1
1

Tips Panduan Etiket Perjalanan & Hal Tabu di Jepang

Aktivitas di salah satu pusat bisnis di Jepang. | Foto: Traveloka

Media Asuransi, JAKARTA – Jepang, negeri matahari terbit, bukan hanya memukau dengan keindahan alam dan teknologi canggihnya, tetapi juga dengan budaya yang sarat makna.  Masyarakat Jepang sangat menghargai kesopanan, rasa hormat, dan harmoni.

Mereka cenderung menghindari konfrontasi langsung dan lebih memilih komunikasi yang halus dan tidak langsung. Bahasa tubuh, nada bicara, dan bahkan keheningan memiliki makna yang mendalam.

|Baca juga: Kenaikan Pajak Turis dan Larangan WN China Tekan Minat Wisata ke Jepang di 2026

Sebagai seorang pelancong, memahami nuansa ini akan membantu Anda berinteraksi dengan masyarakat lokal dengan lebih baik dan menciptakan pengalaman yang lebih positif. Berikut ini beberapa hal yang perlu diketahui oleh turis yang datang ke  Jepang, dikutip dari laman Traveloka, Minggu 18 Januari 2926.

 

5 Hal Tabu yang Wajib Diketahui di Jepang

  1. Mengungkapkan Emosi Berlebihan di Depan Umum

Konteks Sejarah/Sosial

Di Jepang, pengendalian diri dan kesopanan sangat dihargai. Menunjukkan emosi berlebihan di depan umum, seperti tertawa terbahak-bahak, menangis keras, atau marah, dianggap tidak pantas dan dapat menyebabkan rasa malu bagi diri sendiri dan orang lain.

Hal ini berakar pada sejarah panjang Jepang yang menekankan pada harmoni sosial dan menghindari gangguan pada ketertiban umum. Masyarakat Jepang cenderung menjaga ekspresi wajah mereka tetap netral untuk menghindari ketidaknyamanan.

Skenario Nyata

Bayangkan Anda sedang menunggu kereta di stasiun yang ramai dan tiba-tiba Anda menerima kabar gembira yang membuat melonjak kegirangan dan berteriak. Atau, kesulitan saat makan dengan sumpit dan mulai menggerutu dengan nada tinggi. Perilaku seperti ini akan menarik perhatian dan dianggap kurang sopan.

|Baca juga: Dorong Gaya Hidup Digital, Mandiri Traveloka Card Hadir dengan Tampilan Baru

Panduan Perilaku yang Benar

Usahakan selalu menjaga ekspresi wajah Anda tetap tenang dan terkendali di tempat umum. Jika Anda merasa sangat senang atau sedih, cobalah menahan diri dan menyampaikan dengan cara lebih halus. Hindari berbicara dengan nada tinggi atau membuat gerakan berlebihan. Jika Anda perlu menelepon, lakukan di tempat yang tidak mengganggu orang lain, dan bicaralah dengan suara tenang.

Tips Tambahan “”Local Secrets””

Perhatikan bagaimana orang Jepang berkomunikasi melalui bahasa tubuh. Mereka sering kali membungkuk sebagai tanda hormat, dan menghindari kontak mata langsung saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau memiliki status sosial yang lebih tinggi. Menguasai sedikit bahasa tubuh ini akan sangat membantu Anda dalam berinteraksi.

  1. Meniup Ingus di Depan Umum

Konteks Sejarah/Sosial

Meniup ingus di depan umum, terutama di tempat yang ramai, dianggap sangat tidak sopan dan menjijikkan di Jepang. Hal ini dianggap sebagai tindakan yang tidak higienis dan kurangnya pertimbangan terhadap orang lain. Meskipun masalah kesehatan adalah hal yang wajar, masyarakat Jepang lebih memilih untuk menjaga kebersihan dan privasi dalam hal ini.

Skenario Nyata

Anda sedang berjalan-jalan tiba-tiba merasa hidung gatal. Anda mengeluarkan tisu dan tanpa ragu meniup ingus dengan keras. Atau, sedang berada di kereta merasa perlu untuk membersihkan hidung Anda.

|Baca juga:Visa Soroti 5 Tren Utama Pembayaran dan Travel untuk Indonesia di 2026

Panduan Perilaku yang Benar

Jika Anda merasa perlu membuang ingus, pergilah ke toilet atau tempat pribadi lainnya. Gunakan tisu dan buang dengan benar. Jika tidak menemukan tempat pribadi, cobalah menahan diri sampai menemukannya. Jika Anda harus bersin, tutupi mulut dan hidung dengan tisu atau lengan baju Anda.

Tips Tambahan “”Local Secrets””

Selalu bawa tisu (terutama tisu kering) saat bepergian di Jepang. Tisu sangat penting untuk berbagai keperluan, mulai dari membersihkan tangan hingga mengeringkan keringat. Anda dapat dengan mudah menemukan tisu di toko serba ada (konbini) atau mesin penjual otomatis.

