Media Asuransi, JAKARTA – Manajemen PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) akhirnya memberikan klarifikasi resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait teka-teki rencana Voluntary Tender Offer (VTO) yang dilakukan oleh PT Karya Pacific Investama (KPI) yang sempat memicu spekulasi di pasar modal.
Mengutip keterbukaan informasi, Rabu, 14 Januari 2026, perusahaan menegaskan masuknya KPI merupakan langkah strategis untuk memperkuat lini bisnis logistik dan batu bara, meskipun hingga saat ini status pengendalian perusahaan masih berada di tangan PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT).
“Berdasarkan informasi yang diterima perseroan dari BHIT selaku pengendali saat ini, sebagai bagian dari upaya BHIT untuk menemukan mitra strategis yang tepat untuk mendukung kegiatan bisnis IATA, BHIT menggandeng KPI yang memiliki bidang dan kegiatan usaha yang dapat bersinergi dengan kegiatan usaha dari perseroan,” ujar manajemen perseroan.
Pihak IATA menjelaskan sinergi ini sangat krusial mengingat KPI memiliki rekam jejak yang mumpuni selama 15 tahun di sektor perkapalan dan logistik batu bara.
|Baca juga: DBS Beberkan Rekomendasi Investasi untuk Optimalkan Cuan di Kuartal I/2026, Berikut Rinciannya!
|Baca juga: OJK Ungkap Perkembangan Spin-Off Asuransi, 6 UUS Tengah Berproses!
|Baca juga: IHSG Diramal Menguat Hari Ini, MNC Sekuritas Sarankan 4 Saham Berikut!
Namun, manajemen menepis isu adanya pergantian pengendali dari BHIT ke KPI, karena hingga saat ini tidak ada informasi resmi maupun perjanjian jual beli saham yang mengubah struktur kekuasaan di dalam tubuh emiten tambang tersebut.
Terkait jadwal aksi korporasi tersebut, IATA membeberkan, pernyataan penawaran tender sukarela ini diperkirakan menjadi efektif pada 3 Februari 2026. Setelah itu, periode penawaran bagi para pemegang saham akan berlangsung mulai 5 Februari hingga 6 Maret 2026, dengan tanggal pembayaran yang dijadwalkan jatuh pada 13 Maret 2026.
Manajemen juga memberikan jawaban tegas mengenai tudingan inkonsistensi keterbukaan informasi menyusul lonjakan harga saham IATA yang sempat menyentuh angka Rp185 per lembar pada awal Januari.
Mereka berdalih pada saat koordinasi terakhir di Desember 2025, belum ada pembahasan resmi mengenai rencana tender offer tersebut karena aksi itu murni merupakan inisiatif dari pihak KPI, bukan dari internal emiten.
“Informasi yang disampaikan oleh perseroan sudah sesuai dengan surat yang telah disampaikan tersebut,” pungkas manajemen.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
