Media Asuransi, JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada pekan ketiga Januari 2026, cukup stabil. Berdasar kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia (BI) menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah secara periodik.
Perkembangan Nilai Tukar 19-23 Januari 2026
|Baca juga: Dinamika Global Masih Berlanjut, BI Siapkan Banyak Jurus untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Pada akhir hari Kamis, 22 Januari 2026
- Rupiah ditutup pada level (bid) Rp16.880 per dolar AS.
- Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun naik ke 6,32 persen.
- DXY melemah ke level 98,36.
- Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke 4,245 persen.
DXY atau Indeks Dolar adalah indeks yang menunjukkan pergerakan dolar terhadap enam mata uang negara utama lainnya (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF).
UST atau US Treasury Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.
Pada pagi hari Jumat, 23 Januari 2026
- Rupiah dibuka pada level (bid) Rp16.850 per dolar AS.
- Yield SBN 10 tahun stabil di 6,33 persen.
|Baca juga: Tekanan Global Meningkat, BI Gerak Cepat Intensifkan Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah!
Aliran Modal Asing (Minggu III Januari 2026)
- Premi CDS Indonesia lima tahun per 22 Januari 2026 sebesar 73,28 bps (basis points), naik dibanding dengan 15 Januari 2026 sebesar 70,86 bps.
- Berdasar data transaksi 19-22 Januari 2026, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp5,96 triliun, terdiri dari jual neto sebesar Rp2,67 triliun di pasar saham, Rp1,44 triliun di pasar SBN, dan Rp1,85 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
- Selama tahun 2026, berdasarkan data setelmen sampai dengan 22 Januari 2026, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp8,02 triliun di pasar saham dan Rp1,89 triliun di pasar SBN, serta jual neto sebesar Rp2,67 triliun di SRBI.
“Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait, serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi yang dikutip Senin, 26 Januari 2026.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
