1
1

Perdagangan Saham Sempat Dihentikan, IHSG Ditutup Memerah

Investor sedang mengamati pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia Jakarta beberapa waktu lalu. | Foto: Media Asuransi/Lucky

Media Asuransi, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, ditutup anjlok dalam usai Morgan Stanley Capital International menerapkan pembekuan perubahan indeks sementara terhadap pasar modal Indonesia.

 |Baca juga: Kepercayaan Investor Global Goyah, IHSG Terperosok Dalam

IHSG tergerus 7,35 persen atau anjlok 659,67 poin ke 8.320,55 pada akhir perdagangan Rabu. Akibat penurunan  tajam ini, BEI sempat menghentikan sementara perdagangan atau trading halt lantaran penurunan IHSG sempat mencapai 8 persen.

Sebanyak 37 saham naik, 753 saham turun dan 16 saham stagnan. Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 60,44 miliar saham dengan total nilai Rp44,93 triliun.

Sebelumnya, MSCI mengumumkan hasil konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia pada Selasa, 27 Januari 2026. Dalam pengumuman tersebut, MSCI mencatat masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia, meskipun terdapat perbaikan data free float yang disampaikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

 |Baca juga: Pengumuman MSCI Disebut Picu Penurunan Tajam Pasar Saham Domestik

MSCI menyebut sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai sumber data tambahan. Namun, banyak investor menilai kategorisasi pemegang saham dalam data KSEI belum cukup kuat untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi secara menyeluruh.

Isu utama yang disoroti MSCI adalah keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi perdagangan terkoordinasi yang berisiko mengganggu pembentukan harga wajar.

Dalam keterangan tertulis Eastspring Investments Indonesia disebutkan bahwa risiko yang perlu dicermati adalah apabila Indonesia gagal memenuhi kriteria tersebut, yang berpotensi memicu penurunan klasifikasi dari emerging market menjadi frontier market, dan pada akhirnya dapat mendorong arus keluar dana asing dalam skala signifikan.

Tekanan ini tidak hanya berdampak pada saham-saham yang secara langsung terkait dengan indeks MSCI, tetapi juga meluas ke saham-saham grup konglomerasi yang selama ini menjadi bagian dari fenomena ‘MSCI game’.

Editor: Irdiya Setiawan

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Pengumuman MSCI Disebut Picu Penurunan Tajam Pasar Saham Domestik
Next Post MR.D.I.Y. Indonesia Catat Penguatan Tren Belanja Rumah Tangga di 2025

Member Login

or