Masa pergantian tahun, dari 2025 ke 2026, dibayangi dengan kekhawatiran makin turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Masih terlihat tanda-tanda pelemahan rupiah terus berlanjut hingga awal 2026.
Data menunjukkan bahwa pada 22 Desember 2025, posisi dolar pada saat penutupan di level Rp16.765 per dolar AS. Sementara pada perdagangan terakhir, 24 Desember 2025, rupiah berada di level Rp16.750 per dolar AS.
Sepanjang 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang acap naik turun secara signifikan. Pada awal April 2025, bahkan nilainya sempat melemah hingga ke level Rp17.000 per dolar AS di non-deliverable forward (NDF).
Data Refinitiv pada 6 April 2025 pukul 08:10 WIB, nilai tukar rupiah mencapai Rp17.059 per dolar AS. Keesokan harinya, 7 April 2025 pukul 10:43 WIB, nilai tukar rupiah telah mencapai Rp17.261/US$ atau merupakan posisi terendah sepanjang sejarah.
NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.
Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF sering diikuti oleh pasar spot.
Pada Mei 2025, kondisinya relatif membaik atau memasuki fase bullish. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung menguat bahkan mencapai level Rp16.170 per dolar AS pada pembukaan perdagangan 26 Mei 2025.
Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa tingginya ketidakpastian ekonomi Indonesia, membuat proyeksi kurs sepanjang 2025 tidak tercapai. Proyeksi rata-rata nilai tukar rupiah dalam Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) 2025, sebesar Rp15.285 per dolar AS.
Selama 2025, rupiah menempati posisi kedua dari bawah di antara mata uang Asia. Pada tahun lalu, rupiah terdepresiasi hampir empat persen, sedikit lebih baik dari rupee India yang melemah hampir lima persen.
Kondisi ini terutama dipengaruhi berbagai faktor eksternal, termasuk kebijakan tarif yang dikenakan oleh Presiden AS, Donald Trump, kepada lebih dari 100 negara. Di sisi lain, investor global sebenarnya lebih memprioritaskan prospek fiskal Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, meski pasar Indonesia rentan terhadap fluktuasi sentimen asing yang cenderung liar dan ketidakpastian global.
Padahal, Indonesia pernah begitu konsisten meningkatkan kredibilitasnya di mata investor. Hal itu tercapai berkat pengelolaan ekonomi yang bijaksana hingga mampu mengangkat rating kreditnya dari junk menjadi layak investasi (investment grade).
Namun, pelemahan rupiah yang terjadi menjelang akhir tahun, diperkirakan berlanjut hingga awal tahun. Bukan karena ketidakpastian global, melainkan kondisi perekonomian AS yang diproyeksikan cenderung membaik di awal 2026.
Jadi faktor pertama penyebab dolar AS membaik terhadap rupiah adalah ekspektasi pasar terhadap Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu lama, seiring rilis data tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan semula.
Faktor kedua, masih dari ketidakpastian geopolitik setelah operasi militer AS di Venezuela pada awal Januari. Terkini Presiden AS berencana mengakuisisi Greenland. Kondisi geopolitik ini diyakini berkontribusi pada peningkatan permintaan safe haven, yakni dolar AS.
Sedangkan dari sisi domestik, kekhawatiran terhadap posisi fiskal Indonesia semakin meningkat. Defisit anggaran 2025 dilaporkan melebar menjadi sekitar 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB), mendekati batas maksimal dalam undang-undang, yakni tiga persen.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang terus berlanjut, apalagi jika tembus level Rp17.000 per dolar AS, akan berpengaruh banyak terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Bahkan, dampak langsung yang dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga barang-barang yang memiliki kandungan impor, termasuk bahan pangan tertentu, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, hingga BBM dan LPG.
Jika kenaikan harga ini tidak diikuti kenaikan pendapatan, maka daya beli masyarakat akan melemah lagi. Kemampuan belanja maupun saving masyarakat akan menurun, sehingga pada akhirnya industri perasuransian akan terkena dampaknya.
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
