1
1

Industri Pembiayaan Tahun Ini Alami Tekanan Berat

Paparan oleh Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, dalam Indonesia Economic & Insurance Outlook 2026 Media Asuransi, Senin, 22 Desember 2025, di kawasan Jakarta Selatan. | Foto: Media Asuransi/Arief Wahyudi

Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, mengungkapkan bahwa industri pembiayaan nasional menghadapi tekanan yang cukup berat sepanjang tahun 2025. Hingga September 2025, pertumbuhan industri pembiayaan tercatat mengalami perlambatan tajam dan mendekati kondisi kontraksi terdalam sejak pandemi Covid-19.

“Industri pembiayaan secara pertumbuhan mengalami kontraksi yang sangat dalam. Artinya mungkin setelah Covid-19 2020, kita minus 18 persen, di tahun 2025 ini entah kita mungkin akan tumbuh hanya sekitar satu plus persen saja,” ungkap Suwandi dalam acara Indonesia Economic & Insurance Outlook 2026 Media Asuransi, di Wisma Tugu I, Jl. HR Rasuna Said, kawasan Jakarta Selatan, Senin, 22 Desember 2025.

Dari sisi aset, Suwandi menjelaskan bahwa total aset industri pembiayaan hingga September 2025 tercatat sebesar Rp587 triliun, atau hanya tumbuh 0,74 persen secara tahunan (year on year/yoy). Bahkan, pada Oktober 2025 pertumbuhan aset sempat melambat menjadi 0,68 persen (yoy) sebelum kembali menunjukkan perbaikan pada November.

|Baca juga: Ketua DAI Tekankan Pentingnya Outlook untuk Antisipasi Risiko Industri Asuransi

“Ini pertumbuhan kita, tapi perlu diketahui bahwa perusahaan pembiayaan (terus berkurang), dari 203 perusahaan di 2013, kini tinggal 145 perusahaan,” sebutnya.

Ia juga menyoroti struktur pendanaan industri pembiayaan yang sebagian besar masih tercatat dalam neraca (on balance sheet), mengingat sebanyak 31 perusahaan pembiayaan dimiliki oleh perbankan. Namun, apabila memperhitungkan pendanaan off balance sheet, nilainya dinilai jauh lebih besar dan secara agregat dapat mencapai sekitar Rp1.800 triliun.

Dari sisi permodalan, Suwandi menilai kondisi industri pembiayaan masih relatif solid. Hingga September 2025, ekuitas industri pembiayaan tercatat sebesar Rp173,5 triliun atau tumbuh 5,29 persen (yoy). Meski demikian, ia menilai potensi laba industri seharusnya masih dapat lebih optimal.

|Baca juga: Media Asuransi Konsisten Adakan Economic and Insurance Outlook 

Berdasarkan jenis pembiayaan, pembiayaan investasi yang mayoritas terkait dengan alat berat tercatat sebesar Rp169,2 triliun hingga September 2025, atau turun tipis 0,04 persen (yoy). Suwandi menilai segmen ini relatif lebih aman dari sisi risiko pembiayaan.

“Pembiayaan investasi adalah pembiayaan yang berhubungan dengan alat berat. kalau mau bawa kabur juga susah, bertonton beratnya, dan kebanyakan juga tidak ada fidusia karena ini kontraknya leasing, kalau leasing itu adalah sewa pembiayaan, jadi kalau tidak bayar sewa ya kita tarik,” ungkap Suwandi.

Sementara itu, pembiayaan multiguna yang didominasi oleh kendaraan bermotor dan mobil tercatat mengalami penurunan. Hingga September 2025, nilai pembiayaan multiguna tercatat sebesar Rp253,2 triliun atau turun 0,8 persen (yoy).

|Baca juga: OJK: Asuransi Stabilitator Ekonomi Jangka Panjang

Di tengah perlambatan tersebut, pembiayaan modal kerja atau refinancing justru menjadi segmen dengan pertumbuhan tertinggi. Hingga September 2025, pembiayaan modal kerja tercatat sebesar Rp53,2 triliun atau tumbuh 10,6 persen (yoy), mencerminkan kebutuhan likuiditas pelaku usaha yang masih cukup tinggi.

Selain itu, pembiayaan berbasis syariah juga menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Hingga September 2025, pembiayaan syariah tercatat sebesar Rp29,8 triliun atau tumbuh 7,8 persen (yoy). “Pembiayaan syariah meningkat, karena sekarang kita sadar lebih baik kita ke syariah,” jelas Suwandi.

Sejalan dengan perubahan strategi bisnis tersebut, Suwandi menegaskan bahwa perusahaan pembiayaan saat ini menerapkan prinsip kehati-hatian yang lebih ketat dalam penyaluran pembiayaan.

Editor: Irdiya Setiawan 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Media Asuransi Konsisten Adakan Economic and Insurance Outlook 
Next Post AASI Ungkap Isu yang Melanda Asuransi Syariah di 2025, Apa Saja?

Member Login

or