Media Asuransi, JAKARTA – Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa pasar modal adalah gerbang depan ekonomi yang paling sensitif. Dia ibaratkan pasar modal sebagai bendungan besar yang mengairi dunia usaha, sebagaimana sejarah membuktikan peran modal publik dalam membesarkan raksasa industri seperti First Media hingga Gojek.
Menurut dia, pengalaman First Media yang mendapatkan lisensi dari Menteri Penerangan era Orde Baru hingga akhirnya masuk ke pasar modal dan membangun jaringan kabel di seluruh Indonesia menjadi bukti nyata bagaimana pasar modal mampu mengairi bisnis hingga memiliki jutaan klien.
|Baca juga: IHSG Diguncang MSCI, Rektor Paramadina: Mengisyaratkan Pasar Modal Kita Sakit
“Pasar modal adalah koneksi modal keuangan terutama dengan pasar keuangan global. Dia seperti bendungan, begitu juga dengan APBN dan Dana Pensiun, maka pasar modal juga sebuah bendungan yang amat besar yang bisa mengairi banyak bisnis,” ujar Prof. Didik dalam diskusi panel bertajuk “Prospek dan Arah Pasar Modal Indonesia Pasca MSCI dan Moody’s”, Rabu, 18 Februari 2026.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memaparkan bahwa rilis MSCI muncul di saat yang kritis, di saat portofolio investasi Indonesia mencatat angka negatif sebesar US$14 miliar pada periode 2025 hingga kuartal III/2026, sebuah fenomena yang jarang terjadi. Kondisi ini menyebabkan dana asing ragu untuk masuk, sementara arus keluar modal domestik (outflow) justru semakin meningkat.
“Keriuhan di pasar modal sebetulnya hanya puncak gunung es dari persoalan yang lebih besar di bawahnya. Ketika sektor pasar modal bermasalah, maka hampir bisa dipastikan bahwa sektor lain lebih bermasalah,” jelas Wijayanto.
Dia juga menyoroti penurunan outlook dari Moody’s pada 5 Februari lalu akibat adanya sovereign selling. Dia tekankan bahwa fokus Moody’s dan MSCI terletak pada buruknya tata kelola (governance), risiko fiskal, serta kebijakan yang sulit diprediksi.
Menurut Wijayanto, peringatan ini sebenarnya sudah dinarasikan sejak beberapa tahun lalu namun kurang mendapat respons. “Pembelajarannya adalah, hendaknya sebelum diingatkan oleh lembaga asing, maka ada baiknya mendengar para ekonom kita yang sejak jauh hari sudah menyampaikan pandangannya,” tambahnya.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
