Bagi banyak orang, nasi goreng bukan sekadar makanan cepat saji. Kudapan ini lekat dengan aroma memikat, terhubung dengan memori masa kecil, kehangatan rumah, dan pengisi malam-malam panjang di kota yang tak pernah benar-benar tidur. Jakarta, dengan segala hiruk pikuk dan cahaya lampunya, menyimpan ratusan versi nasi goreng.
Salah satu yang menganggap nasi goreng sebagai makanan paling jujur adalah Bagus, seorang pekerja di bidang event asal Jakarta. Di tengah kesibukannya menyiapkan berbagai acara besar, ia punya satu ritual kecil yang tak pernah gagal menenangkan, yakni menyantap sepiring nasi goreng.
“Gue suka nasi goreng karena rasanya gurih dan bisa cocok di semua lidah. Selain itu, simpel, enggak perlu nunggu lama sudah bisa makan, dan isinya lengkap,” ujarnya kepada Media Asuransi beberapa waktu lalu.
Bagi Bagus, nasi goreng merupakan makanan yang selalu bisa diandalkan. Tidak perlu suasana mewah untuk menikmatinya. Dia justru mengaku lebih suka nasi goreng kaki lima karena bisa membantu UMKM sekitar, rasanya sepadan dengan harga, cepat disajikan dan juga bisa langsung dibungkus. Selain itu, menurut dia, di balik kesederhanaannya, ada kenangan yang selalu hadir di setiap suapannya.
“Nasi goreng itu ngingetin gue sama momen bareng keluarga. Malam-malam duduk bareng, nonton TV, terus makan nasi goreng buatan emak. Simpel, tapi hangat banget,” kenangnya.
Dari cerita Bagus, kita bisa paham bahwa nasi goreng bukan cuma soal rasa, tapi juga perasaan. Nah, buat penggemar nasi goreng yang tinggal atau banyak beraktivitas di seputaran Menteng, Jakarta Pusat, ada beberapa yang dapat Anda tuju kalau ingin menikmati sensasi dan cita rasa khas dan suasana tak kalah berkesan. Berikut beberapa penjual nasi goreng ala UMKM yang bisa jadi pilihan makan malam.
Bakmi Jawa Haji Minto
Sore menjelang petang, kawasan Stasiun Gondangdia di Jakarta Pusat berubah jadi arena berburu kuliner. Dulu, di antara deretan tenda dan aroma tumisan yang mengepul, berdirilah Bakmi Jawa Pak Haji Minto, sebuah warung yang sudah berdiri sejak tahun 1964. Namun kini warung legendaris tersebut pindah lokasi, di Jalan Menteng Raya 70, Jakarta Pusat (samping SMA Kolese Kanisius).
Warung kaki lima ini jadi tempat nongkrong para pencinta kuliner malam. Begitu jam menunjukkan pukul empat sore, kursi-kursi plastik di depannya langsung penuh. Tak jarang pembeli rela antre hingga 30 menit hanya untuk semangkuk mi atau nasi goreng legendaris.
Menu yang paling terkenal memang bakmi godog. Memang di banyak tempat nasi goreng dan bakmi tak dapat dipisahkan. Bagi pencinta nasi goreng, Anda wajib mencoba menu ini.
Kembali ke nasi gorengnya, seporsi nasi gila dibanderol sekitar Rp25 ribu, dan untuk porsi sebesar itu, dijamin enggak akan menyesal. Ada empat jenis nasi goreng yang ditawarkan, antara lain Nasi Goreng Gila, Nasi Goreng Daging Sapi plus Pete, Nasi Goreng Daging Ayam Pete, dan Nasi Goreng Daging Kambing Pete.
Trianto, generasi kedua penerus Bakmi Jawa Haji Minto, menuturkan bahwa warung ini setiap harinya bisa menghabiskan hampir 200 porsi pesanan. Dia bersama tim mulai berjualan sejak pukul empat sore hingga setengah sebelas malam. “Kurang lebih sehari hampir 200 porsi,” ujarnya kepada Media Asuransi.
Untuk harga, Trianto menyebut menu nasi goreng biasa dibanderol Rp23 ribu, kalau dengan varian ati ampela seharga Rp30 ribu dan nasi goreng kambing Rp32 ribu. Meski tergolong warung sederhana, ia benar-benar menjaga cita rasa dan kualitas tetap jadi prioritas utama.
Menurutnya, mempertahankan warung yang sudah berdiri sejak 1964 bukan perkara mudah. Namun, ada strategi sederhana yang selalu ia pegang sejak dulu. “Strateginya yang penting enggak usah untung banyak, yang penting langganan masih mau balik. Menjaga kualitas, tidak mengurangi rasa dan bumbu itu yang penting,” tutur Trianto.
Alamat: Jalan Menteng Raya 70, Kebun Sirih, Menteng, Jakarta Pusat
Jam buka: 16.00 – 22.30 WIB
Harga: Mulai dari Rp23.000
Gerobak LO
Kalau lagi cari nasi goreng dengan sentuhan unik, mampirlah ke Gerobak LO di Jalan Sabang, Kebon Sirih, Menteng. Dari luar, tampilannya biasa saja, yaitu gerobak sederhana dengan tenda plastik dan bangku kecil di pinggir jalan. Tetapi begitu nasi gorengnya datang, Anda akan paham mengapa tempat ini viral di media sosial.
