Tidak semua orang langsung siap berdamai dengan kata ‘pensiun’. Bagi sebagian orang, kata ini kerap terdengar seperti penanda akhir, seolah sebuah pintu perlahan-lahan ditutup setelah puluhan tahun hidup dikejar jam, target, dan agenda yang tak pernah benar-benar berhenti. Kekosongan itu kerap menimbulkan tanya. Setelah ini, apa yang harus dilakukan?
Namun bagi mereka yang memandangnya dari sudut berbeda, pensiun justru bukan akhir perjalanan. Melainkan lebih mirip ruang kosong yang memberi kesempatan untuk menyusun ulang hidup baru.
Di fase inilah banyak orang mulai bertanya, di mana sebaiknya masa tua dijalani. Kota besar yang dulu memberi peluang karier, sering kali terasa terlalu bising dan melelahkan. Konsep slow living hadir bukan sebagai tren, melainkan sebagai kebutuhan. Terutama bagi mereka yang telah menyelesaikan fase produktifnya dan ingin menjalani hari dengan lebih manusiawi.
Gambaran ideal tersebut menemukan bentuk nyata dalam pengalaman mantan Sekretaris Perusahaan PT Askrindo, Cahyo Haripurwanto, yang memilih Semarang sebagai kota untuk menikmati masa pensiun. Keputusan ini diambil melalui pertimbangan panjang, tidak hanya rasional tetapi juga emosional.
Bagi Cahyo, Semarang menawarkan ritme hidup yang masih dapat dinikmati. Kemacetan tetap ada, tetapi tidak sampai menguras energi seperti di kota besar lain. Mobilitas masih terasa manusiawi, sebuah faktor penting ketika usia tidak lagi muda.
Selain itu, fasilitas kota dinilainya cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan pensiunan. Mulai dari kesehatan, kebutuhan sehari-hari, hingga ruang untuk menikmati waktu luang. Keberadaan bandara menjadi nilai tambah karena memudahkan perjalanan tanpa harus menempuh jarak darat yang panjang.
Faktor budaya turut memperkuat pilihan tersebut. Sebagai orang Jawa, Cahyo merasa lebih menyatu dengan suasana ibukota Jawa Tengah itu yang masih kental dengan kultur Jawa. Kedekatan ini menghadirkan rasa nyaman yang sulit digantikan oleh fasilitas semata.
Dari sisi ekonomi, Semarang menawarkan biaya hidup yang relatif lebih bersahabat. Upah minimum yang tidak terlalu tinggi tecermin dalam kebutuhan hidup seharihari yang lebih terjangkau. Kondisi ini memungkinkan pensiunan hidup layak tanpa tekanan finansial berlebih.
Akses layanan kesehatan menjadi pertimbangan krusial lainnya. Cahyo melihat Semarang memiliki rumah sakit pemerintah yang sudah teruji sebagai rujukan, termasuk untuk penanganan penyakit serius. Di sisi lain, rumah sakit swasta dengan fasilitas modern juga tersedia sebagai alternatif. “Untuk level saya, itu masih akomodatif untuk di Semarang, untuk seorang pensiunan,” katanya.
Pertimbangan emosional semakin menguatkan keputusan tersebut. Secara geografis, Semarang berada di posisi tengah yang memudahkan akses ke keluarga di berbagai daerah. Bahkan, keputusan menetap di Semarang menarik anggota keluarga lain untuk ikut pindah dan menjadikannya sebagai titik berkumpul.
Keunggulan lain yang dirasakan Cahyo adalah kualitas udara relatif bersih serta tingkat keamanan lebih stabil dibanding kota besar lain. “Di rumah sini kami bisa menikmati indahnya kota Semarang. Di pagi hari kami bernyanyi bersama alam sambil menikmati sunrise. Dan, di Semarang juga ada tiga lapangan golf yang bagus. Biasanya saya sebulan sekali main. Saya juga suka jogging dan bersepeda bersama istri dan teman-teman,” tuturnya.
Suasana Pedesaan
Kedamaian menikmati masa tua di luar hiruk pikuk kota Jakarta juga dirasakan oleh presenter dan jurnalis senior Andy F. Noya. Setelah puluhan tahun berkarya di dunia jurnalistik dan media di ibukota, sekarang dia memilih menjalani hidup lebih tenang di Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah. Dia menyatakan bahwa hatinya justru tertarik pada suasana pedesaan yang lebih damai dan bersahaja.
Dalam proses pencarian tempat tinggal masa pensiunnya, Andy bersama kepala desa lokal sempat survei ke beberapa lokasi sampai akhirnya menemukan sebidang tanah sekitar satu hektare yang awalnya digunakan warga sebagai tempat pembuangan sampah. Meskipun begitu, ia merasa tanah itu punya potensi besar dan memutuskan membeli serta membangunnya menjadi rumah yang nyaman untuk kehidupan keluarga mereka.
