Media Asuransi, JAKARTA – Memasuki tahun 2026, pasar tenaga kerja Indonesia memasuki fase yang semakin strategis. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, pasar kerja nasional justru diproyeksikan tetap solid.
Data dari laporan eksklusif iring, Compensation, and Benefits 2025 dari Jobstreet by SEEK menemukan bahwa dengan meningkatnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir, 71 persen perusahaan di Indonesia saat ini juga mempertimbangkan pengetahuan AI kandidat saat merekrut.
Acting Managing Director Jobstreet by SEEK Indonesia Wisnu Dharmawan, mengungkapkan, dari perkembangan tersebut, keterampilan terkait AI akan semakin dibutuhkan lintas fungsi. AI tidak lagi eksklusif milik engineer, tetapi menjadi keharusan untuk berbagai divisi termasuk pemasaran, operasional, hingga keuangan.
|Baca juga: Panduan Pencarian Kerja di Luar Negeri Ala Jobstreet by SEEK
‘’Kuncinya terletak pada AI literacy (kecakapan AI), data literacy, dan kemampuan mengintegrasikan AI ke alur kerja untuk mendongkrak produktivitas,” jelas Wisnu dalam keterangannya, Minggu, 1 Februari 2026.
Sebagai dampaknya, kita akan melihat pergeseran relevansi keterampilan. Pekerjaan yang bersifat repetitif dan klerikal (administratif rutin) akan semakin tergerus otomatisasi. Sebaliknya, nilai tambah manusia akan bergeser ke kemampuan analisis, pemecahan masalah yang kompleks, kreativitas, dan pengambilan keputusan berbasis data.
Bagi pekerja, ini saatnya mengevaluasi apakah pekerjaan sehari-hari didominasi tugas rutin yang mudah di otomasi; jika ya, itu sinyal untuk mulai berinvestasi pada keterampilan baru.
|Baca juga: Survei Jobstreet by SEEK: 67% Pekerja Indonesia Siap Berkarier di Luar Negeri
Pertanyaan besar yang kemudian kerap muncul di awal tahun adalah; apakah 2026 akan diwarnai gelombang PHK masif? Untuk ini, konteks Indonesia berbeda dengan tren konsolidasi teknologi global. Data pasar kerja nasional menunjukkan tren positif, terutama di sektor layanan kesehatan, manufaktur, dan ekonomi digital.
Namun, yang justru muncul adalah fenomena job hugging, dimana pekerja memilih bertahan di posisi saat ini demi stabilitas karier (job security), meski mungkin belum memuaskan secara finansial atau jenjang karier. Hal ini mengurangi mobilitas tenaga kerja secara organik. Oleh karena itu, untuk merekrut pekerja baru perusahaan harus lebih proaktif membangun employer branding atau menawarkan jenjang karier yang jelas dan menarik.
|Baca juga:Jobstreet: Perusahaan Perlu Meninjau Ulang Paket Kompensasi Pekerja
Tantangan lain juga muncul dari lintas negara. Laporan Decoding Global Talent 2024 dari SEEK menunjukkan sekitar 67 persen pekerja Indonesia berminat untuk bekerja di luar negeri. Angka ini didorong oleh keinginan mengejar eksposur global serta kualitas hidup yang lebih baik.
Bagi perusahaan Indonesia, ini adalah peringatan sekaligus peluang. Penting untuk memperkuat strategi retensi agar talenta terbaik melihat masa depan karier di dalam negeri. Selain penyesuaian kompensasi, perusahaan perlu menawarkan jalur karir yang jelas.
Di sisi lain, perusahaan juga bisa mulai memanfaatkan cross-border recruitment melalui platform global seperti Jobstreet by SEEK untuk mengisi celah keterampilan khusus yang sulit ditemukan di pasar lokal.
“Tahun 2026 bukan sekadar tentang siapa yang merekrut paling cepat, tetapi siapa yang mampu memetakan potensi talenta paling akurat. Bagi pencari kerja, portofolio dan kredensial mikro (micro-credentials) akan menjadi bukti kompetensi yang lebih bernilai dibanding gelar semata,” ujar Wisnu.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
