Media Asuransi, JAKARTA – Langkah nyata dimulai pada 6, 10, dan 11 Maret 2026, ketika teknologi OCR dan AI Prediktif mulai diperkenalkan melalui pelatihan kepada 40 bidan desa yang berasal dari empat puskesmas di dua provinsi di Jawab Barat dan Nusa Tenggara Barat. Untuk di NTB pelatihan dilaksanakan bersama bidan dari Puskesmas Montong Betok dan Puskesmas Narmada di Pulau Lombok. Sementara itu di Jawa Barat, kegiatan serupa melibatkan bidan dari Puskesmas Karangpawitan dan Puskesmas Cibatu Kabupaten Garut.

Pemilihan keempat puskesmas ini bukan sekadar administratif belaka, ada kesiapan fasilitas, semangat dari tenaga kesehatan setempat, dan yang paling penting adalah dukungan dari pemangku kebijakan untuk terlibat dalam proses pembaruan teknologi.
|Baca juga: Tips Jitu Hadapi Biaya Kesehatan yang Terus Naik
Dalam sesi pelatihan yang digelar bersamaan dengan uji coba, para bidan tidak hanya diajari cara menggunakan aplikasi tetapi juga dilatih untuk memverifikasi hasil pembacaan OCR untuk memastikan tidak ada data yang terbaca keliru serta tidak ada informasi yang terlewat. Hal ini penting, mengingat sekecil apapun kesalahan data kesehatan akan membuat konsekuensi yang besar. Secanggih apapun sistem AI, hanya akan bekerja dengan baik jika data yang masuk akurat.

Para bidan dengan pengalaman klinis dan ketelitian mereka yang akan menjadi benteng pertama untuk memastikan keakuratan data. Inisiatif ini tidak lahir dari ruang kosong. Program OCR dan AI Prediktif untuk puskesmas adalah bagian dari KONEKSI AI in Healthcare, sebuah kolaborasi lintas institusi yang dipimpin oleh Summit Institute for Development dan dimulai sejak 2024, dengan dukungan pendanaan kompetitif dari Pemerintah Australia melalui skema flourish funding dari Dana Hibah KONEKSI. Dukungan itu diperoleh setelah melalui seleksi ketat yang menilai tiga hal: inovasi teknologi, relevansi terhadap kebijakan kesehatan Indonesia, dan potensi dampak nyata di lapangan.
Apa yang berlangsung di empat puskesmas itu baru permulaan. Hasil uji coba akan menjadi cermin untuk melihat apa yang bekerja, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana sistem ini bisa diterapkan lebih luas di masa depan.
Yang jelas, ada sesuatu yang sedang berubah di puskesmas. Buku KIA yang selama ini menjadi data manual, kini mulai berbicara kepada sistem terkait masa depan layanan kesehatan ibu dan anak yang semakin canggih. Tentu, ada sumber daya manusia yang menjadi penggerak utamanya, bidan-bidan yang kini tidak hanya bertugas merawat, tetapi juga memimpin perubahan lewat teknologi terbarukan.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
