Media Asuransi, JAKARTA – Aksi jual berlanjut memasuki hari kedua, dengan IHSG sempat mengalami trading halt selama 30 menit, tak lama setelah pembukaan perdagangan. Kekhawatiran terhadap skenario terburuk berupa potensi penurunan status Indonesia menjadi frontier market menjadi salah satu faktor utama yang membebani sentimen pasar.
Meski demikian, skenario tersebut masih belum menjadi base case bagi mayoritas pelaku pasar. Pada perdagangan hari sebelumnya, investor asing tercatat membukukan penjualan bersih sebesar sekitar Rp6,16 triliun. Ddalam jangka pendek, investor asing cenderung masih bersikap wait and see, menantikan kejelasan lebih lanjut seiring mendekatnya periode Mei 2026.
|Baca juga:Diversifikasi dan Income Asset di Tengah Gejolak Geopolitik pada Januari 2026
Dalam keterangan tertulis Eastspring Investments Indonesia disebutkan bahwa tekanan jual pada perdagangan hari ini kembali terjadi secara luas, mencakup saham berkapitalisasi besar, menengah, hingga kecil. Hingga penutupan sesi pertama, sejumlah saham mencatatkan koreksi terdalam dengan penurunan IHSG sebesar -5,91 persen atau -492,09 poin ke level 7.828,47. Beberapa saham yang menjadi penekan terbesar IHSG, ialah DSSA (-12,93 persen), DCII (-12,15 persen), BRMS (-13,12 persen), BBCA (-3,20 persen), dan TLKM (-5,76 persen).
Menanggapi kondisi pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyampaikan komitmennya untuk terus memperkuat kredibilitas pasar modal domestik. Sejalan dengan hal tersebut, BEI juga menegaskan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI, termasuk melalui penguatan transparansi dan kualitas data guna memastikan penyediaan informasi yang lebih akurat dan andal.
|Baca juga: IHSG Masih “Tenggelam” di Sesi I Kamis
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Keuangan RI, Purbaya Sadewa turut menyampaikan keyakinannya bahwa berbagai persyaratan MSCI (Morgan Stanley Capital Internasional) dapat dipenuhi sebelum Mei 2026, sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap persepsi jangka menengah pasar saham Indonesia.
Di sisi lain, nilai tukar Rupiah sejauh ini melemah 0,38 persen ke level Rp16.755 per dolar AS, tertekan oleh berlanjutnya arus keluar portofolio asing. Sementara itu, pasar obligasi domestik cenderung bergerak lebih terkendali, dengan imbal hasil SBN tenor lima tahun naik sebesar dua bps (basis points) ke level 5,76 persen dan SBN tenor 10 tahun meningkat satu bps ke 6,38 persen.
“Saat ini kami terus memantau dinamika pasar serta pergerakan arus dana di pasar saham yang masih berada dalam tekanan. Keluarnya dana pasif serta aktivitas repositioning investor yang berorientasi pada indeks acuan dapat menyebabkan peningkatan sensitivitas perdagangan di pasar saham untuk sementara waktu,” tulis Eastspring Investments Indonesia.
Ditambahkan, meskipun kondisi ini relatif menantang, secara fundamental kinerja masing-masing emiten pada dasarnya tetap terjaga. Oleh karena itu, volatilitas yang terjadi berpotensi menciptakan peluang investasi yang menarik seiring dengan mulai stabilnya pasar.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
