1
1

Studi Populix: Takjil Bukan Sekadar Self-Reward

Ilustrasi war takjil. | Foto: Populix

Media Asuransi, JAKARTA – Kata ‘takjil’ berakar dari kata ‘ajila’ yang dalam bahasa Arab berarti menyegerakan untuk berbuka puasa. Namun, di Indonesia kata takjil sendiri telah mengalami pergeseran makna menjadi panganan dan minuman untuk berbuka puasa.

Riset terbaru Populix menemukan pergeseran lain soal aktivitas berburu takjil, yang dulu hanya dianggap sebagai aktivitas menjelang berbuka, kini telah berakulturasi menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari bulan Ramadan.

Research Director Populix, Susan Adi Putra, menjelaskan bahwa saat ini fenomena berburu takjil menjadi aktivitas ngabuburit yang paling populer di kalangan Gen Z dan milenial. Bahkan jauh terpaut dengan aktivitas lain seperti scroll media sosial maupun memasak untuk keperluan berbuka.

|Baca juga: Riset Populix Ungkap Faktor Baru yang Menentukan Relevansi Brand di 2026, Akibat Gen MZ Ubah Aturan Main

“Tak hanya itu, 41 persen anak muda menganggap kegiatan berburu takjil bukan sekadar self-reward setelah seharian berpuasa, melainkan menjadi sebuah tradisi khas bulan Ramadan yang tidak tergantikan,” jelas Putra dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu, 4 Maret 2026.

Temuan ini dipertegas oleh frekuensi berburu takjil yang kini menjadi rutinitas selama bulan puasa. Hal ini dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan, yang lebih dari setengahnya mengaku membeli takjil hampir setiap hari. Hanya lima persen responden yang mengaku akan membeli takjil kurang dari seminggu sekali atau tidak sama sekali.

Ketika ditanya jenis kudapan apa yang paling dicari, minuman manis, seperti es teh, es buah, es campur, masih menjadi pilihan utama, khususnya bagi Gen Z. Sedangkan bagi perempuan dan milenial ada kecenderungan untuk lebih menyukai kue tradisional. Selain itu, menu favorit lainnya adalah gorengan, buah kurma, dessert kekinian, lalu makanan berat seperti nasi, lontong, dan lain sebagainya.

|Baca juga: Temuan Populix dan KitaLulus: 80% Pekerja Masih Menilai PHK Tidak Manusiawi

“Meskipun mayoritas cenderung membeli takjil secara langsung dari pedagang kaki lima, penjualan secara online juga membuka peluang untuk meraup omzet lebih tinggi. Pasalnya, sekitar sepertiga responden, khususnya perempuan, mengaku membeli takjil melalui aplikasi pesan makanan online maupun via media sosial atau aplikasi pesan instan,” tambah Putra.

Survei tentang “Berburu Takjil Menurut Gen Z dan Milenial” dilakukan pada 18-19 Februari 2025 melalui platform PopSurvey. Penelitian ini dilakukan kepada 1.000 orang milenial dan Gen Z, dengan perbandingan responden laki-laki dan perempuan yang seimbang. Sebanyak 93 persen responden beragama Islam dan berasal dari tingkat ekonomi menengah ke atas.

|Baca juga: Buka Puasa Baiknya Pakai Takjil atau Makanan Berat?

Beberapa temuan kunci dari laporan ini adalah:

  1. Makna berburu takjil bagi generasi muda:
  2. Tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari Bulan Ramadan: 41 persen
  3. Momen kebersamaan: 24 persen
  4. Self-reward setelah berpuasa: 20 persen
  5. Kebutuhan praktis: 15 persen
  6. Mengikuti tren: satu persen
  7. Aktivitas ngabuburit favorit Gen Z dan milenial:
  8. Jalan-Jalan mencari takjil: 73 persen
  9. Scroll media sosial: 56 persen
  10. Masak untuk keperluan berbuka: 43 persen
  11. Ibadah: 33 persen
  12. Nonton film: 25 persen
  13. Olahraga ringan: 18 persen
  14. Frekuensi berburu takjil:
  15. Hampir setiap hari: 41 persen
  16. 3-4 kali seminggu: 24 persen
  17. 1-2 kali seminggu: 20 persen
  18. Kurang dari seminggu sekali: 15 persen
  19. Tidak berencana membeli sama sekali: satu persen
  20. Top 6 menu takjil pilihan:
  21. Minuman manis: 88 persen (lebih tinggi di Gen Z)
  22. Gorengan: 70 persen
  23. Kue tradisional: 50 persen (lebih tinggi di perempuan dan milenial)
  24. Kurma: 38 persen
  25. Dessert kekinian: 33 persen
  26. Makanan berat: 31 persen
  27. Top 3 destinasi berburu takjil:
  28. Pedagang kaki lima: 95 persen
  29. Aplikasi pesan makanan online: 37 persen
  30. UMKM online (via medsos/WhatsApp): 34 persen

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Tegas! OJK Beri Sanksi Finfluencer Sesat dan Debt Collector yang ‘Nakal’
Next Post Indonesia Eximbank Gandeng IIF Perkuat Integrasi ESG dan Persiapan Aksesi OECD

Member Login

or