Media Asuransi, TANGERANG SELATAN – PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) atau BFI Finance membukukan penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp21,9 triliun pada 2025 atau naik 9,3 persen dibandingkan dengan periode sepanjang 2024.
BFI Finance mampu menjaga pertumbuhan total aset di 2025 sebesar 1,4 persen dibandingkan dengan nilainya di 2024 menjadi Rp25,5 triliun. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan piutang dikelola (managed receivables) sebesar 8,9 persen secara tahun ke tahun (yoy) dengan capaian nilai Rp26,3 triliun.
|Baca juga: AAUI: Konflik Timur Tengah akan Memengaruhi Underwriting hingga Penyesuaian Premi Asuransi
|Baca juga: Konflik Geopolitik Diperkirakan Picu Kelumpuhan Rantai Pasokan Global
“Kami dapat membuktikan resiliensi bisnis dengan permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang manageable,” ujar Presiden Direktur BFI Finance Sutadi, dalam keterangan resminya, Jumat, 6 Maret 2026.
Melalui ragam layanan pembiayaan, BFI Finance konsisten mendukung aktivitas ekonomi pada berbagai segmen konsumen, mulai dari kebutuhan individu, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), hingga kebutuhan skala bisnis besar.
Hingga Desember 2025, komposisi piutang dikelola didominasi oleh pembiayaan produktif, yakni modal kerja sebesar 57,3 persen dan investasi sebesar 17,6 persen. Sementara piutang pembiayaan yang disalurkan untuk tujuan multiguna tercatat memiliki porsi sebesar 22,0 persen dan pembiayaan berbasis syariah sebesar 3,1 persen.
|Baca juga: Bank Neo Commerce (BBYB) Resmi Masuk Indeks Economic 30 BEI
|Baca juga: Pengamat Sebut Asuransi Maritim, Pesawat, hingga Perjalanan akan Terhantam Keras Perang AS-Israel vs Iran
Untuk income statement, BFI Finance menorehkan total pendapatan senilai Rp6,7 triliun selama 2025 atau meningkat sebesar 6,5 persen dibandingkan dengan 2024. Perusahaan juga mencatatkan kinerja yang stabil dengan profitabilitas tercatat sebesar 1,0 persen yoy, menjadi Rp1,581 triliun.
Terlepas dari upaya peningkatan performa, BFIN masih mampu mengelola risikonya dengan baik di bawah dua persen di mana Non-Performing Financing (NPF) per 31 Desember 2025 di level bruto 1,39 persen dan neto 0,22 persen.
|Baca juga: Allianz Syariah Sarankan Punya 2 Proteksi Sekaligus: Kesehatan dan Penyakit Kritis
Menurut data OJK per Desember 2025, posisi NPF tersebut lebih rendah dibandingkan dengan NPF rata-rata industri yang berada di level bruto 2,51 persen dan neto 0,77 persen. Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) masing-masing tercatat 7,9 persen dan 14,8 persen. Sedangkan gearing ratio terpantau sebesar 1,3 kali.
“Melalui pengelolaan manajemen risiko yang cermat untuk menjaga kualitas aset, BFI Finance mampu mempertahankan stabilitas kinerja sekaligus mempertahankan posisi keuangan yang solid sebagai fondasi untuk pertumbuhan di masa depan,” kata Sutadi.
Sementara pada 2025, perusahaan telah menyelesaikan pembagian dividen dengan total nilai Rp902 miliar untuk tahun buku 2024, serta membagikan dividen tunai interim untuk tahun buku 2025 pada 18 Desember sebesar Rp35 per lembar saham atau setara Rp520 miliar.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
