Media Asuransi, JAKARTA – Sejumlah katalis negatif muncul hampir bersamaan, membebani sentimen pasar. Meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong harga minyak Brent di atas US$110 per barel, level tertinggi sejak tahun 2022. Kondisi itu menghidupkan kembali kekhawatiran tentang tekanan inflasi dan ketahanan pertumbuhan ekonomi global.
Pada saat yang sama, Fitch mengikuti Moody’s dalam merevisi prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Di samping itu, implikasi kebijakan pengungkapan kepemilikan yang melebihi satu persen tetap menjadi tekanan pasar, karena pelaku pasar mengevaluasi dampaknya secara lebih menyeluruh.
Dikutip dari Spring Flash yang diterbitkan PT Eastspring Investments Indonesia, dengan liburan Idul Fitri yang kian dekat, selera investor domestik terhadap aset berisiko cenderung menurun, mendorong sebagian pelaku pasar untuk menyesuaikan posisi mereka di tengah ketidakpastian yang terus berlanjut.
|Baca juga: Eastsprings Investments: MSCI Overhang Masih Menekan Pergerakan Pasar Saham
Dalam perdagangan Senin hari ini, pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan, dengan IHSG turun sekitar -3,49 persen atau -264,62 poin ke posisi 7.321,07. Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penekan indeks, dengan saham BBRI (-2,45 persen), BYAN (-6,86 persen), TLKM (-4,08 persen), BMRI (-3,41 persen), dan BREN (-4,53 persen) turun paling dalam.
Kekhawatiran tentang potensi percepatan inflasi juga menekan pasar obligasi di kawasan Asia. Pasar obligasi Indonesia turut mengalami pelemahan di seluruh tenor, dengan imbal hasil SBN tenor lima tahun naik 15 bps (basis points) ke level 6,12 persen dan imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke 6,70 persen dari 6,61 persen.
Sementara itu, nilai tukar rupiah kembali tertekan karena dolar AS menguat di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven. Rupiah telah melemah 0,36 persen ke level Rp16.986 per dolar AS hingga siang ini.
Di Asia, pasar saham mengalami koreksi tajam, dengan indeks saham Korea Selatan Kospi turun sekitar -7,68 persen dan Jepang Nikkei turun -7,03 persen. Sementara itu, indeks futures di AS dan Eropa juga melemah, menunjukkan bahwa tekanan jual berpotensi menyebar ke pasar lainnya karena investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Moody’s Effect Dorong Sikap Hati-hati Investor
Selama akhir pekan, pasar dikejutkan oleh laporan serangan terhadap depot minyak Iran, yang semakin memperburuk esklasi konflik geopolitik. Selain itu, terdapat laporan penurunan produksi di beberapa negara penghasil minyak, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait dan beberapa negara lainnya, di tengah kendala transportasi dan kapasitas penyimpanan minyak yang terbatas.
“Dinamika harga minyak diperkirakan masih akan fluktuatif, mengingat konflik yang terjadi belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi. Selama harga minyak tetap tinggi, sentimen pasar keuangan berpotensi tertekan karena besarnya pengaruh harga energi terhadap kondisi ekonomi dan stabilitas pasar keuangan,” tulis Eastspring Investments.
Di tengah volatilitas pasar yang meningkat tajam, investor disarankan untuk menjaga disiplin investasi dan menghindari keputusan reaktif berdasarkan fluktuasi jangka pendek. Episode volatilitas yang tinggi sering kali mencerminkan fase penyesuaian pasar terhadap berbagai ketidakpastian global, sehingga fluktuasi harga yang tajam menjadi tak terhindarkan.
Dalam kondisi seperti itu, pendekatan yang lebih bijaksana adalah tetap fokus pada fundamental, menjaga diversifikasi portofolio dan mempertahankan likuiditas yang memadai untuk mengantisipasi peluang ketika volatilitas mereda.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
