Media Asuransi, JAKARTA – Memasuki 2026, pasar kripto diperkirakan masih berada dalam fase transisi antara tekanan makroekonomi global dan potensi pertumbuhan jangka menengah yang semakin kuat. Dinamika suku bunga global, arus institusional, serta perilaku investor jangka panjang akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pasar kripto sepanjang 2026.
Menurut Analisis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, Bitcoin sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026 berada di area support struktural yang sangat penting. “Bitcoin mampu bertahan di atas US$80.000 pada penutupan bulanan, yang secara historis menjadi zona stabilisasi harga. Namun, tekanan masih terlihat dari sisi likuiditas dan sentimen global,” jelasnya dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat, 2 Januari 2026.
|Baca juga: Pasar Kripto Terkoreksi Jelang Libur Natal
Data on-chain menunjukkan adanya sinyal yang saling bertolak belakang. Coinbase Premium Index, indikator permintaan institusional dari Amerika Serikat, tercatat berada di zona negatif
dalam waktu yang cukup panjang. Kondisi ini menandakan tekanan jual dari investor AS masih berlangsung dan menjadi faktor utama tertahannya pergerakan harga Bitcoin di bawah level US$90.000. Fyqieh menilai, selama premi Coinbase belum kembali positif secara konsisten, pasar masih berpotensi mengalami fluktuasi dan koreksi terbatas.
|Baca juga: Seppalga Ahmad Mundur dari Posisi Komisaris Independen Danareksa
Di sisi lain, tekanan jual mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Arus keluar dari ETF Bitcoin Spot memang masih terjadi, namun volumenya terus menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. “Ini mengindikasikan bahwa tekanan distribusi tidak lagi sekuat sebelumnya. Dalam beberapa siklus historis, kondisi seperti ini sering menjadi fase transisi menuju konsolidasi yang lebih sehat,” ujarnya.
Fyqieh juga mencermati pergerakan pemegang Bitcoin jangka panjang yang mulai kembali kefase akumulasi. Data CryptoQuant mencatat adanya pergeseran lebih dari 10.000 BTC ke status kepemilikan jangka panjang pada akhir 2025. Hal ini memperkuat pandangan bahwa tekanan jual struktural mulai berkurang, meskipun volatilitas jangka pendek masih sulit dihindari.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
