Media Asuransi, JAKARTA – Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto menyebutkan dalam jangka panjang konsistensi kebijakan dan kepastian arah ekonomi akan memperkuat kepercayaan investor. Kondisi itu diharapkan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa terus menguat di masa mendatang.
Dari sisi sektoral, ia menambahkan, penguatan IHSG sejak awal tahun didorong saham-saham komoditas dan pertambangan seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS, dengan potensi berlanjut seiring penguatan harga komoditas, khususnya emas, di tengah ketidakpastian geopolitik.
Selain komoditas, masih kata Rully, sektor telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi juga berpotensi menjadi pendorong IHSG. Kondisi itu didukung oleh pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan investasi jaringan yang berkelanjutan.
“Dengan kombinasi tren pasar yang positif, prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, serta potensi keselarasan kebijakan moneter dan fiskal, Mirae Asset tetap bullish dan optimistis terhadap kinerja pasar saham Indonesia sepanjang 2026,” kata Rully, dikutip dari keterangan tertulisnya, Rabu, 14 Januari 2026.
Sedangkan dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 5,3 persen pada 2026 dibandingkan dengan sekitar 5,1 persen pada 2025. Momentum ini akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan fiskal dalam mendorong belanja produktif dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
|Baca juga: Profil Budi Tampubolon, Dirut IFG Life yang Resmi Mengakhiri Masa Jabatannya per Januari 2026
|Baca juga: DBS Beberkan Rekomendasi Investasi untuk Optimalkan Cuan di Kuartal I/2026, Berikut Rinciannya!
“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG (di level) 10.500. Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” jelasnya.
Adapun Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai prospek pasar saham Indonesia pada 2026 tetap konstruktif dengan target IHSG di level 10.500. Hal itu didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta potensi kebijakan yang lebih akomodatif.
Rully menjelaskan IHSG menunjukkan tren positif sejak awal 2026, melanjutkan momentum dari tahun sebelumnya. Pada Januari, IHSG bahkan mencatatkan rekor tertinggi dengan penutupan di level 8.944,8 pada Rabu, 7 Januari 2026.
“Menariknya, penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang masih lemah,” ujar Rully.
Selain itu, tekanan eksternal juga masih membayangi pasar keuangan domestik. Sentimen risk-off global mendorong penguatan indeks Dollar AS (DXY), yang berdampak pada depresiasi nilai tukar rupiah. Rupiah bahkan pertama kalinya ditutup di atas level 16.800 per dollar AS sejak April 2025.
Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas. Kombinasi inflasi yang tinggi dan depresiasi rupiah menyebabkan Bank Indonesia memiliki ruang yang sangat sempit untuk menurunkan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20–21 Januari 2026.
“Dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” pungkas Rully.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
