Media Asuransi, JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperingatkan pasar saham domestik mulai memasuki fase distribusi di tengah meningkatnya risiko stagflasi, meskipun bursa global menunjukkan rebound yang kuat.
Pelemahan IHSG yang disertai arus keluar dana asing dinilai mencerminkan tekanan domestik yang semakin dominan di tengah ketidakpastian global. IHSG tercatat melemah 0,6 persen ke level 7.048 dengan foreign net sell Rp1,2 triliun, terutama pada saham perbankan besar seperti BBRI dan BBNI serta saham komoditas seperti BRMS dan BUMI.
|Baca juga: Bos AAUI Sebut Digitalisasi Bakal Topang Jalur Keagenan dan Bancassurance di 2026
|Baca juga: Pulihkan Harga Minyak, Program Asuransi AS untuk Kapal di Selat Hormuz Siap Meluncur
Kondisi ini berlawanan dengan penguatan indeks global seperti Dow Jones dan S&P 500, menunjukkan divergensi yang semakin lebar. Kenaikan harga minyak mentah Brent ke kisaran US$118 per barel menjadi salah satu faktor utama tekanan pasar.
Di sisi lain, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menjelaskan, keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi dinilai penting untuk menjaga inflasi dan daya beli, namun berpotensi menekan ruang fiskal.
“Bias sell-on-strength masih relevan pada saham perbankan besar dan sektor siklikal, sementara peluang relatif lebih menarik pada saham defensif dengan fundamental kuat dan eksposur domestik,” ujar Rully Arya Wisnubroto, dalam keterangan resminya, Rabu, 1 April 2026.
|Baca juga: Danamon (BDMN) Resmi Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris. Nobuya Kawasaki Ditunjuk Jadi Dirut
Ia menambahkan pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi dinamika arus dana asing dan sentimen global. “Fase distribusi saat ini mengindikasikan IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan lanjutan hingga ke kisaran 7.005, dengan level support kritikal yang perlu dicermati berada di area 6.892,” ujarnya.
Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menyebut pemerintah tengah menyiapkan paket kebijakan untuk meredam volatilitas global, termasuk efisiensi fiskal, pengaturan WFH, dan penyesuaian kebijakan energi. Kebijakan ini diperkirakan tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan daya beli masyarakat.
|Baca juga: Bidik Rp68,4 Miliar, Asuransi Digital Bersama (YOII) Siap Right Issue
|Baca juga: JMA Syariah Berpotensi Terlambat Sampaikan Laporan Keuangan Audit 2025, Ada Apa?
“Kombinasi penghematan anggaran, optimalisasi belanja, dan perbaikan administrasi pajak berpotensi menjaga defisit tetap terkendali bahkan dalam skenario harga minyak tinggi,” kata Jessica Tasijawa.
Mirae Asset memproyeksikan inflasi Maret 2026 sebesar 3,8 persen YoY, menurun dari bulan sebelumnya, meski risiko kenaikan tetap ada akibat faktor musiman dan tekanan energi. Kebijakan pemerintah yang memutuskan tidak menaikkan harga BBM subsidi dinilai turut membantu menjaga inflasi dan daya beli masyarakat dalam jangka pendek.
|Baca juga: Sequis Life Sebut Proteksi Asuransi Bikin Generasi Lebih Sehat dan Cerdas Finansial
“Probabilitas Indonesia memasuki fase stagflasi saat ini berada di 5–10 persen dan relatif rendah, didorong tekanan inflasi yang bersifat musiman serta dukungan kebijakan fiskal, termasuk kebijakan penahanan harga BBM. Namun, risiko dapat meningkat jika tensi geopolitik berlanjut dan mendorong harga energi lebih tinggi,” ujarnya.
Di pasar keuangan, yield SBN 10 tahun relatif stabil di kisaran 6,86 persen dan nilai tukar rupiah di sekitar Rp16.995 per dolar AS, meskipun tekanan eksternal masih tinggi. Kondisi ini memperkuat indikasi ruang penurunan suku bunga domestik semakin terbatas.
Eskalasi konflik global yang mengganggu pasokan energi, termasuk di Selat Hormuz, dinilai berpotensi menjadi guncangan besar bagi ekonomi global dan meningkatkan volatilitas pasar. Indonesia pun dinilai rentan mengingat ketergantungan pada mitra dagang utama yang juga terdampak.
Sejalan dengan itu, Mirae Asset merevisi proyeksi makro ke arah lebih defensif, dengan pertumbuhan ekonomi diperkirakan di kisaran lima persen dalam dua tahun ke depan, disertai nilai tukar yang masih relatif lemah dan suku bunga yang cenderung bertahan tinggi.
Rully menambahkan koordinasi kebijakan yang belum sepenuhnya sinkron turut meningkatkan sensitivitas pasar. “Dalam kondisi saat ini, persepsi pasar terhadap konsistensi kebijakan menjadi sangat krusial karena dapat memengaruhi volatilitas dalam jangka pendek,” tutupnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
