1
1

OJK Catat Nilai AUM Melonjak 23,46% Jadi Rp1.033,81 Triliun di 2025

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Inarno Djajadi. | Foto: OJK

Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja positif yang berkelanjutan di sektor pasar modal, pengelolaan investasi, pasar derivatif keuangan, hingga bursa karbon sepanjang 2025. Penguatan tersebut tercermin dari pertumbuhan aset kelolaan, peningkatan jumlah investor, serta solidnya aktivitas penghimpunan dana oleh korporasi.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengungkapkan di industri pengelolaan investasi, nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.033,81 triliun per akhir Desember 2025. Capaian tersebut naik 3,08 persen secara bulanan (mtm) dan 23,46 persen secara tahunan (yoy).

“Adapun Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana pada periode yang sama mencapai Rp675,32 triliun, tumbuh 4,80 persen mtm atau 35,26 persen yoy,” kata Inarno, dalam RDKB OJK, dikutip dari keterangannya, Senin, 12 Januari 2026.

Kinerja positif NAB tersebut didukung oleh net subscription investor reksa dana yang kuat, masing-masing sebesar Rp23,91 triliun secara mtm dan Rp138,69 triliun secara yoy. Dari sisi basis investor, Inarno menyampaikan, pada Desember 2025 terdapat penambahan 694 ribu investor baru di pasar modal domestik.

“Dengan demikian, secara tahunan jumlah investor pasar modal meningkat 5,49 juta menjadi 20,36 juta investor, atau tumbuh 36,95 persen,” jelasnya.

|Baca juga: Bappenas: Kebijakan Fiskal Kunci Dorong Pertumbuhan Ekonomi Sesuai Arah RPJMN 2025–2029

Pada aspek penghimpunan dana, kinerja korporasi di pasar modal juga menunjukkan capaian positif. Target realisasi penghimpunan dana 2025 sebesar Rp220 triliun berhasil terlampaui. Sepanjang 2025, total nilai penawaran umum tercatat mencapai Rp274,80 triliun, termasuk kontribusi dari 20 emiten baru yang menghimpun dana sebesar Rp16,21 triliun.

“Adapun pada pipeline, terdapat 29 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif Rp22,28 triliun,” kata Inarno.

Sementara penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) terus berkembang. Pada Desember 2025 tercatat 27 efek baru dengan nilai dana dihimpun sebesar Rp44,18 miliar, serta melibatkan 12 penerbit baru. Secara agregat, hingga akhir Desember 2025 telah tercatat 978 penerbitan efek dari 585 penerbit dengan partisipasi 191.981 pemodal.

|Baca juga: Saham Asuransi Bintang (ASBI) Bergejolak, Manajemen Ungkap Fakta Ini!

|Baca juga: Saham Malacca Trust Wuwungan Insurance (MTWI) Bergejolak, Manajemen Buka Suara!

|Baca juga: Profil Budi Tampubolon, Dirut IFG Life yang Resmi Mengakhiri Masa Jabatannya per Januari 2026

Di pasar derivatif keuangan, sejak 10 Januari hingga akhir 2025, terdapat 113 pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip dari OJK.

Persetujuan tersebut mencakup empat penyelenggara pasar berjangka, 23 pedagang penyelenggara Sistem Perdagangan Alternatif (SPA), 63 pialang berjangka, 15 bank penyimpanan marjin, enam penasihat berjangka, satu asosiasi, dan satu lembaga sertifikasi profesi.

“Volume transaksi selama Desember 2025 mencapai 61.613 lot, sehingga secara yoy total volume transaksi tercatat sebanyak 1.013.294 lot,” ujarnya.

Lebih lanjut, di bursa karbon, sejak diluncurkan pada 26 September 2023 hingga 30 Desember 2025, tercatat 150 pengguna jasa yang telah terdaftar. Pada Desember 2025, volume transaksi bertambah 190.264 tCO2e, sehingga total volume transaksi mencapai 1.811.933 tCO2e, dengan akumulasi nilai transaksi mencapai Rp87,00 miliar.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Investor Ritel Domestik Kian Aktif, IHSG Catat Rekor Tertinggi 24 Kali di 2025!
Next Post OJK: Piutang Pembiayaan Multifinance Tembus Rp506 Triliun hingga November 2025

Member Login

or