1
1

Bitcoin Terpukul Sentimen Global, Ini Level yang Harus Dipantau Investor

Mata uang digital Bitcoin. | Foto: Dirjen Pajak

Media Asuransi, JAKARTA – Harga Bitcoin terpantau bergerak di kisaran US$67.172 pada Kamis siang, 19 Februari 2026. Sedikit membaik setelah sempat turun hingga di bawah US$66.500. Pelemahan tersebut terjadi tak lama setelah rilis risalah rapat (minutes meeting) The Fed yang dinilai lebih agresif (hawkish) dari ekspektasi pasar.

Menurut Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, respons pasar kripto kali ini mencerminkan penyesuaian cepat terhadap sinyal kebijakan moneter AS. “Nada minutes yang hawkish membuat pelaku pasar kembali menghitung ulang peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ketika ekspektasi pemangkasan mundur, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung ikut tertekan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Jumat, 20 Februari 2026.

Risalah rapat The Fed Januari yang dipublikasikan Rabu, 18 Februari 2026, waktu setempat menunjukkan beberapa pejabat The Fed menilai belum ada urgensi untuk kembali melanjutkan pemangkasan suku bunga. Sejumlah anggota bahkan membuka ruang untuk kenaikan suku bunga jika inflasi tetap bertahan di atas target dua persen.

|Baca juga: Bitcoin Tembus US$96.000, Regulasi AS dan Data Inflasi Dorong Optimisme Pasar Kripto

Dalam rapat 27–28 Januari, Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen melalui voting 10-2.

Dua anggota yang berbeda pendapat, Gubernur Christopher Waller dan Stephen Miran, mendorong penurunan seperempat poin dengan alasan risiko pada pasar tenaga kerja. Namun mayoritas anggota FOMC menilai pelonggaran lebih lanjut di tengah inflasi yang belum sepenuhnya stabil dapat melemahkan komitmen terhadap target inflasi dua persen.

Minutes juga mencatat adanya pembahasan mengenai kemungkinan ‘penyesuaian ke atas’ suku bunga apabila tekanan harga tidak mereda sesuai harapan.

|Baca juga: Industri Kripto Perlu Regulasi yang Inklusif dan Adaptif

 

Tekanan Makro dan Geopolitik

Bitcoin sempat meluncur dari sekitar US$68.300 ke bawah US$66.500 setelah minutes dirilis pada sesi perdagangan AS. Tekanan makin kuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik AS-Iran yang mendorong harga minyak naik lebih dari empat persen dan menekan selera risiko investor global.

Fyqieh menilai faktor geopolitik turut memperbesar tekanan pada aset berisiko. “Ketika risiko geopolitik naik dan harga minyak melonjak, pasar cenderung masuk mode risk-off. Itu biasanya membuat volatilitas kripto meningkat karena investor mengurangi eksposur,” katanya.

Di sisi lain, kembalinya likuiditas pasar Asia usai libur Tahun Baru Imlek juga membuat pergerakan harga lebih tajam. Peningkatan volume dan perputaran perdagangan dinilai memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek.

|Baca juga: Membaca Sinyal Teknis Bitcoin dan Risiko Lanjutan

Pelaku pasar juga mencermati transisi kepemimpinan The Fed. Masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026, sementara Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai pengganti.

Warsh dipandang lebih condong mendukung suku bunga rendah, namun minutes memperlihatkan mayoritas anggota FOMC masih memprioritaskan pengendalian inflasi. Sementara itu, pasar berjangka saat ini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga paling cepat terjadi pada Juni 2026.

 

Fase Konsolidasi

Menanggapi pergerakan harga tersebut, Fyqieh menilai volatilitas yang terjadi mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik. “Minutes The Fed yang lebih hawkish membuat pelaku pasar kembali menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga. Ini memberi tekanan jangka pendek pada aset berisiko seperti kripto,” ujar Fyqieh.

|Baca juga: Ekonom Permata Bank Beberkan 4 Risiko Global yang Berdampak ke Ekonomi RI

Secara teknikal, ia menyebut Bitcoin saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dan berada di area krusial. “Bitcoin sedang bergerak di sekitar zona support jangka pendek di kisaran US$66.200 hingga US$67.800. Selama area ini bertahan, peluang pemulihan tetap terbuka, meskipun pergerakan cenderung terbatas karena pasar masih menunggu katalis baru,” jelasnya.

Menurutnya, level resistensi terdekat berada di sekitar US$68.380. “Jika mampu menembus level tersebut, harga berpotensi menguji area berikutnya di US$69.250 hingga US$70.800. Namun jika tekanan jual kembali meningkat dan support gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan tetap ada,” tambah Fyqieh.

Dengan kombinasi sikap The Fed yang cenderung ketat, ketidakpastian kepemimpinan bank sentral AS, serta dinamika geopolitik global, pasar kripto diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa pekan ke depan sambil menanti sinyal yang lebih jelas terkait arah kebijakan moneter AS.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Eka Hospital Perkuat Layanan Robotik di Tengah Tingginya WNI Berobat ke Luar Negeri
Next Post IHSG Ditutup Melemah di Sesi I

Member Login

or