica Widyasari Menjabat Plt Ketua OJK
Aliran Modal Asing (Minggu IV Januari 2026)
- Premi CDS Indonesia 5 tahun per 29 Januari 2026 sebesar 75,31 basis points (bps), naik dibanding dengan 23 Januari 2026 sebesar 73,05 bps.
- Berdasar data transaksi 26-29 Januari 2026, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp12,55 triliun, terdiri dari jual neto sebesar Rp12,40 triliun di pasar saham dan Rp2,77 triliun di pasar SBN, serta beli neto Rp2,61 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
- Selama tahun 2026, berdasar data setelmen sampai dengan 29 Januari 2026, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp4,84 triliun di pasar saham dan Rp6,18 triliun di SRBI, serta jual neto Rp0,10 triliun di pasar SBN.
“Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait, serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi yang dikutip Senin, 2 Februari 2026.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
