Media Asuransi, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di 2025 sempat menembus rekor all time high (ATH). Muncul pertanyaan, apa yang sebaiknya dilakukan investor, khususnya pengguna reksa dana, di tengah tercetaknya rekor demi rekor?
Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Dimas Ardhinugraha, mengatakan bahwa pasar yang sehat memang sewaktu-waktu mencetak rekor baru. Rekor hanyalah konsekuensi aritmetika dari tren laba emiten yang tumbuh dan likuiditas yang mendukung.
Menurut dia, pasar saham di Indonesia, 2025 menjadi contoh bagaimana pasar bisa pulih pasca gejolak, mencetak 24 ATH sepanjang tahun, dan menutup di level tertinggi baru, lalu berlanjut pada 2026. “Implikasi praktisnya, ATH tidak otomatis berarti ‘pasar pasti turun’,” kata Dimas dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu, 21 Januari 2026.
|Baca juga: 3 Tantangan Utama Investasi dan Solusi Investor Pemula Wajib Tahu
Dia tambahkan, data historis global juga menunjukkan kenaikan dan pemulihan dapat terjadi cepat dan tak terduga. “Itulah sebabnya meninggalkan pasar lalu menunggu harga turun sering berujung ketinggalan best days yang menggerus hasil jangka panjang,” tuturnya.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa banyak investor membandingkan reksa dana saham dengan IHSG, padahal struktur keduanya berbeda. IHSG mencerminkan seluruh saham yang tercatat di BEI, sedangkan LQ45 berisi 45 saham dengan kapitalisasi besar, likuiditas tinggi, dan secara fundamental cukup kuat.
Perbedaan metodologi, termasuk cakupan konstituen, peninjauan dan berbagai aspek lainnya, secara alami menimbulkan perbedaan kinerja IHSG dan LQ45 dari waktu ke waktu. Pada beberapa fase, IHSG dapat terdorong oleh segmen saham yang di luar fokus blue chips, sehingga selisih kinerja IHSG vs LQ45 (dan produk yang berkiblat pada saham besar/likuid) bukanlah hal baru.
|Baca juga: Tidak Lagi Hanya Asing, Investor Lokal Diprediksi Jadi Kunci Reli Pasar Modal RI di 2026
Menurut Dimas, hal ini harus menjadi perhatian khusus investor reksa dana saham. Dari ratusan emiten penyusun IHSG, tidak sedikit saham berkarakter high momentum, yaitu yang harganya naik agresif dalam jangka pendek.
Saham-saham ini umumnya tidak memenuhi kriteria investable bagi reksa dana yang dikelola secara prudent (misalnya karena likuiditas tipis, tata kelola, ukuran kapitalisasi, atau ketahanan fundamental).
Akibatnya, ketika kelompok high momentum mendominasi penguatan IHSG, reksa dana berbasis quality blue chips berpotensi terlihat tertinggal sementara. Namun, saat rotasi pasar kembali ke fundamental dan likuiditas, produk yang terdiversifikasi dan berprinsip tata kelola cenderung mendapat potensi lebih.
Psikologi Investor
ATH sering memicu FOMO (Fear of Missing Out) atau takut tertinggal, overconfidence, dan performance chasing. Praktisi pasar modal menekankan bahwa bias perilaku sering menggerus hasil investasi karena mendorong buy high, sell low. Edukasi dari pelaku industri menyoroti tiga bias utama: overconfidence, herding/FOMO, dan loss aversion, serta menganjurkan disiplin data dan proses.
Agen penjual reksa dana juga mengingatkan bahwa market timing sulit bahkan bagi profesional; strategi yang lebih andal adalah investasi berkala (Dollar Cost Averaging) dan diversifikasi lintas aset, terutama saat emosi memanas.
Sejumlah studi populer menunjukkan betapa mahalnya melewatkan ‘beberapa hari terbaik’ setelah gejolak. Intinya: rebound terjadi cepat, dan absen beberapa hari kunci berpotensi memangkas imbal hasil secara drastis.
“Karena hampir mustahil menebak kapan terjadinya best days, maka disiplin alokasi dan time in the market berpeluang menghasilkan profil imbal hasil atau risiko yang lebih baik bagi mayoritas investor,” kata Dimas.
|Baca juga: Investor Ritel Domestik Kian Aktif, IHSG Catat Rekor Tertinggi 24 Kali di 2025!
Bagaimana menerjemahkan ATH menjadi keputusan yang lebih cerdas? Jawabannya adalah setia pada tujuan dan jangka waktu yang sudah direncanakan, kemudian evaluasi portofolio terhadap goal, misalnya pendidikan, pensiun, dan wealth accumulation, bukan terhadap satu titik ATH. Hal ini juga sejalan dengan penekanan regulator untuk meningkatkan kualitas pemahaman risiko dan transparansi produk bagi investor.
Kemudian pastikan diversifikasi lintas aset dan strategi. Jangan berfokus pada satu sektor atau satu instrumen yang baru saja outperform. Kombinasikan saham kapitalisasi besar, obligasi, dan pasar uang sesuai profil risiko.
Terapkan DCA dan rebalancing. Di fase euforia, DCA membantu menahan diri dari overtrading dan menormalisasi harga masuk. Rebalancing berkala mengunci sebagian gain dari aset yang sudah melesat dan mendorong aset yang tertinggal.
|Baca juga: Kenali Profil Risiko Anda sebagai Investor, Sesuai Panduan dari Bos BNI Sekuritas
Gunakan tolok ukur yang tepat. Jika reksa dana Anda berfokus pada blue chips atau likuiditas tinggi, membandingkan kinerjanya dengan IHSG dapat menyesatkan. Saatnya berkenalan dengan beragam indeks yang lebih tepat menggambarkan portofolio Anda.
Berikutnya adalah memahami dispersi. Perbedaan antara IHSG, LQ45, dan reksa dana saham dapat melebar pada fase tertentu. Ini sering mencerminkan komposisi dan kriteria indeks atau portofolio, bukan kegagalan strategi. Ketika pasar berotasi dari high momentum ke quality atau liquid blue chips, selisih tersebut berpeluang mengecil.
Dimas juga mengingatkan bahwa disiplin dapat mengalahkan ‘drama harga’. Dia tegaskan, ATH bukan sinyal jual otomatis, sama seperti koreksi bukan sinyal beli tanpa analisis. “Pemahaman perbedaan metodologi indeks, kesadaran akan bias perilaku, dan komitmen pada proses yakni DCA, diversifikasi, rebalancing, adalah kunci menerjemahkan rekor pasar menjadi hasil investasi yang lebih konsisten,” tuturnya.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
