Oleh: Azuarini Diah P. MM, CWMA* dan Dr Shine Pintor S. Patiro., ST, MM**
Industri asuransi umum di Indonesia menghadapi berbagai tantangan struktural dan kompetitif dalam upayanya mempertahankan dan memperluas pangsa pasar. Meski pertumbuhan premi relatif positif, dinamika pasar menunjukkan adanya tekanan dari sisi klaim yang meningkat, pertumbuhan premi yang tidak merata antar lini usaha, tantangan digitalisasi, serta perubahan preferensi konsumen.
Industri asuransi umum merupakan komponen penting dalam sistem keuangan Indonesia. Selain berfungsi sebagai mekanisme proteksi risiko, sektor ini juga berperan dalam pengelolaan dana dan stabilitas pasar finansial. Pangsa pasar industri asuransi merupakan indikator kunci kondisi dan daya saing perusahaan. Kemampuan suatu perusahaan asuransi dalam menjaga dan memperluas pangsa pasar dipengaruhi oleh sejumlah faktor internal dan eksternal.
Pertumbuhan Premi dan Kenaikan Klaim
Dalam beberapa tahun terakhir, industri asuransi umum di Indonesia mencatat pertumbuhan premi yang positif, meski tidak selalu signifikan di semua periode. Menurut data dari Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), premi tercatat sebesar Rp112,86 triliun pada tahun 2024, meningkat sekitar 8,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, klaim dibayar juga mengalami kenaikan 8,5 persen, yang menunjukkan tekanan terhadap profitabilitas industry (Bisnis Finansial)
Selain itu, struktur pangsa pasar antarlini usaha menunjukkan dominasi pada lini usaha tertentu. Misalnya, lini usaha asuransi properti, asuransi kendaraan bermotor, dan asuransi kredit masih menjadi kontributor utama terhadap total premi industri. Dalam laporan 2023, ketiga lini usaha tersebut menyumbang sekitar 65,8 persen dari total premi industri asuransi umum (Kompas Money). Sementara itu, lini usaha lain seperti asuransi kesehatan dan rekayasa juga turut memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan premi, meskipun dalam proporsi yang lebih kecil.
Meski angka pertumbuhan premi terlihat positif pada 2024, tren di 2025 menunjukkan tantangan baru. Pada kuartal pertama tahun 2025, total premi bruto industri hanya tumbuh tipis sebesar 0,3 persen, yang mencerminkan tekanan ekonomi makro dan tantangan dalam mempertahankan laju pertumbuhan premi.
Pertumbuhan premi yang seimbang dengan pertumbuhan klaim menunjukkan adanya tekanan pada neraca underwriting perusahaan. Kenaikan klaim yang signifikan pada beberapa lini usaha seperti asuransi properti dan kendaraan bermotor menuntut perusahaan menyesuaikan harga premi dan strategi underwriting mereka. Tekanan seperti ini berpotensi mengurangi margin keuntungan dan mempengaruhi kemampuan kompetitif perusahaan dalam menawarkan produk yang menarik bagi nasabah.
Risiko eksternal seperti bencana alam, peningkatan frekuensi klaim, dan perubahan pola risiko mendorong perusahaan asuransi umum untuk memperkuat praktik underwriting mereka dan memanfaatkan strategi reasuransi secara efektif untuk menjaga stabilitas finansial jangka panjang.
Tantangan Eksternal
Perubahan perilaku konsumen turut menjadi isu penting dalam meningkatkan pangsa pasar asuransi umum. Kesadaran terhadap pentingnya proteksi risiko meningkat pascapandemi Covid-19, tetapi pengetahuan dan literasi masyarakat tentang manfaat dan mekanisme asuransi masih relatif rendah. Hal ini mendorong kebutuhan edukasi pasar dan pendekatan komunikasi yang lebih efektif dari perusahaan asuransi untuk memperluas basis nasabah mereka.
Selain itu, pergeseran preferensi konsumen ke layanan digital dan proses klaim yang lebih cepat dan transparan membuat perusahaan yang lambat dalam mengadopsi teknologi berisiko kehilangan pangsa pasar kepada pemain yang lebih inovatif.
Transformasi digital menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan asuransi umum untuk mempertahankan relevansi di pasar. Pengembangan kanal digital dalam pemasaran produk, proses underwriting otomatis, pelayanan pelanggan berbasis aplikasi, hingga klaim digital adalah aspek-aspek yang semakin menjadi harapan konsumen masa kini.
Teknologi juga berperan dalam pengelolaan data besar (big data) untuk analisis risiko dan perancangan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Namun, investasi teknologi ini membutuhkan biaya besar serta kompetensi SDM yang memadai, sehingga perusahaan dengan kapasitas finansial dan manajerial kuat akan lebih unggul dalam kompetisi pasar.
Regulasi
Regulasi dari otoritas berwenang, seperti yang diterapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memengaruhi struktur operasional dan pangsa pasar perusahaan asuransi umum. Regulasi terkait risk-based capital (RBC) bertujuan menjaga kesehatan finansial perusahaan dengan menetapkan standar modal minimum berdasarkan profil risiko. Data OJK menunjukkan industri asuransi umum memiliki RBC yang relatif sehat di atas ambang batas minimum 120 persen, menunjukkan solvabilitas yang kuat meskipun tantangan pasar tetap ada (AAJI)
Regulasi yang ketat memberi tekanan pada perusahaan kecil dengan modal terbatas, dan memicu konsolidasi industri. Di sisi lain, perusahaan besar dengan struktur permodalan kuat akan mendapatkan keuntungan kompetitif dalam ekspansi pasar.
Berbagai isu yang dihadapi industri asuransi umum Indonesia menunjukkan bahwa perusahaan perlu menerapkan strategi yang adaptif dan inovatif dalam menghadapi dinamika pasar. Strategi tersebut mencakup peningkatan kualitas underwriting, diversifikasi produk, optimalisasi kanal distribusi (termasuk digital), serta edukasi konsumen untuk meningkatkan literasi asuransi.
Perusahaan yang mampu mengintegrasikan aspek teknologi, manajemen risiko, dan pendekatan pemasaran yang responsif lebih berpeluang untuk mempertahankan dan memperluas pangsa pasar di era yang semakin kompetitif ini.
Isu-isu utama yang memengaruhi kemampuan perusahaan asuransi umum Indonesia dalam menjaga dan memperluas pangsa pasar meliputi: pertama, pertumbuhan premi yang tidak merata antar lini usaha dan tekanan klaim yang meningkat. Kedua, perubahan perilaku konsumen dan kebutuhan akan digitalisasi layanan. Ketiga, tantangan underwriting akibat risiko eksternal seperti bencana dan tren klaim. Keempat, kebutuhan investasi teknologi dan peningkatan kompetensi SDM. Kelima, regulasi yang menuntut kesehatan finansial perusahaan dengan standar modal yang tinggi.
Penerapan strategi adaptif yang memperhatikan aspek di atas adalah kunci untuk memperkuat posisi kompetitif perusahaan asuransi umum di pasar Indonesia.
Keterangan penulis:
*Ketua Umum Komunitas Penulis Asuransi Indonesia ( KUPASI )
**Dosen Magister Manajemen Universitas Terbuka
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
