1
🇮🇩 Indonesia
🇬🇧 English
🇨🇳 中文 (简体)
🇯🇵 日本語
🇰🇷 한국어
🇸🇦 العربية
🇲🇾 Melayu
🇹🇭 ภาษาไทย
🇻🇳 Tiếng Việt
1

Allianz Indonesia: Kasus Penyakit Kritis Meningkat di Kalangan Usia di Bawah 45 Tahun

Ilustrasi. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Chief Product Officer Allianz Life Indonesia Cheang Khai Au menyatakan Allianz Indonesia melihat adanya tren peningkatan penyakit kritis terutama di kalangan generasi muda di bawah 45 tahun. Kondisi ini patut diperhatikan dan diwaspadai serta diantisipasi sebaik mungkin oleh generasi tersebut.

|Baca juga: NPL Perbankan Membaik, Pengamat: Dampaknya terhadap Asuransi Kredit Tidak Instan!

“Kami memastikan kalau dari waktu ke waktu kami meninjau produk dan mengkonfirmasi kalau produk tersebut (asuransi kesehatan dan penyakit kritis) tetap relevan dengan pasar saat ini khususnya untuk segmen nasabah muda yang terus berkembang,” katanya, dikutip dari wawancaranya di salah satu TV swasta, Senin, 6 April 2026.

Head of Product Marketing & Development Allianz Life Syariah Indonesia Rina Triana mencatat total klaim penyakit kritis sepanjang 2025 sebesar Rp600 miliar. Klaim tersebut dengan jumlah kasus sebanyak 2.600 hanya dalam setahun pada tahun lalu.

|Baca juga: Siloam International Hospitals (SILO) Cetak Laba Bersih Rp1,16 Triliun di 2025

 Baca juga: Penempatan Investasi Industri Asuransi di Emas Masih Kecil, Begini Respons Bos AAUI!

“Jadi kita cuma bicara tentang penyakit kritis saja, sampai 2025, kita telah membayarkan (klaim) sebesar Rp600 miliar dengan 2.600 kasus dalam satu tahun,” kata Rina.

Rina mengakui penyakit kritis sudah semakin banyak kejadiannya. Bahkan, dirinya membeberkan fakta dan data bahwa dari 2.600 kasus tersebut sebanyak 67 persen disumbangkan oleh penyakit kritis. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan dan perlu ada upaya mengantisipasi dan memproteksi.

|Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Terbitkan Global Bond Pertama di Asia Tenggara di Tengah Ketegangan Geopolitik

|Baca juga: Terpilih Kembali Jadi Ketua AAUI, Begini Arah Kebijakan Budi Herawan di Periode 2026-2030

“Nah yang mengejutkan adalah pertama, dari 2.600 kasus itu 67 persen itu terjadi penyakit kritisnya dari tiga penyakit kritis. Jantung, kanker, dan stroke. (Ketiga penyakit ritis) itu sudah berkontribusi 67 persen di 2.600 kasus,” tukasnya.

Fakta dan data kedua, dari sekitar 40 persen dari total 2.600 kasus tersebut terjadi di usia di bawah 45 tahun. Kondisi ini mengartikan penyakit kritis juga berisiko kepada mereka yang masih muda, dan tidak hanya berlaku bagi mereka yang sudah tua.

|Baca juga: Visa: Kepercayaan Konsumen Jadi Aset Strategis dalam Ekosistem E‑Commerce Indonesia

|Baca juga: Tok! Budi Herawan Terpilih Kembali Jadi Ketua Umum AAUI Periode 2026-2030

“Jadi kita menyadari yang namanya muda itu tidak berarti kebal terhadap penyakit kritis. Karena penyakit kritis sudah tidak lagi menunggu usia lanjut. Itu satu hal yang nyata yang benar-benar semakin waktu ini semakin mendatangi usia yang muda,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post OJK Sebut Potensi Ekonomi Syariah di Indonesia Besar, tapi Belum Maksimal
Next Post Spin-off Bukanlah Hukuman

Member Login

or