Media Asuransi, JAKARTA – Ramadan memiliki cerita unik, baik saat proses sahur ataupun saat buka puasa di sore hari. Hiruk-pikuk berburu takjil, misalnya, menjadi ritual yang tak terpisahkan dari bulan puasa. Menu-menu khas takjil seperti kolak pisang, es buah, hingga gorengan menjadi buruan peserta Takjil War setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
|Baca juga: Studi Populix: Takjil Bukan Sekadar Self-Reward
Mereka yang berpuasa ingin memanjakan diri saat berbuka. Namun, pernahkah terlintas di pikiran mereka bahwa harga satu porsi takjil favorit sebenarnya bisa menjadi pintu masuk ke dunia investasi?
Dikutip dari blog investasi Samuel Aset Manajemen, dikatakan, dulu investasi mungkin dianggap sebagai “permainan” orang bermodal besar. Namun sekarang, stigma itu sudah luntur. Modal kecil bukan lagi penghalang untuk mulai membangun aset masa depan.
Perjalanan investasi tidak selalu dimulai dari angka jutaan. Perencanaan keuangan yang baik justru sering kali lahir dari konsistensi dan kesabaran. Kedua nilai yang persis sedang kita jalankan selama berpuasa. Ini bukan sekadar perumpamaan. Faktanya, memulai investasi saat ini bisa dilakukan dengan nominal yang hampir sama dengan segelas es buah di pinggir jalan.
|Baca juga: Inilah Strategi Portofolio Reksa Dana Obligasi Versi MAMI
Puasa melatih kita untuk disiplin dan menahan diri. Mengapa tidak menerapkan prinsip yang sama pada keuangan? Bayangkan jika selama 30 hari Ramadan, Anda melakukan ilustrasi sederhana ini:
| Menu Takjil | Perkiraan Harga | Jika Disisihkan untuk Investasi | Ilustrasi Dana Terkumpul
Selama 30 hari |
| Kolak pisang | Rp10.000 | Rp10.000 per hari | Rp300.000 |
| Es buah / es teler | Rp12.000 – Rp15.000 | Rp10.000 – Rp15.000 per hari | Rp300.000 – Rp450.000 |
| Gorengan + minuman | Rp10.000 – Rp15.000 | Rp10.000 – Rp15.000 per hari | Rp300.000 – Rp450.000 |
| Takjil lengkap (2–3 jenis) | Rp20.000 – Rp30.000 | Rp20.000 – Rp30.000 per hari | Rp600.000 – Rp900.000 |
Ilustrasi Pengeluaran Takjil vs Potensi Dana Awal Investasi
Ilustrasi di atas hanya menunjukkan contoh akumulasi dana jika seseorang menyisihkan uang secara rutin setiap hari selama Ramadan. Nilai tersebut bukan merupakan proyeksi keuntungan investasi atau jaminan imbal hasil.
Contoh: Tetap nikmati takjil, tapi sisihkan Rp10.000 ekstra setiap hari. Dalam 30 hari akan terkumpul dana: Rp10.000 x 30 hari = Rp300.000.
Jumlah Rp300.000 ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi saldo awal portofolio investasi Anda. Bayangkan jika kebiasaan ini berlanjut bahkan setelah Lebaran usai.
Mengapa Reksa Dana Cocok untuk Memulai Investasi di Pasar Modal?
Bagi kamu yang baru ingin mencicipi dunia investasi, Reksa Dana menawarkan beberapa kemudahan yang sejalan dengan semangat efisiensi:
|Baca juga: 5 Tips dari OCBC untuk Mengelola THR dengan Bijak
Dikelola Profesional: Dana Anda tidak dikelola sendirian, melainkan oleh Manajer Investasi yang berpengalaman dalam menganalisis pasar.
Diversifikasi Otomatis: Sesuai prinsip “don’t put your eggs in one basket,” dana Anda akan disebar ke berbagai instrumen (seperti pasar uang, obligasi, atau saham) untuk memitigasi risiko.
Likuiditas & Transparansi: Anda bisa memantau perkembangan nilai investasi kapan saja melalui laporan resmi (Fund Fact Sheet) yang disediakan secara berkala.
Tahu gak? Saat ini, banyak produk Reksa Dana yang sudah bisa dibeli mulai dari Rp10.000 saja melalui berbagai aplikasi investasi yang berizin dan diawasi oleh OJK. Salah satu aplikasi yang bisa kamu gunakan untuk berinvestasi reksa dana adalah aplikasi ReksadanaSAM yang dibuat dan dikelola oleh Samuel Aset Manajemen.
Editor: Irdiya Setiawan
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
