1
1

Kapan Waktu Terbaik Beli Saham? Ini Kunci Jawabannya                                                                                      

Seorang pengunjung sedang memperhatikan pergerakan saham di Main Hall Bursa Efek Indonesia. | Foto: Media Asuransi/Arief Wahyudi

Media Asuransi, JAKARTA – Saat ini kondisi pasar saham Indonesia dan juga global sedang mengalami fase bearish atau kondisi jual dalam skala besar. Penyebabnya adalah kondisi geopolitik yang tidak kondusif , yaitu perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

|Baca juga: Pemerintah Akan Sisihkan Rp80 Triliun Antisipasi Dampak Perang Timur Tengah

Harga minyak, komoditas paling banyak digunakan di seluruh dunia untuk bahan bakar kendaraan, industri rumah tangga dan industri manufaktur, melambung tinggi akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Sementara jalur perdagangan tersebut digunakan untuk lalu lintas suplai minyak dari negara-negara Timur Tengah. Melambungnya harga minyak akan memicu resesi ekonomi global.

Salah satu pertanyaan paling sering ditanyakan oleh investor pemula adalah apakah sekarang waktunya tepat untuk membeli saham? Pertanyaan kapan waktu terbaik untuk membeli saham sering dilontarkan investor saham, terutama investor pemula. Pertanyaan ini wajar karena timing dalam membeli saham dapat memengaruhi potensi keuntungan maupun risiko kerugian.

|Baca juga: Perang Timur Tengah Picu Tekanan Global, BI Siapkan Jurus Stabilkan Rupiah

Jawabannya tidak sesederhana “beli saat murah, jual saat mahal.” Untuk bisa tepat mengambil keputusan, investor perlu memahami kondisi pasar, analisis saham, hingga strategi pribadi.

Dikutip dari blog investasi BRI Danareksa Sekuritas, disebutkan faktor Penentu Waktu Terbaik Membeli Saham

  1. Kondisi Pasar Secara Umum

Pasar saham biasanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi makro, seperti inflasi, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi.

Saat ekonomi stabil, saham cenderung bergerak naik. Saat ada gejolak ekonomi, harga saham bisa terkoreksi sehingga menjadi peluang beli bagi investor jangka panjang.

  1. Saat Saham Mengalami Koreksi Sehat

Koreksi adalah penurunan harga sementara setelah saham naik cukup tinggi. Koreksi sehat biasanya terjadi sekitar 5–10% dari harga puncak. Kondisi ini bisa jadi momentum yang baik untuk masuk, terutama pada saham dengan fundamental kuat.

|Baca juga: Iran Tutup Pintu Negosiasi, IHSG Kembali Tertekan

  1. Setelah Rilis Laporan Keuangan Positif

Jika perusahaan melaporkan kinerja keuangan yang solid, biasanya harga saham akan merespons positif. Membeli setelah rilis laporan yang baik bisa menjadi langkah cerdas untuk menangkap momentum pertumbuhan.

  1. Saat Ada Sinyal Teknis yang Kuat

Bagi trader, analisis teknikal menjadi acuan utama. Misalnya:

–          Harga menembus level resistance.

–          Indikator RSI menunjukkan saham sudah oversold.

–          Pola candlestick memberi sinyal pembalikan arah.

|Baca juga: Gejolak Iran-Israel Bikin Deg-degan! OJK Beberkan Risikonya ke Sektor Keuangan RI

  1. Saat Ada Sentimen Positif Industri atau Perusahaan

Saham dari sektor tertentu biasanya menguat karena didukung sentimen industri, seperti kenaikan harga komoditas, regulasi baru yang menguntungkan, atau inovasi teknologi dari emiten terkait.

 

Strategi Menentukan Waktu yang Tepat

  1. Dollar Cost Averaging (DCA)

Alih-alih menunggu waktu terbaik, investor bisa membeli saham secara rutin dengan jumlah tertentu setiap bulan. Strategi ini membantu mengurangi risiko salah timing dan menjaga disiplin berinvestasi.

  1. Fokus pada Jangka Panjang

Investor jangka panjang sebaiknya tidak terlalu fokus pada fluktuasi harian. Yang lebih penting adalah memilih saham dengan fundamental kuat, lalu konsisten menambah kepemilikan saat ada peluang harga murah.

  1. Jangan Ikut-Ikutan

Kesalahan umum investor pemula adalah membeli saham hanya karena ikut-ikutan tren atau ajakan orang lain. Pastikan keputusan investasi berdasarkan analisis dan tujuan finansial pribadi.

Editor: Irdiya Setiawan 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Mana yang Lebih Baik, Asuransi Pendidikan atau Tabungan Pendidikan?
Next Post 5 Saham Ini Cocok Dikoleksi Saat Resesi

Member Login

or