1
1

Eastspring Investments Indonesia: Moody’s Effect Dorong Sikap Hati-hati Investor

Ilustrasi pergerakan reksa dana. | Foto: Eastspring Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia kembali mendapat tekanan pada perdagangan hari ini seiring melemahnya sentimen pasar pascapengumuman penurunan outlook peringkat utang Indonesia oleh Moody’s, pada Kamis, 5 Februari 2026, sehingga mendorong sikap kehati-hatian investor.

Pada sesi pertama perdagangan, IHSG terkoreksi sebesar -2,83 persen atau turun -229,46 poin ke level 7.874,42, setelah dibuka melemah dan bergerak di zona merah sepanjang sesi. Tekanan jual terutama datang dari sejumlah saham unggulan, antara lain ASII (-5,04 persen), BBCA (-1,92 persen), BREN (-3,94 persen), BRMS (-7,65 persen), dan BRPT (-8,33 persen).

Nilai tukar rupiah melemah -0,24 persen di level Rp16.882 per dolar AS. Sementara di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor lima tahun naik 12 bps (basis points) menjadi 5,79 persen, SBN tenor 10 tahun naik 10 bps menjadi 6,43 persen, dan SBN tenor 20 tahun naik sembilan bps menjadi 6,67 persen.

|Baca juga: Eastspring Indonesia Gandeng Maybank Indonesia Pasarkan Reksa Dana ESIGMA

Pada tanggal 5 Februari 2026, Moody’s mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di Baa2, tetapi menurunkan outlook obligasi pemerintah dalam mata uang lokal dan asing dari stabil menjadi negatif.

Moody’s menilai bahwa dalam setahun terakhir terjadi pelemahan dalam prediktabilitas dan koherensi kebijakan, termasuk komunikasi kebijakan yang kurang efektif. Hal itu tecermin dari menurunnya indikator efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi.

Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan meningkat seiring dengan perluasan program belanja sosial seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan Perumahan Terjangkau di tengah basis pendapatan negara yang masih lemah. Terdapat ketidakpastian terkait pembentukan Danantara, khususnya mengenai tata kelola, skema pendanaan dan potensi kewajiban kontingen yang berasal dari perusahaan milik negara. Serta meningkatnya perdebatan mengenai kemungkinan perubahan batas defisit fiskal tiga persen, mandat Bank Indonesia dan kebijakan di sektor sumber daya alam.

|Baca juga: Eastsprings Investments: MSCI Overhang Masih Menekan Pergerakan Pasar Saham

Selain itu, Moody’s menyoroti meningkatnya volatilitas pasar keuangan (nilai tukar rupiah dan pasar saham) serta risiko terhadap kepercayaan investor. Dari sisi sosial, meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap pertumbuhan pendapatan, lapangan kerja dan standar hidup dipandang sebagai faktor yang meningkatkan risiko terhadap stabilitas politik dalam negeri.

Lantas, apa dasar Moody’s mempertahankan rating Baa2? Pertama, Moody’s menilai bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih solid didukung oleh kekayaan sumber daya alam dan demografi yang besar. Kedua, pertumbuhan PDB diperkirakan tetap berada di kisaran lima persen dalam jangka menengah.

Ketiga, disiplin fiskal secara umum masih terjaga, dengan defisit diproyeksikan tetap di bawah tiga persen PDB. Keempat, rasio utang pemerintah masih lebih rendah dibandingkan median negara berperingkat Baa, dengan asumsi kehati-hatian fiskal tetap dipertahankan. Kelima, kredibilitas kebijakan moneter masih menjadi jangkar stabilitas makroekonomi dan inflasi.

|Baca juga: Dana Kelolaan Eastspring Indonesia Melejit Menjadi Rp72,9 Triliun

Sementara itu, Moody’s mengindikasikan bahwa tekanan penurunan rating dapat terjadi apabila: pertama, kebijakan fiskal menjadi lebih ekspansif tanpa adanya reformasi pendapatan negara yang berkelanjutan. Kedua, posisi eksternal memburuk secara signifikan, misalnya melalui depresiasi nilai tukar yang berkepanjangan atau arus keluar modal yang besar. Ketiga, kesehatan keuangan perusahaan milik negara (BUMN) melemah, terutama karena tata kelola yang lemah atau hasil investasi yang kurang baik di bawah manajemen Danantara.

Dikutip dari keterangan tertulis Eastspring Investments Indonesia, situasi saat ini lebih mencerminkan sikap kehati-hatian pasar, bukan indikasi ketidakmampuan bayar atau restrukturisasi utang. Secara historis, peringkat kredit Indonesia telah menunjukkan tren kenaikan yang relatif konsisten sejak awal tahun 2000-an. Oleh karena itu, kondisi saat ini lebih tepat dipandang sebagai peringatan, sejalan dengan sinyal kehati-hatian yang tercermin dalam konsultasi MSCI baru-baru ini.

Di pasar saham, investor asing diperkirakan akan mempertahankan sikap wait and see, sementara di pasar obligasi, respons awal kemungkinan akan bersifat reaktif, mirip dengan dinamika setelah pengumuman MSCI pekan lalu. Kurva imbal hasil kemungkinan akan mengalami bear flattening, mencerminkan posisi investor yang relatif terkonsentrasi pada tenor pendek hingga menengah, sementara eksposur terhadap tenor panjang tetap terbatas. Dalam jangka pendek, nilai tukar rupiah diperkirakan akan menghadapi tekanan dan dapat melemah sementara menuju kisaran Rp17.000 per dolar AS.

|Baca juga: Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11% Yoy, Bank Indonesia akan Perkuat Kebijakan untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Meskipun demikian, pergerakan pasar diperkirakan akan tetap terkendali. Dalam jangka pendek, imbal hasil SBN tenor 10 tahun diproyeksikan kembali ke kisaran 6,25 persen hingga 6,35 persen, dengan nilai tukar rupiah cenderung stabil di Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS. Tekanan akan relatif terkendali, karena investor asing telah underweight terhadap aset obligasi Indonesia dalam setahun terakhir. Dukungan stabilisasi diperkirakan akan datang dari intervensi otoritas dan/atau peningkatan pembelian oleh investor domestik.

Menurut Eastspring Investments Indonesia, dengan fundamental makroekonomi yang tetap solid dan pendorong utamanya lebih terkait dengan tata kelola dan kredibilitas kebijakan, daripada tekanan utang atau pelemahan struktural makroekonomi, kembalinya outlook Indonesia menjadi stabil masih menjadi skenario dasar yang mungkin terjadi. Namun, risiko akan meningkat jika lembaga pemeringkat lain, seperti Fitch Ratings atau S&P Global Ratings, ikut merevisi outlook atau rating mereka waktu melakukan review tahun ini, atau jika posisi makro Indonesia melemah secara signifikan.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Danantara Indonesia Bersama Para Pemangku Kepentingan Dukung  Penguatan Struktur Pasar
Next Post Telkom Buka Program Magang Khusus AI dan B2B Solutions untuk Mahasiswa

Member Login

or