Media Asuransi, JAKARTA – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI Hery Gunardi menyoroti meningkatnya fragmentasi ekonomi global dan fenomena weaponization of trade yang berpotensi memicu guncangan rantai pasok di berbagai sektor bisnis di Asia dan Indonesia.
Ia menegaskan kondisi tersebut menuntut pelaku industri jasa keuangan, termasuk industri asuransi, untuk melakukan repricing risiko secara lebih struktural dan berbasis analisis yang lebih mendalam.
Menurut Hery, dalam konteks asuransi, pemahaman terhadap risiko harus semakin spesifik dan terukur. Salah satu instrumen yang relevan adalah asuransi parametrik, yang menyesuaikan perlindungan berdasarkan parameter tertentu seperti cuaca, curah hujan, atau potensi bencana.
|Baca juga: Dewan Ekonomi Nasional Sebut Ketidakpastian Global Takkan Mereda, Bagaimana Nasib RI?
“Kita mengenal asuransi parametrik, misalnya, asuransi untuk petani, sawah, dan lain sebagainya. Itu perusahaan asuransi harus melihat risiko parametrik. Kemudian mungkin bisa lebih granular lagi melihat risiko geografis,” ujar Hery, dalam webinar bertema ‘Economic Outlook 2026‘ yang digelar OJK Institute, Kamis, 19 Februari 2026.
Hery menjelaskan pendekatan penetapan premi asuransi parametrik tidak dapat disamaratakan antara satu wilayah ke wilayah lain. Perbedaan tingkat risiko antarwilayah maupun antarsegmen usaha harus tercermin dalam struktur premi asuransi.
“Jadi antara satu daerah dan daerah yang lain preminya tidak bisa one size fits all. Karena daerah yang memang berpotensi itu bisa kerusakannya tinggi karena bencana dan sebagainya, mungkin asuransi perlu menaikkan penetapan harganya,” katanya.
|Baca juga: Siasat J&T Express Hadapi Lonjakan Pengiriman Selama Ramadan 2026
|Baca juga: Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global yang Tinggi
Sebaliknya, wilayah dengan tingkat risiko relatif rendah tidak seharusnya dikenakan premi yang sama dengan daerah rawan bencana. Ia mencontohkan perbedaan risiko geografis antarwilayah di Indonesia.
“Tapi kalau daerah yang aman, misalnya, Kalimantan, mungkin tidak boleh sama dengan daerah-daerah yang memang jauh dari gempa bumi. Jadi itu memang harus dilihat secara granular risiko-risiko tadi yang terkait dengan risiko apa saja yang bisa memengaruhi,” jelasnya.
Lebih jauh, Hery mengingatkan kegagalan industri asuransi dalam membaca risiko secara tepat dapat berdampak serius terhadap kesehatan keuangan perusahaan. Lonjakan klaim akibat salah kalkulasi risiko dapat menggerus permodalan.
“Karena asuransi kalau tidak bisa membaca itu, klaimnya akan tinggi, bisa habis modalnya,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
