1
1

BI Waspadai Arus Dana Asing yang Mulai Kabur dari Indonesia Imbas Perang AS-Israel vs Iran

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. | Foto: Bank Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyebutkan tekanan terhadap ekonomi Indonesia meningkat seiring lonjakan harga minyak dunia dan berbaliknya arus modal asing keluar dari pasar domestik. Kondisi ini dipicu eskalasi konflik geopolitik global, khususnya perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan situasi global saat ini kian tidak kondusif akibat kombinasi konflik geopolitik dan kebijakan perdagangan antarnegara yang saling berbalasan.

“Kondisinya semakin memburuk di tengah ada kebijakan tarif resiprokal, ada perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang kemudian kita sudah banyak tahu berdampak kepada ekonomi dan keuangan global baik jalur komoditas, finansial maupun perdagangan,” ujar Perry, di Jakarta, Rabu, 8 April 2026.

|Baca juga: Konflik Timur Tengah Hantam Rantai Pasok dan Biaya Operasional, Industri Asuransi Siaga Penuh!

|Baca juga: BI: 2025 Tahun sulit, tapi Ekonomi RI Tetap Tumbuh 5,11%

Dampak paling cepat terlihat pada sektor komoditas, terutama energi. BI mencatat harga minyak dunia mengalami lonjakan tajam disertai pergerakan yang fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir, seiring terganggunya rantai pasok global.

“Bagaimana harga minyak minyak yang meroket sejak Februari ke Maret bahkan kemarin pernah (US$)122,95 dan itu terus naik turun, naik turun, naik turun. Harga emas yang selama 2025 meningkat dan juga masih tinggi, itulah dampak pertama,” jelas Perry, dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR.

Kenaikan harga energi tersebut berisiko menambah beban fiskal pemerintah, khususnya dari sisi subsidi energi, sekaligus mendorong kenaikan inflasi di dalam negeri.

Selain dari komoditas, tekanan juga datang dari sektor keuangan global. BI mencermati kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang meningkat tajam seiring membengkaknya defisit fiskal negara tersebut.

“Tapi dengan adanya perang minyak, perang di Timur Tengah ini kemudian dua-duanya meningkat pesat, karena apa? Karena kenaikan defisit fiskal Amerika Serikat termasuk untuk anggaran perang,” ujar Perry.

|Baca juga: Dana Pensiun Mulai Terapkan Life Cycle Fund, OJK Soroti Tantangan Berikut!

|Baca juga: SMBC Indonesia (BTPN) Umumkan Pengunduran Diri Ninik Herlani dari Kursi Komisaris

|Baca juga: Jajaran Direksi CIMB Niaga (BNGA) Kompak Borong Saham Perusahaan, Apa Tujuannya?

Kenaikan yield tersebut membuat aset keuangan berbasis US$ menjadi lebih menarik bagi investor global. Kondisi ini berdampak langsung pada pergeseran aliran modal dari negara berkembang ke pasar keuangan global.

“Kemudian kenaikan harga obligasi pemerintah Amerika berdampak kepada portfolio inflow maupun dampak yang lain,” ucapnya.

BI mencatat, tren aliran modal asing yang sebelumnya masih menunjukkan kecenderungan masuk meski berfluktuasi, kini berbalik arah menjadi arus keluar yang signifikan.

“Portofolio inflow-nya itu yang tahun lalu itu volatilitas tapi ada tren naik, tapi sejak tahun ini ada terjadi outflow yang besar dari emerging market ke pasar keuangan dunia baik dalam bentuk obligasi saham maupun yang lain,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Perlindungan Investor Dinilai Masih Lemah, Indonesia SIPF Minta Dasar Hukum Ditingkatkan Jadi UU
Next Post BI Bakal Setor Sisa Surplus Rp40 Triliun ke Pemerintah, Ini Rinciannya!

Member Login

or