Gerobak LO membawa konsep perpaduan antara nasi goreng Chinese dan nasi goreng tek-tek khas Indonesia. Bedanya ada pada penggunaan chili oil, minyak cabai ala Chinese food yang bikin rasa gurih pedasnya nendang tapi tetap halus di lidah.
Pegawainya memasak langsung di depan mata pembeli dengan wajan besar dan api super panas, menciptakan aroma smoky khas masakan Chinese. Proses “lempar-lempar nasi” di udara jadi atraksi tersendiri buat pengunjung yang menunggu pesanan.
Satu porsi nasi goreng chili oil dibanderol sekitar Rp20 ribu, dengan pilihan topping telur dadar atau mata sapi seharga tambahan Rp3 ribu. Disajikan di atas daun pisang, nasi goreng ini terasa hangat dan wangi begitu sampai di meja.
Rasanya gurih, pedas ringan, dan aromatik. Nasinya pulen dan sedikit basah, diisi orak-arik telur, ayam, otak-otak, daun bawang, serta potongan cabai merah. Di sisi piring, acar mentimun menambah kesegaran setelah setiap suapan pedasnya.
Buat yang ingin rasa lebih aman, ada juga versi nasi goreng original tanpa chili oil seharga Rp17 ribu. Dalam sehari, Gerobak LO bisa menjual 80 sampai 100 porsi, dan biasanya langsung ludes sebelum pukul sepuluh malam.
Alamat: Jalan H. Agus Salim No. 23B, Jakarta Pusat (depan Claypot Popo, Sabang)
Jam buka: 18.30 – 23.30 WIB
Harga: Mulai dari Rp17.000
Nasi Gila Gondrong Menteng
Kalau ada satu nama yang wajib disebut ketika bicara soal nasi goreng gila, tentu saja Nasi Gila Gondrong Menteng. Gerobak yang dulu berjualan di depan SDN 01 Menteng ini bisa dibilang pelopor tren nasi gila di Jakarta.
Yang membuat tempat ini semakin ikonik adalah kunjungan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat berkunjung ke Indonesia. Sejak itu, antrean pembeli makin panjang dan cabangnya menjamur di berbagai titik Jakarta.
Seporsi nasi goreng dibanderol mulai dari Rp25 ribu hingga yang paling mahal Rp44 ribu, tergantung topping-nya. Tetapi yang paling banyak dipesan tetap versi klasik dengan telur dadar dan sosis, kombinasi sederhana yang membangkitkan nostalgia masa kecil.
Lokasi: Menteng, Jakarta Pusat (beberapa cabang di area sekitarnya)
Harga: Rp25.000 – Rp44.000
Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih
Salah satu kuliner legendaris Jakarta yang masih bertahan hingga kini adalah Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih berlokasi di jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat. Berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Monumen Nasional (Monas), tempat makan ini terkenal dengan menu utamanya, yakni nasi goreng kambing.
Didirikan sejak 1958 oleh H. Nein, warung yang awalnya berupa lapak kaki lima ini kini menjelma menjadi restoran sederhana yang tak pernah sepi pengunjung. Meski tampil tanpa kemewahan, cita rasa nasi goreng kambingnya begitu khas dengan perpaduan rempah yang kuat dan aroma gurih yang menggugah selera.
Selain nasi goreng kambing, juga ada beragam menu lain seperti Nasi Goreng Sosis Bakso, Sop Kambing, Sate Ayam, hingga Sate Kambing. Kini, tempat legendaris ini dikenal dengan nama baru NasGorKam BonSir, sebagai upaya menjaga cita rasa dan identitas kulinerkeluarga yang telah melegenda selama puluhan tahun.
Joko Haryanto, 32 tahun, pengunjung di rumah makan ini mengakui nasi goreng kambing di sini layak disebut masakan legendaris. “Nasinya wangi, bumbunya gurih dan kuat tapi nggak bikin eneg. Daging kambingnya empuk dan porsinya juga banyak banget, bikin kenyang,” terangnya.
Dia juga menyukai suasana tempat makan yang ramai dan di pinggir jalan besar. “Suasananya rame tapi justru itu yang bikin makin seru,” imbuhnya.
Lokasi: Jl. Kebon Sirih No.3, Menteng, Jakarta Pusat.
Harga: Mulai Rp40 ribuan.
Sepiring Kenangan, Segenggam Kehangatan
Dari Gerobak LO yang memadukan gaya Chinese dengan pedas khas Nusantara, Haji Minto yang menawarkan rasa gurih klasik, Gondrong Menteng yang penuh nostalgia, hingga NasGorKam BonSir yang kuat rasa rempahnya, semuanya punya satu benang merah, yaitu kejujuran rasa.
Nasi goreng bukan tentang tampil mewah, tapi tentang cita rasa yang menenangkan, mengisi perut dan hati di waktu bersamaan. Di kota yang terus bergerak seperti Jakarta, sepiring nasi goreng bisa jadi alasan untuk berhenti sejenak. Menikmati malam, merasakan hangatnya uap nasi, dan membiarkan aroma bawang putih yang digoreng di wajan besar membawa diri pulang, meski hanya lewat rasa.
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