  1. Berbicara Terlalu Keras di Transportasi Umum

Konteks Sejarah/Sosial

Kereta dan bus di Jepang adalah tempat yang sangat tenang dan damai. Masyarakat Jepang sangat menghargai ketenangan dan privasi orang lain. Berbicara terlalu keras di transportasi umum dianggap mengganggu dan tidak sopan. Hal ini juga berkaitan dengan konsep ‘wa’ (harmoni) yang sangat penting dalam budaya Jepang.

Skenario Nyata

Anda sedang melakukan perjalanan dengan kereta dan menelepon teman. Anda berbicara dengan nada tinggi dan tertawa terbahak-bahak, tanpa menyadari bahwa itu mengganggu penumpang lain. Atau, mendengarkan musik dengan volume terlalu keras menggunakan earphone.

Panduan Perilaku yang Benar

Saat berada di transportasi umum, usahakan berbicara dengan suara pelan dan tenang. Hindari menelepon atau melakukan panggilan video. Jika mendengarkan musik, gunakan earphone dan atur volume pada tingkat tidak mengganggu orang lain. Jika bepergian dengan teman, bicaralah dengan suara pelan dan hindari topik terlalu pribadi.

Tips Tambahan “”Local Secrets””

Perhatikan tanda-tanda di dalam kereta dan bus. Beberapa kereta memiliki area khusus untuk percakapan telepon. Jika Anda tidak yakin, lebih baik untuk diam atau berbicara dengan suara sangat pelan.

  1. Menggunakan Sumpit dengan Cara yang Salah

Konteks Sejarah/Sosial

Sumpit adalah bagian integral dari budaya makan Jepang. Penggunaan sumpit yang benar adalah tanda sopan santun dan rasa hormat terhadap makanan dan orang lain. Ada beberapa aturan sangat ketat cara menggunakan sumpit, dan melanggarnya dianggap sangat tidak sopan.

|Baca juga: Empat Negara Eropa Ini Sukses Jalankan Program WTE, Satu di antaranya Jadi Destinasi Wisata

Skenario Nyata

Anda menusuk makanan dengan sumpit, menggosok sumpit bersama-sama (seolah-olah untuk membersihkannya), atau menancapkan sumpit ke dalam nasi. Semua tindakan ini dianggap sangat tidak sopan dan dapat menyinggung orang Jepang.

Panduan Perilaku yang Benar

Gunakan sumpit untuk mengambil makanan dari piring bersama, tetapi jangan pernah mengoper makanan langsung dari sumpit Anda ke sumpit orang lain (ini mengingatkan pada ritual pemakaman). Jangan menusuk makanan dengan sumpit. Letakkan sumpit di atas sumpit saat tidak digunakan. Jangan menggosok sumpit bersama-sama, terutama jika sumpit tersebut adalah sumpit sekali pakai (ini menunjukkan Anda berpikir sumpit tersebut berkualitas buruk).

Tips Tambahan “”Local Secrets””

Jika Anda kesulitan menggunakan sumpit, jangan ragu meminta bantuan. Kebanyakan restoran menyediakan sumpit khusus untuk pemula atau menawarkan garpu dan sendok. Perhatikan bagaimana orang Jepang lain menggunakan sumpit, dan tirulah perilaku mereka.

|Baca juga:Jangan Asal Traveling, Ini Tips Menikmati Wisata Alam

  1. Memasuki Rumah atau Tempat Ibadah dengan Sepatu

Konteks Sejarah/Sosial

Di Jepang, sepatu dianggap kotor karena telah bersentuhan dengan jalanan. Memasuki rumah, kuil, atau tempat ibadah dengan sepatu dianggap sangat tidak sopan dan dapat menyinggung pemilik rumah atau pengelola tempat ibadah. Hal ini berkaitan dengan konsep kebersihan dan rasa hormat terhadap ruang pribadi dan suci.

Skenario Nyata

Anda diundang ke rumah teman Jepang Anda dan langsung masuk dengan sepatu. Atau, mengunjungi kuil dan berjalan-jalan di dalam kuil menggunakan sepatu.

Panduan Perilaku yang Benar

Saat memasuki rumah atau tempat ibadah, lepaskan sepatu Anda di pintu masuk. Biasanya, ada area khusus untuk meletakkan sepatu. Seringkali, diberikan sandal untuk digunakan di dalam rumah atau kuil. Perhatikan apa yang dilakukan orang lain dan ikuti.

Tips Tambahan “”Local Secrets””

Selalu perhatikan lantai. Jika Anda melihat area yang ditinggikan atau area yang dilapisi tatami (tikar jerami), itu adalah tanda harus melepas sepatu. Jika tidak yakin, jangan ragu untuk bertanya.

Setelah memahami etika dan hal tabu di Jepang, Anda siap untuk merencanakan perjalanan yang tak terlupakan.

Editor : wahyu Widiastuti

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post  3 Tantangan Utama Investasi dan Solusi Investor Pemula Wajib Tahu

Member Login

or