Media Asuransi, JAKARTA – PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) mencatatkan kinerja penuh tantangan sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan harus menelan rugi bersih sebesar US$128 juta akibat tekanan operasional di awal tahun, meskipun sempat menunjukkan pemulihan kinerja secara bertahap hingga akhir periode.
Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim mengungkapkan gangguan operasional pada awal tahun menjadi pukulan utama terhadap produksi dan pendapatan perusahaan. Kondisi ini juga diperparah oleh cuaca buruk serta penurunan kontribusi dari sejumlah site tambang.
“FY2025 merupakan tahun yang menantang bagi grup. Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat,” ujar Iwan, dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Selasa, 31 Maret 2026.
Secara kinerja operasional, volume overburden removal tercatat turun 19 persen secara tahunan menjadi 439 juta bank cubic meters (MBCM). Sementara itu, produksi batu bara ikut terkoreksi enam persen menjadi 84 juta ton, seiring dampak gangguan di awal tahun dan proses penyelesaian kontrak di beberapa wilayah operasional.
Dari sisi keuangan, pendapatan perusahaan turun 16 persen secara tahunan menjadi US$1,48 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya volume produksi, meskipun harga jual rata-rata relatif stabil.
Di sisi profitabilitas, EBITDA tercatat sebesar US$175 juta dengan margin 14 persen. Namun, jika tidak memperhitungkan biaya pesangon, EBITDA sebenarnya mencapai US$207 juta dengan margin 17 persen.
|Baca juga: Mayoritas Anggota AFPI Siap Ajukan Banding terkait Putusan KPPU
|Baca juga: Begini Respons OJK tentang Putusan KPPU di Dugaan Kasus Kartel Suku Bunga Pindar
|Baca juga: Bos OJK Perkirakan Inflasi Medis Masih Jadi Tantangan Utama Industri Asuransi RI
Meski tertekan di sepanjang tahun, namun BUMA mencatatkan pemulihan operasional yang konsisten. Perbaikan ini didorong oleh peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya, yang mulai terlihat sejak kuartal kedua hingga akhir tahun.
Iwan menyebut, perusahaan merespons tekanan tersebut dengan melakukan sejumlah langkah strategis untuk memperbaiki kinerja operasional dan menjaga kondisi keuangan tetap stabil.
“Kami merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan,” ujar Iwan.
Selain itu, perusahaan juga memperkuat struktur pendanaan melalui sejumlah aksi korporasi, termasuk penerbitan sukuk dan obligasi, serta pelunasan lebih awal utang senior notes senilai US$212 juta.
Memasuki 2026, BUMA menilai kondisi perusahaan telah lebih siap dengan fondasi operasional dan keuangan yang lebih kuat. Hal ini didukung oleh perbaikan kinerja yang terjadi secara bertahap sepanjang tahun sebelumnya.
“Kami memasuki 2026 dengan fondasi operasional yang lebih kuat, neraca keuangan yang lebih tangguh, serta basis kontrak yang lebih terjamin,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
