Oleh Satria Mahardika*
Dalam beberapa waktu terakhir, semakin sering kasus dimulai dari cuaca ekstrem. Curah hujan tinggi hingga badai lokal, kejadian tersebut bukan sekadar insidental. Kejadian tersebut merupakan bagian dari risiko harian dimulai dari pelabuhan yang tergenang, aktivitas bongkar/muat yang terlambat, hingga tongkang yang terlepas dari tambatan.
Meningkatnya klaim ke asuransi merupakan kejadian yang menarik dan sebagian besar kejadian tersebut justru berulang dengan pola yang sama. Sebagai praktisi surveyor klaim dan risk engineer, saya melihat bahwa perubahan cuaca telah menggeser karakter risiko tersebut. Cuaca buruk tidak lagi terbatas pada waktu tertentu atau lokasi tertentu.
Risiko yang muncul jarang berjalan sendiri. Kerusakan kapal atau fasilitas sering diikuti gangguan operasional perusahaan maupun kapal, keterlambatan pengiriman, hingga klaim business interruption. Dalam berbagai kasus klaim, nilai kerugian yang tidak diperkirakan justru lebih besar dibandingkan kerusakan kapal.
Risk engineer sering kali dianggap sebatas melakukan inspeksi dan menyusun laporan kepada perusahaan, padahal seharusnya lebih strategis. Risk engineer berada di posisi unik: memahami kondisi teknis kapal dan pelabuhan, sekaligus memahami implikasinya terhadap risiko asuransi.
Saat menilai risiko banjir di fasilitas maritim seperti pelabuhan, perhatian sering tertuju pada hal-hal yang tampak sederhana namun krusial. Elevasi area, sistem drainase, dan lokasi peralatan kelistrikan selalu menjadi titik lemah. Genangan yang dianggap ringan berujung pada kerusakan panel listrik atau sistem kontrol, yang kemudian menghentikan operasi lebih lama.
Kasus yang sering saya tangani pada tongkang, kesiapan tambat menjadi isu penting. Banyak kejadian drifting atau collision bukan disebabkan cuaca ekstrem, melainkan oleh sistem tambat yang tidak disiapkan secara baik untuk menghadapi cuaca yang sebenarnya sudah dapat diprediksi sebelumnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa nilai utama risk engineering bukan hanya fokus kepada identifikasi risiko, tetapi pada pencegahan. Rekomendasi sederhana seperti penempatan ulang peralatan, penyesuaian prosedur tambat saat cuaca ekstrem seperti hujan yang tidak henti-henti, atau peningkatan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem sering kali mampu menurunkan potensi kerugian.
Tantangan utamanya adalah rekomendasi risk engineer tidak selalu langsung diimplementasikan. Pertimbangan biaya perusahaan dan fokus jangka pendek, kerap menjadi penghambat. Padahal, jika dibandingkan dengan besarnya klaim akibat cuaca ekstrem, biaya pencegahan relatif jauh lebih kecil.
Dalam kondisi cuaca yang semakin tidak menentu, saya percaya risk engineer maritim perlu dipandang sebagai investasi, bukan sekadar peran tambahan. Industri asuransi tidak lagi cukup hanya mentransfer risiko, tetapi perlu mengelolanya secara aktif.
Cuaca ekstrem mungkin tidak dapat dikendalikan, namun dengan pendekatan risk engineering yang tepat, dampaknya dapat diturunkan sebelum berubah menjadi klaim yang lebih besar.
*Penulis adalah Risk Engineer & Analys, PT Tugu Reasuransi Indonesia.
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
