1
1

Arti Pertumbuhan Ekonomi 5,11% bagi Industri Asuransi

Gedung pencakar langit di sepanjang kawasan bisnis jalan Jenderal Sudirman Jakarta. | Foto: Media Asuransi/Arief Wahyudi

Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 sebesar 5,11 persen sebelumnya yang tercatat sebesar 5,03 persen yoy. year on year (yoy). Angka ini meningkat dari pertumbuhan ekonomi tahun

Secara triwulanan atau kuartalan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV/2025 tercatat sebesar 5,39 persen yoy. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya yang sebesar 5,04 persen yoy.

Data juga menunjukkan bahwa dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV/2025 ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,11 persen yoy ditopang oleh berbagai kebijakan untuk menjaga daya beli dan mendorong konsumsi masyarakat serta meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Sedangkan investasi tumbuh sebesar 6,12 persen yoy, didorong oleh pertumbuhan barang modal bangunan serta mesin dan perlengkapan. Konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 4,55 persen yoy sejalan dengan akselerasi belanja pemerintah.

Sementara itu, konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh sebesar 5,90 persen yoy, didorong oleh peningkatan aktivitas organisasi kemasyarakatan. Ekspor tetap tumbuh positif sebesar 3,25 persen yoy sejalan dengan permintaan mitra dagang utama yang masih kuat dan kunjungan wisatawan mancanegara yang meningkat.

Dari sisi Lapangan Usaha (LU), seluruh LU pada triwulan IV/2025 menunjukkan kinerja positif, kecuali LU Pertambangan dan LU Pengadaan Air. Pada triwulan ini, LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan, serta LU Informasi dan Komunikasi sebagai kontributor utama pertumbuhan ekonomi tumbuh positif seiring dengan peningkatan permintaan domestik dan terjaganya permintaan eksternal.

Sedangkan dari sisi spasial, pertumbuhan ekonomi triwulan IV/2025 tertinggi tercatat di wilayah BaliNusa Tenggara (Balinusra), diikuti Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua).

Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi 2026 meningkat dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen yoy. Terutama didukung oleh peningkatan permintaan domestik sejalan dengan berbagai bauran kebijakan yang ditempuh untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bagi industri asuransi, apa makna dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai di atas lima persen tersebut? Ternyata, tidak selalu pertumbuhan ekonomi itu tergambar dalam besaran yang sama dengan premi asuransi.

Mari kita simak data-data yang diolah Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) berikut ini. Pada 2019, tahun terakhir sebelum pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi dilaporkan sebesar 5,02 persen. Pada tahun yang sama, data OJK menunjukkan pertumbuhan premi asuransi sebesar 8,0 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi.

Di tahun pertama pandemi Covid-19, ekonomi Indonesia pada 2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,07 persen. Pada tahun yang sama, premi industri asuransi komersial mengalami kontraksi atau turun sebesar 7,34 persen, atau lebih dari tiga kali lipat dari kontraksi perekonomian.

Pada tahun berikutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 3,69 persen. Pada 2021 ini, premi industri asuransi meningkat 5,5 persen. Perekonomian tumbuh lebih tinggi di 2022, yakni mencapai 5,31 persen. Namun, di tahun yang sama, premi asuransi hanya meningkat 2,2 persen. Kejadian serupa berlanjut pada 2023, saat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,05 persen, ternyata premi asuransi naik 3,02 persen.

Kecenderungan ini terus berlanjut di dua tahun terakhir. Pada 2024, premi asuransi meningkat 4,91 persen. Lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,03 persen. Sedangkan di tahun lalu, saat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,11 persen, ternyata premi asuransi justru terkontraksi sebesar 1,46 persen.

Dari data enam tahun terakhir, terlihat bahwa tak selalu pertumbuhan premi asuransi sama dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Ada kalanya premi asuransi tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi, ada kalanya tumbuh lebih rendah.

Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi memang dapat menjadi pendorong pertumbuhan premi asuransi, namun bukan faktor tunggal.

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Kinerja Makin Meningkat Usai Spin-off
Next Post OECD Ungkap Mayoritas Negara Maju Belum Lindungi Kerugian Bencana Lewat Asuransi

Member Login

or