1
1

Soal Uang hingga Gaya Hidup, Ini Alasan Gen Z Menganggap Pernikahan Menakutkan

Ilustrasi. | Foto: Freepik

Media Asuransi, JAKARTA – Di tengah derasnya arus digital dan media sosial, muncul berbagai pola pikir baru di kalangan anak muda, khususnya Gen Z. Salah satu yang belakangan ramai diperbincangkan adalah anggapan bahwa pernikahan itu menakutkan atau dikenal dengan istilah ‘marriage is scary‘.

Fenomena ini bukan sekadar tren percakapan daring, tetapi mencerminkan kekhawatiran yang benar-benar dirasakan sebagian generasi muda. Pernikahan dipandang sebagai komitmen jangka panjang yang sarat tanggung jawab, tekanan finansial, dan perubahan gaya hidup yang besar.

Meski demikian, pernikahan sejatinya tidak selalu harus terasa menakutkan apabila dipersiapkan dengan matang oleh kedua belah pihak. Mengapa Gen Z merasa bahwa pernikahan itu menakutkan? Ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi munculnya kecemasan tersebut di kalangan Gen Z.

|Baca juga: Jangan Asal Menabung, Begini 5 Cara Memilih Tabungan Sesuai Kebutuhan

|Baca juga: 9 Tips Mengatur Keuangan Keluarga di Awal 2026 agar Lebih Aman dan Terkendali

|Baca juga: Ternyata Ini Manfaat Punya Asuransi

Mengutip Nobu Bank, Selasa, 24 Maret 2026, berikut beberapa di antaranya:

Ketidakpastian ekonomi

Kondisi ekonomi menjadi salah satu alasan utama. Biaya hidup yang terus meningkat, ditambah ketidakpastian ekonomi global, membuat banyak anak muda merasa belum memiliki kestabilan finansial untuk membangun rumah tangga. Kekhawatiran terhadap masa depan finansial menjadi pertimbangan serius sebelum memutuskan menikah.

Tanggung jawab finansial

Selain faktor ekonomi makro, beban finansial setelah menikah juga menjadi sumber kecemasan. Mulai dari biaya pernikahan, pembelian rumah, hingga rencana pendidikan anak dipandang sebagai tanggungan besar. Ketika mengelola keuangan pribadi saja sudah terasa menantang, membayangkan tanggung jawab finansial dalam keluarga membuat sebagian Gen Z semakin berhati-hati.

Perubahan gaya hidup

Pernikahan juga identik dengan perubahan gaya hidup. Komitmen jangka panjang menuntut adanya penyesuaian dan kompromi antara dua individu. Bagi mereka yang terbiasa hidup mandiri dan bebas mengambil keputusan sendiri, perubahan tersebut bisa terasa cukup besar dan menimbulkan rasa takut.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, wajar jika sebagian Gen Z memandang pernikahan sebagai keputusan besar yang perlu dipikirkan matang-matang, bukan sekadar mengikuti norma atau ekspektasi sosial.

Eiditor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post OJK Sebut Rasio Klaim Asuransi Kredit Masih Tinggi di Awal 2026
Next Post Hampir 1.000 Pegawai Allianz Life Indonesia Ikuti Edukasi Coretax

Member Login

or