Pengalaman memang dibutuhkan untuk menangani pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan terkait dengan kepercayaan atau trust. Hal ini yang membuat Sofi Suryasnia masih aktif bekerja di industri keuangan kendati sejatinya ia sudah pensiun dari perusahaan yang lama.
Sebelum bergabung sebagai Direktur Kepatuhan PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII), Sofi menjalani karier di Bank BJB selama 32 tahun. Dari mulai staf sampai dengan pemimpin divisi, antara lain divisi international banking, divisi corporate secretary, divisi funding, dilanjutkan dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Utama Dana Pensiun dan Bendahara Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) Bank BJB.
“Saya pensiun November 2021, bergabung di sini (YOII) Juli 2022 sampai saat ini. Alhamdulilah saya masih dipercaya,” jelasnya kepada Media Asuransi, beberapa waktu lalu.
Keahliannya di bidang risk management membuatnya dipercaya memegang posisi direktur kepatuhan di perusahaan asuransi yang fokus pada pemasaran digital ini. “Saya memang senang di dunia compliance,” tuturnya.
Sofi juga tercatat mengajar akuntasi di STIE Ekuitas Bandung milik Bank BJB, juga pengajar risk management di Universitas Padjajaran dan dosen aktuaria di Universitas Gajah Mada. Sehingga bidang pengelolaan risiko sudah menjadi santapan sehari-hari.
Selain itu Sofi dipercaya menjadi juri di beberapa ajang penghargaan terkait kepatuhan, seperti GRC (Government Risk Management and Compliance) Award, Top GRC Award, Top Digital Award, Top HR Award dan Top BUMD Award.
Dia harus memastikan sebuah produk asuransi mematuhi peraturan dari regulator, sebelum produk itu diluncurkan ke masyarakat. Juga kewajiban-kewajiban lain dari regulator terhadap perusahaan asuransi, ia harus memastikan dipatuhi, seperti ketentuan ekuitas minimum, dan sebagainya. “Saya buat daftar checklist, mana yang sudah comply, mana yang belum,” paparnya.
Termasuk proses-proses digital saat ini yang menggantikan proses kontak fisik atau tatap muka, Sofi harus memastikannya sesuai regulasi.
Hal yang membuatnya tertarik bergabung dunia asuransi adalah karena industri keuangan sudah menjadi bidang yang ia tekuni. “Semua IKNB (industri keuangan non bank) dan bank telah saya jalani, mulai dari bank, asuransi, hingga dana pensiun,” papar pemegang gelar doktor business, management dan marketing Universitas Padjajaran ini.
Dia juga menyandang gelar certified securities analyst atau CSA, gelar profesi bergengsi untuk analis pasar modal. Gelar CSA diperlukan karena ia harus memimpin Dana
Pensiun dan Yayasan Kesejahteraan Pegawai Bank BJB, karena dana pensiun berhubungan dengan investasi di pasar modal.
Benang merah antara perbankan, dana pensiun, dan perusahaan asuransi, menurutnya adalah trust atau kepercayaan. Karena semua berhubungan dengan uang masyarakat, yang ditaruh di sana untuk dikelola. Hanya ia merasakan ada perbedaan jauh antara perbankan dan asuransi. “Kalau perbankan pegang uang, asuransi kan pegang kertas ya, atau perjanjian saja. Kita harus pegang janji. Jadi yang ditekankan kepatuhan pada kontrak,” pungkasnya.
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
