Media Asuransi, JAKARTA – Membaca laporan keuangan mungkin terdengar teknis dan membingungkan bagi sebagian investor, terutama yang baru terjun ke dunia pasar modal. Namun, memahami laporan ini sangat penting agar investor dapat mengambil keputusan berbasis data, bukan sekadar spekulasi.
PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) yang berkomitmen mendukung literasi keuangan khususnya di pasar modal Indonesia mendorong investor untuk membangun kebiasaan berinvestasi berbasis data, bukan sekadar mengikuti tren pasar. Memahami laporan keuangan adalah langkah awal menuju pengambilan keputusan investasi yang lebih rasional dan berkelanjutan.
|Baca juga: Ternyata Ini 5 Alasan Gen Z dan Milenial Tertarik Investasi Emas
Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas, Teddy Wishadi mengatakan bahwa laporan keuangan adalah cerminan kondisi perusahaan seperti sehat atau tidaknya, tumbuh atau stagnan, efisien atau boros. Dengan memahami struktur laporan keuangan dan tahu apa yang harus dianalisis, investor bisa lebih percaya diri dalam menentukan pilihan investasi.
|Baca juga: BNI Sekuritas Pecahkan Rekor MURI
“Sebelum menganalisis, investor perlu memahami tiga laporan keuangan utama perusahaan publik yaitu laporan laba rugi yang menunjukkan pendapatan dan keuntungan, neraca keuangan yang menggambarkan aset serta kewajiban, dan laporan arus kas yang memantau aliran uang dari operasional, investasi, dan pendanaan,” jelasnya dalam keterangan resmi dikutip, Sabtu, 30 Agustus 2025.
Menurutnya, ketiga laporan ini saling melengkapi dan tidak dapat dianalisis secara terpisah. “Dengan mempelajari seluruh komponen laporan keuangan, kita bisa mendapatkan gambaran yang utuh dan menyeluruh tentang kondisi finansial sebuah perusahaan,” ungkap Teddy.
|Baca juga: OJK Sebut Jabar Jadi Wilayah Paling Banyak Kasus Investasi Ilegal dan Pinjol, Kenapa?
Berikut panduan untuk menganalisis laporan keuangan perusahaan, terutama bagi investor pemula:
Pertama, Laporan Laba Rugi – Apakah Perusahaan Untung? Lihat apakah pendapatan naik setiap tahun. Periksa juga margin laba (selisih antara pendapatan dan biaya). Jika biaya operasional terlalu tinggi, itu bisa jadi tanda masalah.
Kedua, Neraca Keuangan – Seberapa Kuat Kondisi Finansialnya? Cek aset (yang dimiliki) dan utang (yang harus dibayar). Perusahaan yang sehat biasanya punya aset lebih besar dari utangnya, dan nilai ekuitas yang terus naik.
Ketiga, Laporan Arus Kas – Apakah Bisnis Benar-Benar Menghasilkan Uang? Laba besar belum tentu berarti uang tunai masuk. Pastikan arus kas dari operasional positif. Cek juga apakah perusahaan sedang berinvestasi atau justru berutang.
Keempat, Rasio Keuangan – Biar Analisis Lebih Tajam. Gunakan rasio untuk bantu menilai:
Likuiditas: kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek, Profitabilitas: seberapa besar perusahaan menghasilkan laba dari usahanya, Solvabilitas (Utang): seberapa besar ketergantungan perusahaan pada pembiayaan utang, dan Efisiensi: seberapa optimal perusahaan menggunakan aset untuk menghasilkan pendapatan.
“Memahami laporan keuangan bukan hanya untuk investor profesional. Siapa pun bisa melakukannya dengan pendekatan yang tepat dan pemahaman dasar. Alih-alih mengikuti tren pasar atau rekomendasi tanpa riset, membaca laporan keuangan memberi investor kendali dan kepercayaan diri dalam membuat keputusan,” jelas Teddy.
Editor: Achmad Aris
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News