Pilihan hidup sederhana ini menunjukkan bagaimana Andy menyusun aktivitas hariannya dengan ritme yang lebih santai tetapi bermakna. Rumahnya yang dikelilingi alam dan komunitas desa membuat ia lebih dekat dengan lingkungan sekitar, sekaligus membuka ruang bagi interaksi sosial serta berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat di Purwokerto dan Banyumas.
Gaya hidup slow living Andy dengan tinggal di luar Jakarta, dapat dilihat sebagai bentuk refleksi hidup yang mengutamakan keseimbangan, kedekatan dengan alam, serta kontribusi kepada orang-orang di sekitarnya, bukan sekadar mengejar kesibukan atau kesuksesan materi.
Ada Keseimbangan
Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna melihat bahwa kota yang cocok untuk slow living di masa pensiun harus mampu menjawab kebutuhan paling mendasar para pensiunan. Menurutnya, sebelum bicara soal kenyamanan atau estetika kota, hal pertama yang perlu dipastikan adalah apakah kehidupan sehari-hari masih bisa dijalani secara layak.
“Kota yang slow living di masa pensiun itu setidaknya masih dapat mengakomodasi kebutuhan minimal dari mereka yang sudah tidak aktif lagi bekerja,” ujar Yayat kepada Media Asuransi beberapa waktu lalu.
Kebutuhan minimal tersebut tidak semata soal pendapatan, tetapi juga tentang keseimbangan. Pensiunan membutuhkan kota yang tidak memaksa mereka hidup di
luar kemampuan finansialnya, tetapi tetap memberi ruang untuk hidup dengan bermartabat. Kota yang terlalu mahal akan menciptakan kecemasan baru, sementara kota yang miskin fasilitas justru menimbulkan kerentanan.
Lebih dari soal ekonomi, Yayat menekankan pentingnya dinamika sosial. Kota yang ideal bagi pensiunan adalah kota yang masih memiliki ikatan sosial kuat, bercorak kultural, dan diwarnai keguyuban. Dalam lingkungan seperti ini, relasi antarwarga tidak berhenti pada sapaan singkat, tetapi berkembang menjadi rasa saling mengenal dan saling peduli.
Rutinitas pun menjadi lebih cair. Pagi hari tidak lagi dibuka dengan alarm tergesa, melainkan dengan aktivitas sederhana seperti berjalan santai, berolahraga ringan, atau menyapa tetangga. Siang hari dapat diisi dengan berkebun, beternak, membaca, atau mengikuti kegiatan komunitas. Sore hingga malam dijalani tanpa rasa terkejar, memberi ruang untuk refleksi dan ketenangan.
Dari sisi karakter wilayah, Yayat melihat wilayahwilayah di kabupaten lebih berpotensi menghadirkan suasana slow living. Kota-kota ini biasanya masih membawa warna pedesaan yang kuat dan tidak sepenuhnya terseret dinamika urban. Kehidupan berjalan lebih pelan, tuntutan produktivitas tidak agresif, dan relasi sosial masih terjaga.
Dia menilai kota-kota seperti Cianjur atau Sukabumi di Jawa Barat, serta berbagai kota di Jawa dan Sumatera, memiliki karakter tersebut. Kota-kota ini tidak menuntut warganya untuk terus bergerak cepat atau larut dalam gaya hidup konsumtif. Sebaliknya, kehidupan berlangsung dengan ritme yang lebih ramah bagi usia lanjut.
Namun, suasana yang tenang harus dibarengi dengan fasilitas yang memadai. Biaya hidup menjadi faktor penentu utama. Kota yang ideal bagi pensiunan adalah kota yang memungkinkan kebutuhan gizi, tempat tinggal, dan aktivitas harian terpenuhi sesuai kemampuan finansial. “Kemudian, kemudahan untuk akses kesehatan itu penting. Minimal ada rumah sakit yang mampu melayani kebutuhan pada kelompok lansia,” ujar Yayat.
Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya kebijakan kota yang berpihak pada lansia. Transportasi publik gratis, layanan kesehatan terjangkau, hingga ruang konsultasi terbuka menjadi indikator kota yang ramah pensiunan.
Pada akhirnya, memilih kota untuk slow living di masa pensiun adalah tentang memilih lingkungan yang menghargai waktu, merawat relasi sosial, dan memberi ruang bagi kehidupan yang tidak lagi dipaksa bergerak cepat. Di kotakota seperti inilah, masa pensiun menemukan maknanya, bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai fase hidup yang dijalani dengan tenang, pelan, dan penuh kesadaran.
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
