Media Asuransi, JAKARTA – Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini, PhD menyebutkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan model PTN Berbadan Hukum (PTNBH) mengalami transformasi menyimpang dari orientasi kualitas menuju ranking global menjadi industri kursus kuliah massal.
“Penerimaan mahasiswa baru PTN semakin menggila, satu kali penerimaan mahasiswa baru bisa mencapai 26 ribu setahun, seperti Unesa,” kata Didik, dikutip dari pernyataannya yang diterima Media Asuransi, Kamis, 12 Februari 2026.
Ia menilai PTN semakin berfungsi sebagai penyerap lulusan SMA secara masif, bukan produsen ilmu pengetahuan. Dirinya memberikan contoh yakni Unesa menerima 26 ribu mahasiswa, UB 18,5 ribu mahasiswa, dan UGM 18,4 ribu mahasiswa.
“Fenomena ini baru setelah PTN dan PTNBH harus mencari pendapatan sendiri dan mengerahkan tenaga menerima mahasiswa baru dalam jumlah sangat fantastis,” jelasnya.
Menurutnya kondisi ini tidak masuk akal dan sulit bagi Indonesia untuk mendorong universitasnya unggul dalam riset dan bisa menjadi pemain di tingkat global. “Dengan cara seperti itu, menjadi teaching university, yang mengeruk pendapatan dari mahasiswa sebanyak mungkin,” tukasnya.
Dirinya menambahkan PTN kemudian mengelola mahasiswa pada kisaran 60 ribu sampai 80 ribu mahasiswa. Sedangkan jumlah itu tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa kampus top dunia. Harvard, misalnya, hanya menampung 23 ribu mahasiswa berkualitas, Oxford tidak jauh berbeda, dan NUS mempunyai 35 ribu mahasiswa.
|Baca juga: Moody’s Pangkas Outlook, BCA (BBCA) Blak-blakan tentang Dampaknya ke Kredit
|Baca juga: Wamenkeu: Pertumbuhan Ekonomi RI 5,39% di Kuartal IV/2025 Tertinggi di G20
|Baca juga: CBRE Advisory Indonesia Proyeksikan Pasar Properti Jakarta Tumbuh Solid di 2026
“Jadi jangan berharap Indonesia tampil dalam rangking dunia dengan cara mengerahkan tenaganya menjadi teaching university dan meninggalkan modal research university,” ucapnya.
Ia menjelaskan tidak ada kampus Indonesia terdepan yang mencapai ranking 100 dunia. Sementara negara tetangga, University of Malaya masuk dalam ranking 58 global dalam kategori QS ranking. Sedangkan Singapura, kampusnya masuk ranking delapan (NUS) dan ranking 12 (NTU).
“Jadi kita tertinggal karena kampus-kampus negeri yang berada di depan hanya sibuk meraup mahasiswa baru sebanyak-banyaknya untuk menaikkan income dalam rangka memenuhi biaya operasional kampus,” tuturnya.
Didik menegaskan kebijakan seperti itu membunuh pelan-pelan kampus PTN utama karena diberi beban menutup biaya operasional kampusnya. Sementara dana pendidikan 20 persen, tambahnya, dicabik-cabik hilang masuk ke kegiatan-kegiatan yang dikait-kaitkan dengan pendidikan tetapi sebenarnya merupakan bidang di luar pendidikan.
“Kebijakan ini sudah salah arah karena akan menggerus mutu akademik dan melemahkan peran strategis PTN dan tertinggal jauh dari kampus-kampus negara tetangga Malaysia dan Singapura,” ucapnya.
|Baca juga: Laba Bersih BTN (BBTN) Tembus Rp3,5 Triliun di 2025, Tumbuh 16,4%
|Baca juga: APPARINDO Respons Positif Proyeksi OJK soal Pertumbuhan Aset Industri Asuransi 7% di 2026
Menurutnya kebijakan negara menciptakan persaingan tidak setara di mana 125 PTN menampung 3,9 juta mahasiswa. Sementara 3.000 kampus swasta menampung 4,5 juta mahasiswa. Dengan PTN merebut mahasiswa dalam jumlah besar maka PTS lambat laun mati.
Bahkan, masih kata Didik, peranan masyarakat, organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah semakin terpinggirkan dengan kebijakan yang menghadapkan PTN dan PTS dalam persaingan besar yang saling mematikan.
“Peran seharusnya PTN utama masuk ke ranking global tersendat karena harus menerima banyak mahasiswa untuk pembiayaan operasional kampusnya,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
