1
1

Eastsprings Investments: MSCI Overhang Masih Menekan Pergerakan Pasar Saham

Investor sedang mengamati pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia Jakarta beberapa waktu lalu. | Foto: Media Asuransi/Lucky

Media Asuransi, JAKARTA – Tekanan jual di pasar saham Indonesia berlanjut pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026. Aksi jual yang relatif dalam terus berlanjut, meskipun ada pengumuman akhir pekan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) tentang delapan poin kebijakan strategis yang bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi pasar modal domestik.

Tekanan yang terus berlanjut ini mencerminkan respons hati-hati investor terhadap meningkatnya volatilitas pasar, khususnya di tengah arus keluar modal asing yang berkelanjutan. Sentimen pasar belum menunjukkan pemulihan yang solid, sehingga potensi kenaikan diperkirakan akan tetap terbatas dalam jangka pendek, sementara pelaku pasar menunggu katalis yang lebih kuat dan kepastian tentang arah kebijakan di masa depan.

|Baca juga: Dana Kelolaan Eastspring Indonesia Melejit Menjadi Rp72,9 Triliun

Pada sesi pertama, IHSG terkoreksi -5,31 persen atau -442,44 poin ke level 7.887,16, dengan saham DSSA (-14,60 persen), AMMN (-12,83 persen), BRMS (-14,81 persen), BRPT (-14,81 persen), dan FILM (-15 persen) menjadi pemberat utama.

Pada 1 Februari 2026, telah diselenggarakan forum dialog yang melibatkan OJK, BEI, SRO, serta para pelaku industri pasar modal. Forum ini menegaskan komitmen bersama untuk menjaga stabilitas pasar sekaligus melanjutkan agenda reformasi struktural di pasar modal Indonesia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui delapan agenda penguatan dan reformasi integritas pasar modal, yang terdiri dari:

|Baca juga: Eastspring Indonesia Yakin Produk Barunya Diminati Investor

  1. Menaikkan batas minimum free float menjadi 15 persen sesuai standar global, berlaku segera untuk IPO baru dan bertahap untuk emiten yang sudah tercatat pada bursa.
  2. Memperkuat transparansi Ultimate Beneficial Ownership (UBO) dan afiliasi pemegang saham.
  3. Penguatan data akurasi kepemilikan saham oleh KSEI dan penurunan ambang batas pelaporan dari lima persen menjadi satu persen.
  4. Demutualisasi bursa untuk memperkuat tata kelola dan memitigasi konflik kepentingan melalui pemisahan fungsi komersial dan pengawasan.
  5. Memperkuat penegakan hukum dan sanksi pasar terhadap pelanggaran, termasuk manipulasi transaksi saham dan informasi menyesatkan.
  6. Peningkatan standar governance emiten melalui pendidikan berkelanjutan bagi direksi/komisaris/komite audit serta kewajiban sertifikasi profesi penyusun laporan keuangan.
  7. Pendalaman pasar terintegrasi dari sisi permintaan, penawaran, dan infrastruktur, termasuk peningkatakn batas investasi saham untuk dana pensiun dan asuransi menjadi 20 persen dan investasi pada saham berkualitas, dengan larangan pada saham spekulatif.
  8. Memperkuat kolaborasi dan sinergi antar-stakeholders, penguatan antara pemerintah, regulator, SRO, pelaku industri, dan asosiasi untuk memastikan reformasi berkelanjutan.

|Baca juga:Pasar Modal Bergejolak, Komisi XI Minta Polemik Free Float Tidak Dianggap Sepele!

Dikutip dari keterangan tertulis Eastsprings Investments, dari sisi global, tekanan tambahan datang dari dinamika kebijakan moneter AS menyusul penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve untuk menggantikan Jerome Powell, menunggu konfirmasi Senat. Meskipun Warsh baru-baru ini menunjukkan sikap yang lebih sejalan dengan dorongan Presiden Trump untuk memangkas suku bunga, rekam jejaknya yang cenderung hawkish telah menimbulkan kekhawatiran bahwa arah kebijakan The Fed di masa depan mungkin kurang akomodatif daripada ekspektasi pasar.

Respons kebijakan yang diambil telah secara signifikan mengurangi risiko reklasifikasi pasar, sekaligus menggeser fokus dari isu-isu fundamental ke pelaksanaan kebijakan dan waktu implementasinya. Langkah-langkah tambahan yang diambil, termasuk perubahan kepemimpinan di beberapa pejabat tinggi di lembaga-lembaga terkait, dapat dilihat sebagai upaya untuk memperkuat kepercayaan pasar dan mempertegas komitmen terhadap tata kelola yang lebih baik.

Meskipun volatilitas pasar masih berpotensi meningkat dalam jangka pendek, serangkaian reformasi yang sedang berlangsung diharapkan secara bertahap dapat memulihkan kepercayaan investor dan mempertahankan daya tarik pasar saham Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post CIMB Niaga (BNGA) Ajak Nasabah Kelola Gaji dengan Lebih Bijak melalui OCTO
Next Post Tommy Soeharto Lepas Seluruh Kepemilikan Langsung di Humpuss Intermoda (HITS), Ada Apa?

Member Login

or